Showing posts with label Iseng. Show all posts
Showing posts with label Iseng. Show all posts

15/03/2015

Anak Filsafat


Ooh lama tak berdiskusi dalam tulisan, mari mulai lagi. Manusia modern mengalami kesulitan hubungan dengan yang namanya waktu. Benar kata Paman Ali ibn Thalib, waktu adalah pedang. Lebih berbahaya dari ‘waktu adalah uang’nya orang-orang barat. Uang bisa kehilangan yang kita cari kalau kerja katanya, tapi pedang itu bisa membuat pincang yang lain. Dewasa ini saya mulai kehilangan waktu untuk mempertanyakan segala hal. Mungkin kalau yang kenal saya langsung, suka aneh dengan pola pikir saya, kadang-kadang menanyakan kenapa ini dan itu yang dikira tak perlu. Padahal ini mah wajar saja, mempertanyakan segala hal.

Saya belajar sifat itu dari anak kecil, dan saya mengingat lagi masa-masa saya kecil. Anak kecil itu filosof paling hebat. Mereka lebih dalam daripada Om Plato dan Galileo. Galileo menanyakan tata surya, anak kecil juga. Anak kecil bahkan mempertanyakan Tuhan. Mereka selalu menanyakan segala hal, yang kata orang dewasa mungkin buat apa dipertanyakan. Orang-orang dewasa justru terlalu banyak yang belajar filsafat, bukan berfilsafat. Saat kita mengutip tokoh-tokohnya, hapal segala ajarannya, mengerti konsepsi epistemologi, ontologi, definisi, itu belajar filsafat namanya. Saat kita mempertanyakan suatu hal, merumuskan dasar suatu hal, menjelaskan suatu hal, itu berfilsafat. Anak-anak melakukan itu semua, mereka berfilsafat.
Emang filsafat itu penting ?
Manusia dewasa terlalu gengsi untuk menanyakan hal-hal tersebut, takut terlihat bodoh. Padahal kata buku tulis kosong juga “People become fool when they stop asking questions”. Mungkin kita lupa dengan kata-kata di buku tulis itu. Kita tidak terbiasa menulis pemikiran di buku waktu sekolah. Kita terbiasa menghapalkan sesuatu, tidak ada sintesis dalam pelajarannya. Anak-anak justru sebaliknya, berpikir polos. Layaknya buku tulis tersebut yang kosong dan perlu diisi, mereka bertanya. Kita terlalu banyak melewatkan waktu tanpa berpikir, padahal Al-Quran justru menganjurkan kita berfikir, bertafakur, mencari ilmu. Kita fokus ilmu hanya di kurikulum, bangku kuliah dan sekolah. Tidak lagi percaya ilmu kehidupan.

Proses kreatif yang luar biasa bisa ditemui di anak-anak. Suatu proses kreatif mungkin dikenal fase divergen dan konvergen. Orang-orang ‘tua’ / dewasa cenderung berfikir konvergen, terpusat. Tidak ada ide-ide baru, karena sudah pernah mengalami hambatan dan teknik-teknik yang biasa dipakai memecahkan masalah. Namun anak-anak yang ‘muda’, cenderung divergen. Mereka belum mengenal banyak hal, sehingga belum ada kata ‘tetapi’ dalam kamus kreatifnya. Kadang-kadang hal tersebut yang membuat sebuah inovasi hadir. Pola pikir baru dari masalah lama yang kita geser pijakan pandangnya. Lihatlah anak-anak gambar laut warnanya pink, padahal kan biru ? Ah gak juga, justru mereka mempertanyakan konsep warna biru kita itu darimana ?

