Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

28/11/2014

Sibuk Nyantai


Problematika manusia abad ini adalah banyak yang dikerjakan, tapi waktu kurang. Hidup tak cukup 24x7, sudah perlu lapor RT kalau lebih dari itu. Sibuk katanya, sibuk bekerja, sibuk mengurus organisasi, sibuk kuliah, sibuk lain-lain. Ada orang kerja, lupa makan. Ada juga yang makan, lupa kerja. Itu saking sibuknya. Bayangkan Anda lagi sibuk-sibuknya kerja mengejar karir, lupa anak sudah gede saja. Berangkat pagi dari Bekasi ke Jakarta, pulang-pulang anak sudah mau S3.

Diantara kesibukan tersebut, saya pernah memiliki pengalaman yang paling sibuk. Pengalaman sewaktu dari zaman TA yang terkulminasi dalam rentetan memori kognitif meluruh seiring waktu *(halah bahasamu nak). Lazim dijumpai pada mahasiswa semester ‘yang tak perlu disebut angkanya’, ketidakjelasan sedang mengerjakan apa. Dibilang sibuk, tapi TA tak beres. Dibilang tidak sibuk, tapi katanya lagi ngerjain TA. Sebuah anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh pihak LIPI sewaktu saya konfirmasikan melalui M*tro TV atau TV On* yang kontradiktif. Ternyata stasiun TV ini memiliki standar kebenaran fakta yang berbeda. Mungkin mahasiswa tersebut sibuk mengerjakan hal lain, tapi apa ?

Hasilnya saya simpulkan, bahwa perilaku tersebut diakibatkan fenomena ‘sibuk nyantai’. Loh, nyantai kok sibuk ? Siapa bilang nyantai itu gak ada kerjaan ? Sesungguhnya dalam fasa santai itu terdapat kesibukan luar biasa nyata. Saat Anda santai, pikiran Anda tak berhenti bergerak menerawang, melamun, memikirkan fluktuasi ekonomi serta harga minyak dunia. Semata-mata menimbang berapa kenaikan beli nasi timbel di warung Bu Tatang. Saat Anda santai, Anda bisa saja main game sambil sms-an ke doi, sambil cek Facebook, sambil dengar musik, sambil makan. Bayangkan multi tasking yang Anda lakukan, sungguh diperlukan pembagian fokus yang handal.

Santai itu waktu istirahat, tapi justru lebih ‘produktif’. Bisa melakukan banyak hal, makanya santai itu juga sibuk. Saya pernah saking sibuknya santai menamatkan kitab Mahabharata dalam sehari, tidak perlu nunggu hari minggu marathon drama di A*TV. Padahal sambil TA harusnya. Prinsip pareto 80/20 ini juga berlaku pada sibuk santai. Kesibukan utama kita yang 80% itu justru kalah manfaatnya dibanding sibuk santai yang 20%. Alokasi 20% waktu itu malah membuat eskalasi pikiran yang luar biasa. Kadang-kadang, sibuk nyantai ini juga bersamaan dengan bentroknya jadwal, bentrok sama malas. Akhirnya jadwal yang lain harus mengalah.

Saya akhirnya tidak merasa ‘sibuk nyantai’ ini buruk, justru saya jadikan prinsip hidup. Disela-sela kesibukan, masih bisa Anda bawa santai. Disela-sela santai, Anda masih bisa produktif. Banyak contoh orang yang sibuk katanya, malah dia stress. Tak perlulah hal itu bray, bawa santai saja. Badai kesibukan pasti berlalu, tinggal kapal kalian hancur karena layar yang tegang atau bertahan dengan melonggar dan tahan goncangan. Jadi kalau ditanya sekarang sibuk apa ? Jawab ‘saya sibuk nyantai’. Salam sehat !
Read More

21/01/2014

Aktualisasi Diri Dalam Prasasti

Sesaat Anda membaca kalimat ini, 700 post FB telah ditulis, 600 Tweet dan post Tumblr tertulis, serta 34.000 pencarian Google dilakukan. Manusia bumi menulis suatu hal dan menyimpannya dalam dunia maya dipertontonkan pada berjuta pasang mata potensial, bersama jutaan tulisan lainnya saling berebut hak baca para penguntit maya. Menulis adalah perilaku manusia untuk mengabadikan ide dan hal-hal mengenai dirinya. Baik itu luapan emosi, pemikiran dan aspirasi. Sejak kecil kita diajari untuk menulis, selain membaca dan berhitung. Namun saya sendiri kehilangan sentuhan menulis tangan, karena jemari saya lebih akrab pada tuts keyboard dibanding memeluk erat pena. Apakah menulis hanya sekedar mengkodifikasi pemikiran dalam jerat aksara ? Atau menulis adalah sebuah kebutuhan manusia ?