Duh, tulisan saya kok jadi kaku dan berat gini sekarang. Sudah bukan menulis untuk mendengar perasaan pemikiran lagi ini kalau begitu. Lebih baik disudahi saja, sebelum ini jadi makalah atau esai. Nanti bisa ikut konferensi kalau begitu. Salam :)
Read More

21/01/2014

Aktualisasi Diri Dalam Prasasti

Sesaat Anda membaca kalimat ini, 700 post FB telah ditulis, 600 Tweet dan post Tumblr tertulis, serta 34.000 pencarian Google dilakukan. Manusia bumi menulis suatu hal dan menyimpannya dalam dunia maya dipertontonkan pada berjuta pasang mata potensial, bersama jutaan tulisan lainnya saling berebut hak baca para penguntit maya. Menulis adalah perilaku manusia untuk mengabadikan ide dan hal-hal mengenai dirinya. Baik itu luapan emosi, pemikiran dan aspirasi. Sejak kecil kita diajari untuk menulis, selain membaca dan berhitung. Namun saya sendiri kehilangan sentuhan menulis tangan, karena jemari saya lebih akrab pada tuts keyboard dibanding memeluk erat pena. Apakah menulis hanya sekedar mengkodifikasi pemikiran dalam jerat aksara ? Atau menulis adalah sebuah kebutuhan manusia ?

Dalam teori hierarki Maslow, manusia memiliki tingkatan dalam kebutuhan pribadinya. Tingkat kebutuhan ini dapat kita amati pada bentuk tulisan yang berkeliaran sepanjang mata memandang layar di dunia maya.
Dua tingkatan terbawah,tidak kita telusuri. Mulai dari tingkatan ketiga, jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan akan pertemanan. Tapi tidak berhenti disitu, orang butuh dihargai dan diakui. Maka pada tingkatan keempat harga diri, orang mulai menulis di jejaring sosial, blog, tumblr, komentar dll, untuk mendapat pengakuan dan rasa percaya diri. Kadangkala juga dalam bentuk curhat, karena di titik itu orang ingin mendapat perhatian atau membuang perasaan. Pada tingkatan kelima, aktualisasi diri, tulisan berwujud pada bentuk 'karya kreativitas'. Tidak hanya sekedar curhat dan mendapat pengakuan, tapi mengaktualisasikan diri dalam karya. Ya, itu pemetaan kebutuhan manusia menulis di masa-masa ini. Meskipun tingkat 4 dan 5, sering bolak-balik saja.

Sungguh sangat mudah sekali menulis pada zaman ini. Teringat dulu saya masih baca koran, internet belum masuk dalam kotak 'warung'. Seorang menulis di koran, menulis buku, menerbitkan kumpulan tulisan adalah sebuah kemewahan dalam aktualisasi diri. Saat mesin cetak ditemukan, koran dan buku adalah 'gadget' yang mencuri perhatian pada masanya. Manusia hanyut dalam tulisan dan keinginan menulis untuk dibaca. Tarik lagi ke belakang, saat manusia menemukan kertas, itu sangat mempermudah media tulis, tidak lagi di pelepah daun atau kulit hewan. Orang yang dapat menulis pun, dikategorikan memiliki barang mewah, karena sumber daya yang sulit didapat sebagai media tulis.

Bahkan pada era Mpu Panuluh, Mpu Prapanca dkk, menulis pada serat daun jati adalah ensiklopedia dan novel terlaris pada masanya. Terus ke belakang, Mulawarman bersaudara bahkan menulis kenangan hidupnya pada sebuah batu, yang kita sebut prasasti. Sungguh, untuk ngeksis saja zaman dahulu sulit sekali. Harus mencari batu dan digrafir di atasnya. Sedangkan pada peradaban Firaun unta mesir, aksara masih berbentuk gambar. Mereka ingin diakui dengan membuat Piramida dan diisi tulisan didalamnya. Padahal isinya mungkin cuma resep membuat balsam dan cerita romansa cleopatra cs. Leluhurnya, Homo Erectus mungkin mengawali bioskop rumahan pada gambar di goa-goa. Mereka sebenarnya menulis diary hidupnya yang gagal menangkap babi hutan purba. Menulis adalah upaya komunikasi mereka (yang terdahulu) kepada kita (yang kekinian), bahwa "Gue ada lho". Selain menyampaikan ilmu dan kabar mereka untuk kita ketahui.

Bayangkan evolusi sebuah surat cinta saja. Masa ini sebuah kata-kata romantis dapat dikirimkan melalui SMS, blog dan update status untuk dapat dibaca saat itu juga oleh pujaan hati. Tetapi dahulu, harus 'disimpan' dalam tulisan yang membawa rasa melewati waktu tempuh yang tak sebentar. Bayangkan pada masa Anaxagoras mengirim surat cinta, harus dalam sebuah codex di batu. Sebait saja, sudah 1 kg, JNE pun kemahalan buat mengantarnya. Pun waktu tempuh tak sebentar. Apalagi pada masa sebelum itu, mungkin mereka hanya menitipkan rasa pada angin malam saja. Jadi yang katanya galau, LDR, coba bayangkan penderitaan mereka yang terdahulu, Anda tidak ada apa-apanya. Sebuah tulisan sederhana yang kita temui wajar adanya saat ini, adalah rangkaian evolusi kemudahan aktualisasi diri manusia. Saat ini Anda dapat dengan mudah mengaktualisasikan diri, tak perlu mahir menulis di atas batu.

Tulisan ini pun adalah wujud kebutuhan saya pada tingkat kelima. Bukan karena aktualisasi diri, tapi karena saya kurang kerjaan saja dan terlalu banyak pikiran. Salam kelingking !
Read More

12/11/2013

Menuntut Warnet


*)melemaskan pikiran dan jemari dengan menulis lagi, sudah lama tidak menulis karena tidak berani. Karena jika menulis, saya meliarkan ide saya, takut tak terkontrol..haha

Tiba-tiba saja ada ide masuk dari entah mana saat di WC. Aneh ide sekelebat itu selalu muncul dari tempat tak terduga, WC, di atas motor, saat jalan, saat main, pas sembahyang, tidak pernah muncul saat serius nyari ide. Mungkin di WC itu banyak yang 'nemenin' mikir, atau sembahyang tidak serius. Jadi ingat, dahulu zaman Zeus dipercaya di Romawi, orang pintar disebut jenius (Genius). Ini asal katanya dari 'genie', atau jin dalam bahasa kita. Jadi orang pintar itu bukan karena dirinya sendiri, tapi ada 'ilham' entah darimana yang sifatnya transenden, tak kentara, ghaib lah. Jadi ngeri kalau dapat ide, ini ilham atau bisikan setan...haha.

Jadi saya akan jadi berbicara yang tadi tidak jadi-jadi saya tuliskan, ini mengenai warnet. Sudah sebagaimana kita mafhumkan bersama dalam era internet dimana-mana, posisi dan kondisi warnet dalam taraf diujung nikmat. Mungkin di kota-kota kecil nan tidak metropolis, warnet masih jadi primadona untuk mendapatkan koneksi internet. Tapi di kota besar dan sedang, internet mudah didapatkan dari sekian banyak operator dll, jalur kabel maupun udara. Operator sinyal bertebaran, jadi rebutan bandwidth tiap pengguna. Kalau saja ada kacamata bisa melihat gelombang radio, nampaknya dunia kita ini sudah ruwet gelombang radio, televisi, operator telepon seluler, dll. Warnet yang dulu populer, dari tempat mesum, nginap malam, kerja, nugas, main dan lain-lain, kini bingung jadi tempat apa. Mungkin warnet dikhususkan jadi tempat game online, tapi nampaknya tidak bertahan lama seperti itu. Warnet juga kalah sama Cafe dan Rumah Makan, makan disana gratis wifi yang bisa bikin kita habiskan makan 2 kali, karena nunggu download 10 MB saja setengah jam.