Dalam teori hierarki Maslow, manusia memiliki tingkatan dalam kebutuhan pribadinya. Tingkat kebutuhan ini dapat kita amati pada bentuk tulisan yang berkeliaran sepanjang mata memandang layar di dunia maya.
Dua tingkatan terbawah,tidak kita telusuri. Mulai dari tingkatan ketiga, jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan akan pertemanan. Tapi tidak berhenti disitu, orang butuh dihargai dan diakui. Maka pada tingkatan keempat harga diri, orang mulai menulis di jejaring sosial, blog, tumblr, komentar dll, untuk mendapat pengakuan dan rasa percaya diri. Kadangkala juga dalam bentuk curhat, karena di titik itu orang ingin mendapat perhatian atau membuang perasaan. Pada tingkatan kelima, aktualisasi diri, tulisan berwujud pada bentuk 'karya kreativitas'. Tidak hanya sekedar curhat dan mendapat pengakuan, tapi mengaktualisasikan diri dalam karya. Ya, itu pemetaan kebutuhan manusia menulis di masa-masa ini. Meskipun tingkat 4 dan 5, sering bolak-balik saja.

Sungguh sangat mudah sekali menulis pada zaman ini. Teringat dulu saya masih baca koran, internet belum masuk dalam kotak 'warung'. Seorang menulis di koran, menulis buku, menerbitkan kumpulan tulisan adalah sebuah kemewahan dalam aktualisasi diri. Saat mesin cetak ditemukan, koran dan buku adalah 'gadget' yang mencuri perhatian pada masanya. Manusia hanyut dalam tulisan dan keinginan menulis untuk dibaca. Tarik lagi ke belakang, saat manusia menemukan kertas, itu sangat mempermudah media tulis, tidak lagi di pelepah daun atau kulit hewan. Orang yang dapat menulis pun, dikategorikan memiliki barang mewah, karena sumber daya yang sulit didapat sebagai media tulis.

Bahkan pada era Mpu Panuluh, Mpu Prapanca dkk, menulis pada serat daun jati adalah ensiklopedia dan novel terlaris pada masanya. Terus ke belakang, Mulawarman bersaudara bahkan menulis kenangan hidupnya pada sebuah batu, yang kita sebut prasasti. Sungguh, untuk ngeksis saja zaman dahulu sulit sekali. Harus mencari batu dan digrafir di atasnya. Sedangkan pada peradaban Firaun unta mesir, aksara masih berbentuk gambar. Mereka ingin diakui dengan membuat Piramida dan diisi tulisan didalamnya. Padahal isinya mungkin cuma resep membuat balsam dan cerita romansa cleopatra cs. Leluhurnya, Homo Erectus mungkin mengawali bioskop rumahan pada gambar di goa-goa. Mereka sebenarnya menulis diary hidupnya yang gagal menangkap babi hutan purba. Menulis adalah upaya komunikasi mereka (yang terdahulu) kepada kita (yang kekinian), bahwa "Gue ada lho". Selain menyampaikan ilmu dan kabar mereka untuk kita ketahui.

Bayangkan evolusi sebuah surat cinta saja. Masa ini sebuah kata-kata romantis dapat dikirimkan melalui SMS, blog dan update status untuk dapat dibaca saat itu juga oleh pujaan hati. Tetapi dahulu, harus 'disimpan' dalam tulisan yang membawa rasa melewati waktu tempuh yang tak sebentar. Bayangkan pada masa Anaxagoras mengirim surat cinta, harus dalam sebuah codex di batu. Sebait saja, sudah 1 kg, JNE pun kemahalan buat mengantarnya. Pun waktu tempuh tak sebentar. Apalagi pada masa sebelum itu, mungkin mereka hanya menitipkan rasa pada angin malam saja. Jadi yang katanya galau, LDR, coba bayangkan penderitaan mereka yang terdahulu, Anda tidak ada apa-apanya. Sebuah tulisan sederhana yang kita temui wajar adanya saat ini, adalah rangkaian evolusi kemudahan aktualisasi diri manusia. Saat ini Anda dapat dengan mudah mengaktualisasikan diri, tak perlu mahir menulis di atas batu.