Saya terpikirkan kenapa warnet tidak kembali ke asal kata dasarnya, Warung Internet ? Warung yang menjual jasa sedia internet, bukan dengan konsep bilik. Tetapi warung dengan konsep ruang publik, tempat kongkow, tempat ngumpul. Permasalahan utama kota besar itu tempat publik, kalau mau janjian ketemuan dimana "di mall A", "di Cafe A", kurang gitu tempat ngumpul bareng, ngobrol dll. Cafe sedia "free wifi", kenapa tidak "Iternet, free snacks" atau makanan. Kan kita ngafe itu nyari internet dan tempat ngumpul kan, makannya mah beli yang murah kan, semurah-murahnya juga di atas 10 ribu..haha. Kenapa gak dibalik ? Bayar buat wifi, gratis snack dan minum. Bayar wifi, yang seharga dengan paket yang ada, dengan internet terjamin, misal akses kabel atau wifi per titik, dengan kuota tentunya. Misal 10 ribu, dapat kuota 250 MB. Dah gede kan itu ? Apalagi kalau kecepatan stabil tidak lemot. Suasanya dibuat tempat ngumpul per meja-kursi atau apa. Sudah bukan zamannya lagi warnet tempat bilik mesum kan ? Jadi gini idenya, pelanggan datang, pesan jenis kuota, dapet tempat, akses dan password terus bonus makanan / minuman. Memang kendalanya ukuran warnet yang kecil, biasanya begitu. Ya diadaptasi bentuknya, perpustakaan kecil atau warung kopi. "Wifi, free gorengan" plus bubur kacang. Berapa sih, 5 ribuan kan biasanya ? Ya sesuaikan ukuran tempat warnet yang lama, dengan paket kuota dan cemilannya. Ukuran warnet rata-rata 4x5 m yang sering, dijadiin meja berhadap-hadapan saja. Toh orang-orang banyak punya gadget sendiri (BYOD), hanya butuh tempat ngumpul saja. Paket per kuota atau waktu bebas lah, atur sendiri saja, sudah mandiri kan.

Tentu saja pemikiran saya ini tidak bertanggung jawab, karena tidak memikirkan hal-hal lainnya. Tentu saja ini warnet untuk di daerah kota-kota besar dan sedang. Cuma menawarkan pemikiran terbalik yang sederhana "Makan, free internet" menjadi "Internet, free makan". Kebutuhan utama kita sekarang tempat ngumpul dan internet, bukan makan. Buktinya, kalau makan saja harus kirim fotonya lewat internet kan ? Mau duduk, check in dulu via internet ? Mau ngumpul, update status dulu manggilin teman-teman, lewat internet kan ? Pas mau kumpul, butuh internet buat cari info, berita, nonton video, lewat internet kan ? Pas udah ngumpul, masih ngobrol via status, google doc, dll kan ? Tapi kan sekarang internet mudah dimana-mana ada, iya. Hanya koneksinya tidak stabil di Indonesia, terus di tempat ngumpul malah tidak ada koneksi. Masih perlu dipikirkan lagi, mekanisme bayarnya, dan lain-lainnya. Karena pusing saya, itu urusanmu ya..haha
Read More

03/06/2012

Foya foya tidak apa

Haihata, saya mencoba menulis dengan 'bukan' gaya saya sebelumnya. Biasanya saya tulis yang serius, essay, puisi (kelas kacang rebus) dan teka-teki. Sekarang mulai menulis yang ringan, tapi tetap semoga mudah-mudahan dapat membagi yang saya yakini pengalaman manfaat, semoga. Oh ya maaf, tulisan saya sengaja tidak baku. Karena nilai Tata Tulis saya buruk, dan ejaan formal itu tidak terlalu penting buat disini bagi saya. Ya sudah saya mulai, setuju? Harus.

Jadi, kalian suka foya-foya? Buang-buang harta dan duit untuk membeli barang atau membeli yang sebenarnya belum jadi kebutuhan kalian? Pastilah semua orang pernah, apalagi kalau sedang mendapat rezeki lumayan banyak. Tak apa, itu manusiawi kok. Nah, saya juga termasuk kaum yang pernah dan mungkin sering foya-foya, kalau sedang ada duit. Bukan saya tidak menabung, saya tetap menabung kok, dikit-dikit. Dikit saja, tapi kalau rutin per hari. Lumayan kan. Bukan sok punya rezeki, tapi diri kita juga jangan terlalu 'kikir' dengan harta. Buat apa sih ditumpuk? Jangan jadi budak harta, dengan menyimpan dan menumpuk. Saya cukup jadi orang pas-pasan saja. Pas butuh, pas ada duit. Pas gak ada duit, pas gak butuh. Gitu aja simpel tho. Harta itu harus digunakan, dalam hal baik. Nah ini yang mau saya sebut 'foya-foya'.

Dari pengalaman saya, saya foya-foya dengan cara membeli buku. Ya kalau ada duit, ada buku menarik langsung beli. Dibaca gak? Dibacalah, tapi mungkin tidak waktu cepat. Terus buat apa beli? Hey, siapa tahu kita butuh isi dari buku itu suatu saat yang tidak kita duga. Bisa jadi hadiah buat orang, buat dibaca, buat jadi ganjelan, buat jadi diambil ilmunya.Masalah buku dengan isi didalamnya itu yang menjadi nilai lebih. Kita tidak tahu kapan waktunya isi buku itu kita gunakan. Saya pernah beli buku, gak pernah dibaca selama 2 tahun. Lalu pas saat itu, baru kepake dan pas banget. Jadi, belilah buku kapan saja ada kesempatan, hehe. Ini foya-foya pertama.

Kedua, ini yang belum saya bisa. Tapi saya ingin foya-foya dengan cara ini. Bagi-bagi rezeki ke orang lain. Bisa dengan nraktir teman, bayarin teman, infaq kotak amal (tapi jangan kelihatan orang, apalagi ditulis kayak gini, jangan), apapunlah yang membagi rezeki ke orang lain. Harta yang kita miliki ini, bukan hanya milik kita. Mau bukti? Kita dapat duit darimana, orang tua atau penghasilan pribadi. Terus untuk dapat itu, harus kerja. Untuk kerja, harus ada tenaga, harus makan. Terus makan nasi, padi darimana? Pak tani kan? Nah kita harus berterima kasih pada mereka, mungkin dengan infaq. Terus yang bawa berasnya, yang ngitungin berasnya, distribusinya, wah banyak lah. Jadi semua orang bisa terlibat, untuk kasus beras saja. Wajar, kita harus berbagi, karena kita gak hidup sendiri.

Terus kalau kalian punya duit, jangan pelitlah. Beli barang di UKM/warung, jangan Mall. Karena itu usaha rakyat. Beli di pasar tradisional, yang usaha rakyat. Kalau mall mah itu kapitalis nampaknya, ah iya bener sudah mahal lagi. Terus walaupun punya kendaraan, sempatin lah naik umum. Bukan apa apa, tapi berbagi rezeki ma supir, ma tukang ojek, tukang becak. Kasihan mereka, kalau kita semua naik kendaraan sendiri. Terus pengamen, kita kasih. Jangan recehan aja, buat dia pergi atau segera gak nyanyi. Sekali-sekali, kasih uang ribuan dan puluhan ribu, terus minta mereka nyanyi 2 lagu atau beberapa. Kalau kasih cepeceng, minta 1 album deh. Buat apa? Kita menghargai usaha mereka. Ya memang saya tidak terlalu setuju dengan peminta-minta, kalau itu saya inginnya kasih mereka alamat. Alamat kerja, jangan dikasih duit aja. Ya, harta yang kita punya ini bukan milik kita saja. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengembangkan kesejahteraan bersama. Jangan sampai perputaran uang hanya di kalangan orang-orang terlanjur kaya, tapi kita sebar lah. Jare pak Karno, ekonomi kerakyatan, ah itu dia.