Tulisan ini pun adalah wujud kebutuhan saya pada tingkat kelima. Bukan karena aktualisasi diri, tapi karena saya kurang kerjaan saja dan terlalu banyak pikiran. Salam kelingking !
Read More

18/01/2014

Jodohnya Pedofil


Hari ini malam minggu, bukan sabtu malam. Katanya malam-malam seperti ini banyak pemuda-pemudi melakukan perjalanan malam, berburu rindu. Bagi umur-umur yang masuk kualifikasi dalam tim U-23 ini merupakan fenomena 'gejolak darah muda'. Biasanya mereka mengekspresikan malam minggu, jalan-jalan 'bersama'. Ya, melakukan yang dalam hal konvensi umat manusia bersama disebut 'pacaran'. Pada malam minggu ini, lampu merah adalah kawan. Saat waktu-waktu biasa kita ingin secepatnya lolos dari lampu merah, malam minggu membuat kita ingin berlama-lama dalam lampu merah (bagi yang punya pacar). Maka wajar saja jalanan macet, mereka berpasangan bersama bercengkerama dibawah naungan lampu merah, untuk sekedar menghabiskan waktu lebih lama, tidak ingin lekas berakhir kebersamaan ini (edyan, aing nulis apa ini).

Sudahlah, ada hal ini yang menarik bagi saya. Pacaran itu dari umur anak SD-SMA juga sudah mewabah. Temen sekelas, temen sekolah lain, temen kenal dimana juga bisa jadi pacar. Saya gak akan bahas mengenai pacaran itu baik atau buruk, boleh atau gak dalam agama. Saya gak punya kualifikasi buat hal itu. Cuma mau bilang aja, pacaran itu tujuannya untuk putus. Putus entah berpisah atau berubah derajat status hubungan katanya. Jadi mending gak usah pacaran, biar menyingkat proses saja. Tetapi bisa saja pacaran itu 'seumur hidup'.

Saya mau bahas mengenai fenomena pacarannya hingga peningkatan statusnya ya. Coba deh ya kita simak bersama. Pacaran ini biasanya umumnya seumuran, nah terus paling ya beda-beda plus minus 3 tahun lah, karena ukurannya satu sekolahan / kampus. Tetapi mudah kita temui pasangan suami-istri berbeda usia 7-9 tahun, bahkan lebih. Mungkin bisa kita lihat contoh orang-orang tua dari kita. Mereka tidak ada masalah dengan perbedaan usia tersebut. Namun bila kita tarik konteksnya ke dalam kerangka waktu anak SMA yang pacaran. Hal ini sangat aneh..haha. Bayangkan kamu lelaki kelas 3 SMA, punya pacar berbeda 7 tahun, berarti pacarmu itu masih kelas 4 SD. Bayangkan kamu mahasiswa tahun ke-4, pacarmu berarti masih SMA kelas 1. WOW !

Jadi bagi yang sekarang sedang pacaran, bayangkan kalau jodohmu itu berbeda usia cukup jauh nanti...hehe.
Read More

Orang Ketiga

Orang ketiga ? Sering kita dengar dalam perjalanan, mitos jangan berjalan dalam jumlah yang ganjil. Dalam pendakian bahkan sangat kental, segan untuk melakukan pendakian dalam jumlah ganjil. Ya, itu hanya mitos. Tetapi tidak juga, alasan kenapa jangan ganjil itu bisa masuk akal secara emosional.

Bila kita melakukan suatu hal, misal pendakian. Dengan jumlah yang ganjil, maka akan ada satu orang tanpa 'pasangan'. Biasanya orang tersebut akan kehilangan 'rekan' berbincang dan akhirnya melamun, lalu ya itu hal-hal yang tidak diinginkan dalam pendakian bila kamu kurang konsentrasi dan kesadaran bisa menjadi nyata. Jadi, setidaknya buatlah percakapan untuk satu rombongan, bukan per kelompok / pasang.
Dari ibnu Mas’ud Radiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Jika kamu sedang bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang satunya, hingga berbaur dengan banyak orang  karena yang demikian itu membuatnya resah”. (Muttafaqun ‘alaih dan lafadznya milik  Muslim ) - Sumber

Ternyata hal ini juga berlaku dalam tiap hal yang berkelompok, jika jumlahnya ganjil. Sama, kemungkinan ada satu orang yang akan merasa 'tersisihkan'. Hal ini jarang kita sadari, saya sendiri menyadari ini dari pengalaman akhir-akhir ini. Bila 2 orang dalam kelompok ini terlalu akrab, orang ketiga ini akan merasa terpinggirkan. Kita harus peduli, dengan jumlah yang ganjil ini. Saya dalam kesempatan memimpin suatu hal, selalu mencoba mendelegasikan tugas tidak sendiri, tetapi berpasangan. Tetapi masing-masing memiliki fokus yang berbeda, namun sama lingkupnya. Saya juga tidak akan menunjukkan keakraban pada orang khusus, tetapi ya semua diperlakukan setara akrab. Tujuannya, ya agar tidak merasa disisihkan.