Wah sudah panjang banget ini, tapi saya masih punya banyak hal yang ingin ditulis. Ah, bener nulis dengan cara ini jadi banyak, tapi gak rapih, haha sudahlah jangan protes. Saya juga gak maksa kamu baca. Semoga manfaat, kalau tidak manfaatkanlah.
Read More

09/06/2010

Doa ( Puisi Cak Nun)

Doa ( Puisi Cak Nun)
GUSTI,
seperti kapan saja
kami para hamba
tak berada di mana-mana
melainkan di hadapan Mu jua
ini sangat sederhana
tetapi kami sering lupa
sebab mengalahkan musuh-musuh Mu
yang kecil saja, kami tak kuasa

GUSTI,
inilah tawanan Mu
tak berani menengadahkan muka
mripat kami yang terbuka
telah lama menjadi buta
sebab menyia-nyiakan dirinya
dengan hanya menatap hal-hal maya

GUSTI,
cinta kami kepada Mu tak terperi
namun itu tak diketahui
oleh diri kami sendiri
maka tolong ajarilah kami
agar sanggup mengajari diri sendiri
menyebut nama Mu seribu kali sehari
karena meski hanya sehuruf saja dari Mu
takkan tertandingi

GUSTI,
kami berkumpul disini
untuk mengukur keterbatasan kami
melontarkan beratus beribu kata
seperti buih-buih
melayang-layang di udara
diisap kembali oleh Maha Telinga
sehingga tinggal jiwa kami termangu
menunggu ishlah dari Mu
agar jadi bening dan tahu malu

GUSTI,
kami pasrah sepasrah-pasrahnya
kami telanjang setelanjang-telanjangnya
kami syukuri apapun
sebab rahasia Mu agung
tak ada apa-apa yang penting
dalam hidup yang cuma sejenak ini
kecuali berlomba lari
untuk melihat telapak kaki siapa
yang paling dulu menginjak
halaman rumah Mu

GUSTI,
lihatlah
mulut kami fasih
otak kami secerdik setan
jiwa kami luwes
bersujud bagai para malaikat Mu
namun saksikan
adakah hidup kami mampu begitu ?
langkah kami yang mantap dan dungu
hasil-hasil kerja kami yang gagah dan semu
arah mata kami yang bingung dan tertipu
akan sanggupkah melunasi hutang kami
kepada kasih cinta penciptaan Mu ?

GUSTI,
masa depan kami sendiri kami bakar
namun Engkau betapa amat sabar
peradaban kami semakin hina
namun betapa Engkau bijaksana
kelakuan kami semakin nakal
namun kebesaran Mu maha kekal
nafsu kami semakin rakus
tapi betapa rahmat Mu tak putus-putus
kemanusiaan kami semakin dangkal
sehingga Engkau menjadi terlampau mahal

GUSTI,
kamilah pesakitan
di penjara yang kami bangun sendiri
kamilah narapidana
yang tak berwajah lagi
kaki dan tangan ini
kami ikat sendiri
maka hukumlah dan ampuni kami
dan jangan biarkan terlalu lama menanti

EMHA AINUN NADJIB - 1981
Read More

14/03/2009

Logika siswa sekolah

Kenapa banyak siswa yang gagal ujian???



Kalau dilihat dari logika (baca:Alasan-red.) ini,
sebenarnya bukan salah sang siswa bila ia tidak lulus
ujian, belajar pun tidak sempat....

Tahukah Anda, setahun itu hanya terdapat 365 hari?

yang kita tahu sebagai tahun akademik siswa....Kita hitung!

Hari Minggu; 52 hari dalam setahun, Anda pasti
tahu kalau hari minggu adalah untuk istirahat.