Cobalah kalian amati dalam hal organisasi atau lain-lain, dekati orang yang 'tersisihkan'. Mungkin perlakuan kita ini tak adil dalam hal-hal yang ganjil.

Salam satu jari !
Read More

03/05/2013

Jangan Lupa Bergembira

Kali ini saya tidak akan pakai bahasa formal dan bahas filsafat yang berat, karena kemarin baru saja dimarahin Om Pascal. Kata dia "Kalau kita bertaruh Tuhan 'seolah-olah' ada, lalu ternyata akhirnya tidak ada, itu bukan masalah besar. Mungkin kita kehilangan waktu senang-senang. Tapi kalau kita bertaruh Tuhan tidak ada, lalu ternyata akhirnya ada. Matilah kita, kehilangan kehidupan yang abadi". Beliau ngomong begitu, jadi ingat teman-teman saya yang agnostik dan atheis, yang belum rajin sholat juga semoga mereka diceramahin Om Pascal. Balik lagi, kali ini saya mau bahas sesuatu yang membuat kita lupa bergembira. Hidupmu bagaimana ? Senang kah ? Puas kah ? Masih banyak beban kah ?

Dulu seringkali lihat update status FB atau kicauan Twitter, isinya orang marah-marah, mengomel, sedih, curhat, keluh kesah, gak pake mendesah tapinya. Keluh kesah itu tak peduli posisi, saat nyaman atau tidak pasti saja ada keluh kesah. "Ah, bodoh, kenapa cuma salah 1 soal saja" atau "Ah, kenapa ada yang nilai AB." Mungkin itu pertanda keluh kesah dalam kenyamanan, nah apalagi di zona susah ? Terus zona susah itu apa ? Misal ya kesusahan selalu diidentikkan dengan kemiskinan, lalu kemiskinan juga disempitkan lagi ke masalah benda. Kok sempit sekali ya hidup, hanya diukur dari materi. Tapi tidak seperti itu kok di Indonesia, sejauh riset saya orang-orang kita ini pandai 'menipu' dan menertawai sesuatu hal. Semua hal bisa kita tertawakan, dari Presiden, Ketua DPR, Pak RT, Eyang Subur, tetangga, teman sepermainan, cewek orang, bahkan diri kita sendiri. Orang Jawa Timur kenal itu Ludruk, isinya humor. Padahal yang ditampilkan adalah kesusahan hidup dan kritik sosial, tapi mampu disampaikan dalam gelak tawa. Keren lah orang-orang kita ini. Lupa sejenak dari dunia.

Dulu waktu kecil, mudah sekali kita bergembira. Mendapat hal kecil dan remeh juga kita senang, nyatanya itu hal yang baru. Tapi sekarang kita sulit sekali untuk bergembira, kita lupa cara untuk bergembira. Hidup sudah susah, banyak tekanan dan tuntutan, tidak ada hal yang membuat gembira ? Ah tidak, kegembiraan bukan pada kata 'apa' tapi kata 'bagaimana'. Kegembiraan tidak pernah pergi dari suatu hal, hanya pandangan kita saja yang membuatnya tidak tampak. Saat kita lapar, sangat senang sekali jika makan enak. Tapi saat kita penuh kesempatan makan, kita lupa untuk gembira pada makanan. Saat kita tak ada pacar, senang sekali kalau ada yang nemenin. Tapi pas sudah ada pacar, bosen juga kelamaan. Pelawak itu suka menunjukkan sisi gembira dari hal-hal yang tak kita lihat kegembiraannya. Nah, itu bisa saja karena kita sudah terlalu 'biasa' menanggapi suatu hal. Tetapi mereka melihatnya tidak biasa saja. Ternyata mudah kan melihat kegembiraan ? Misal "Kita harus bersyukur dengan penemu kata 'jalan'. Kalau gak, kita bakal 'lari' terus.", contoh garing melihat kata 'jalan'. Jadi kegembiraan itu terletak pada 'bagaimana', bukan 'apa'.

Tapi, nyatanya itu tak cukup membuat gembira. Manusia terlalu banyak yang membuatnya gelisah, takut dan sedih. Kita terlalu banyak berharap dan was-was. Kita berharap terlalu banyak, sehingga saat tidak memdapat suatu hal akan sedih dan marah. Lalu, saat kita memiliki barang, kita takut kehilangan. Punya sendal mahal, dibawa ke masjid takut hilang. Punya pacar cantik, takut direbut. Punya motor bagus, takut kegores. Kita suka banget sih hidup dalam takut dan harap yang berlebih. Jadi deh kita sulit buat bahagia dan gembira. Kurangilah harap dan takut kehilangan pada diri nte, secukupnya saja. Terus kebanyakan dari kita suka sok serius, padahal kata Tuhan hidup ini tak lebih dari senda gurau saja. Hiduplah serius tapi santai, kata Prambors mah. Jadi saja kita lupa lagi cara bergembira, terlalu serius menanggapi hidup, secukupnya saja.

Bergembira itu mudah, cukup lihat sekitar yang remeh saja bisa bergembira. Kita ini bangsa yang mudah bergembira dan suka sekali dihibur sebenarnya. Nonton apa saja bisa terhibur, mulia dari berita gosip, yang kawin lagi, tertangkap minum obat, sampai cerai jilid dua serta aneka sinetron dan lawak. Bahkan presiden dan pejabat negara juga kita tertawakan, hebatlah kita ini. Tapi itu juga gak baik sih, kita terlalu banyak buang-buang energi buat gembira dan tertawa berlebihan. Kita saking gembiranya fenomena itu, jadi lupa bergembira atas prestasi diri sendiri. Kita sampai lupa untuk menjaga mutu dan kualitas diri sendiri. Gembira dan tertawalah secukupnya, sebelum tertawa menuju gembira itu dilarang.

Cukuplah ya, saya mau bergembira dulu. Mari kita akhiri dengan doa bersama,
"Tuhanku, jangan Kau cabut dari kami rasa gembira. Usir lah dari kami penghuni was-was dan gelisah, agar kami tak lupa menjamu gembira bertamu"

Silakan gembira sebanyak kamu perlu. Kami sudah dari dulu.
Read More

01/05/2013

Ukuran Kemaluan

Sumpah, ini bukan tulisan porno, ini tulisan yang senonoh. Saya tidak sedang ingin membicarakan mengenai besarnya atau lebatnya area di antara perut dan lutut. Tapi saya sedang gelisah, berita media massa saat ini ramai oleh hal-hal yang itu-itu saja, tokoh yang itu-itu saja. Eyang Subur, twitter SBY, pendaftaran caleg, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan yang paling dahsyat KORUPSI, kalau Anda membaca ini sedang hidup di era 2013an. Seakan berita ini sering menghias layar komputer, maklum layar kaca memang isinya ini semua. Nyalain TV, beritanya kalau gak pemerkosa, pencuri, orang bunuh diri, penipuan, pembunuhan, korupsi. Capek lihat dan mendengar berita itu-itu lagi, mending setel Stand Up Comedy, siaran bola saja.

Ambil contoh korupsi saja deh. Orang kok ya tega-teganya korupsi ya, enak ya ? Enggak tahu, semoga gak nyoba. Kalau enak kan keterusan katanya. Itu duit negara dan duit rakyat, kok semena-mena diambil seakan milik sendiri. Itu milik orang banyak, kok digunakan buat beli barang pribadi. Itu pasti orang yang gak punya muka. Setelah tersangka juga, masih bisa berlagak. Setelah terdakwa juga, masih bisa melempar senyum. Setelah dipidana juga, masih saja merasa jumawa. Tapi tak apa, toh dengan adanya persidangan akhirnya banyak kita melihat taubat dadakan. Ya, nampaknya meja persidangan itu lebih menyadarkan daripada pesantren kita. Yang laki, pakai peci, yang wanita pakai kerudung, di meja persidangan. Sambil memutar tasbih kalau perlu juga, untung tidak sambil bawa sajadah. Itu kalau mau sujud ke hakim, tapi kalau 'menjilat' Tuhan ya tak apa lah.