Hari tersisa tinggal 313.

Hari Libur (Nasional maupun Internasional);
Tak kurang dari 13 hari Libur setahun.

Hari tersisa tinggal 300.

Liburan sekolah; Jelas semua siswa akan berlibur
dan tidak akan belajar.
Biasanya sekitar 2 bulan lebih, anggaplah sekitar
60 hari.

Hari tersisa tinggal 240.

TIDUR 8 Jam sehari untuk kesehatan;
berarti 120 hari terpakai.

Hari tersisa tinggal 120.

Tentu kita beribadah kan? paling tidak 1-2 jam
kita beribadah, kita alokasikan 25 hari dalam setahun.

Hari tersisa tinggal 95.

BERMAIN yang juga baik untuk kesegaran dan
kesehatan, paling tidak memerlukan 1 jam sehari.
Terpakai lagi 15 hari.

Hari tersisa tinggal 80.

MAKAN! paling tidak selama satu hari kita habiskan
2 jam untuk makan/minum, hilang lagi 30 hari.

Hari tersisa tinggal 50.

Jangan lupakan, Manusia adalah makhluk sosial,
butuh berinteraksi dengan orang lain, kita ambil
1 jam perhari untuk berbicara. 15 jam terpakai lagi,

Hari tersisa tinggal 35.

Kita pun bisa sakit; paling tidak 5 hari dalam
setahun, sudah cukup mewakili.

Hari tersisa tinggal 30.

Ujian itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 2
minggu per semester,berarti, 24 hari sudah teralokasi
untuk ujian.

Hari tersisa tinggal 6.

Nonton dan jalan-jalan paling tidak 5 hari dalam
setahun.

Hari tersisa tinggal 1 hari.

Satu hari yang sisa itu kan HARI ULANG TAHUN !
"Masa' belajar sih?"
Read More

Teka - teki Einstein

Teka teki ini tidak mengandung trick, hanya murni logika.
Semoga Anda beruntung, dan jangan cepat menyerah!
Ada 5 buah rumah yang masing-masing memiliki warna berbeda.
Setiap rumah dihuni satu orang pria dengan kebangsaan yang
berbeda-beda.
Setiap penghuni menyukai satu jenis minuman terntentu,
merokok satu merk rokok tertentu dan memelihara satu jenis
hewan tertentu.
Tidak ada satupun dari kelima orang tersebut yang minum
Minuman yang sama,merokok merk rokok yang sama dan memelihara
hewan yang sama seperti penghuni yang lain.

Pertanyaannya : Siapakah yang memelihara IKAN?

Petunjuk:
Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah.
Orang Swedia memelihara anjing.
Orang Denmark senang minum teh.
Rumah berwarna hijau terletak tepat di sebelah kiri rumah berwarna putih.
Penghuni rumah berwarna hijau senang minum kopi.
Orang yang merokok PallMall memelihara burung.
Penghuni rumah yang terletak di tengah-tengah senang minum susu.
Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill.
Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama.
Orang yang merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yang memelihara kucing.
Orang yang memelihara kuda tinggal di sebelah orang yang merokok Dunhill.
Orang yang merokok Winfield senang minum bir.
Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia.
Orang Jerman merokok Rothmans.
Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.

Albert Einstein menyusun teka teki ini pada abad yang lalu.
Dia menyatakan, 98% penduduk didunia tidak mampu memecahkan
teka teki ini. Apakah anda termasuk yang 2% ?
Read More

05/02/2009

Alhamdulillah

Alhamdulillah, akhirnya saya bebas berekspresi melalui 'ini'..
Bagi kawan-kawan silakan berkomentar dan keluarkan ide-idemu kawan dimanapun anda berada..
Pemikiran kita adalah karunia sang Pencipta..
Imajinasimu adalah karunia tak ternilai, sebarkan pemikiranmu..
Bebaskan ekspresimu..

Free your Idea...!!!
Read More