Lalu pada ribut daftar cagub, cabup, cawalkot, caleg, anggota DPRD, DPR, DPD, DLL yang gak saya peduli. Mereka diantaranya ada yang sudah kena kasus, ada yang sudah tersangka. Kok masih berani-beraninya nyalonkan diri. Kita lagi, kok masih mau-maunya saja memilih mereka. Sebagian diantara mereka memang ada yang tokoh masyarakat, ada yang ditokoh-tokohkan, ada juga yang menokohkan dirinya sendiri. Kita melihat setiap hari wajah 'tokoh' penuh di jalanan, di gedung gedung. Tapi tidak hadir dalam kehidupan dan kenegaraan kita. 'Tokoh' tersebut hanya menggantung statis saja, bahkan cuma ada di baju yang dipakai kain lap. Mereka sibuk buat promosi, sedangkan disini bingung cari nasi. Mereka sibuk mencari posisi, sedangkan disini silakan bunuh diri. Saat mendapat posisi, malah mensyukuri. Padahal harusnya sedih, dia bertanggung jawab pada rakyat banyak. Mereka yang jadi 'wakil rakyat' malah bangga, padahal rakyat itu diatas mereka kan harusnya ? Ketua itu lebih tinggi dari wakil ketua kan ? Ya setidaknya mereka sudah me'wakil'kan kehidupan rakyat yang harusnya sejahtera, makan enak, tidur nyenyak, buang air besar nyaman di jamban.

Masih ada banyak sudut fenomena hidup yang bisa kita selidiki lagi, itupun kalau Anda mau. Tapi yang saya lihat, semua ini adalah fenomena imunitas akan rasa malu yang sungguh besar. Orang tidak malu lagi, mengumbar janji, berjual beli kebohongan. Tapi kok malah malu untuk meminta maaf dan mengakui kebodohan kesalahan? Menurut saya ini merupakan gejala pembesaran 'ukuran kemaluan' seseorang. Orang menjadi tidak mudah malu, karena kadar menampung malu sudah semakin besar seiring 'ukuran kemaluan'nya. Bisa jadi malah 'kemaluan' itu hilang, sehingga malu tak perlu ditampung dan disadari, cukup dibuang saja. Padahal kalau normal, dengan kadar malu yang kecil saja sudah cukup berat untuk ditanggungnya. Semoga kita dihindarkan dari sifat seperti itu. Mereka yang dengan 'ukuran kemaluan'nya harusnya sadar dan malu, bukan malah bangga. Bisa saja mungkin ada gejala gangguan saluran 'kemaluan', hingga mereka tidak dengan tegas mengakui rasa malu, karena sudah banyak mengandung kemih 'malu'.

Bandung, saat hari buruh sedunia di era kepemimpinan SBY -1 tahun lagi. Malam yang harus banyak mengerjakan tapi malah banyak bacaan.
Read More

Kebebasan Bukan Membebaskan

Kenapa orang mengagungkan kebebasan ? Katanya itu termasuk dalam Hak Asasi Manusia, yang dasar dimiliki oleh manusia adalah kebebasan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya apa itu kebebasan ? Kebebasan dalam kamus bahasa Inggris yang diterjemahkan 'freedom', berarti"the condition of being free; the power to act or speak or think without externally imposed restraints" or " immunity from an obligation or duty". Bebas disini lebih diartikan dari hilangnya sebuah tanggung jawab dan dapat bertindak seenaknya tanpa batasan. Hmm, menurut saya bebas ini tidak baik sepenuhnya. Begini saya coba jelaskan, jangan beranjak dulu.

Wanita bebas memakai baju sesuai keinginan dia, dan menganggap kalau ada kasus pemerkosaan itu berarti otak lelakinya saja yang ngeres. Buktinya toh, ada saja wanita dengan pakaian lengkap dan tertutup diperkosa. Saya tidak setuju ! Kalau begitu, saya juga memiliki kebebasan untuk dapat berpikiran jernih. Naluriah lelaki, bila melihat wanita pasti tergoda. Ngaku saja lah, kalau gak tergoda diragukan kelelakiannya. Maka dengan ada wanita memakai baju seksi, akan merusak kebebasan saya berpikir jernih. Saya bebas berpikir, Anda-nya saja yang berpakaian tak senonoh, harusnya kan pakai yang senonoh. Kebebasan Anda itu memiliki batas dengan kebebasan orang lain. Hal ini yang tidak sering kita temukan dalam pemikiran manusia bumi. Bayangkan jika semua orang bebas, itu tentu saja ada banyak kecelakaan di jalan raya. Lalu lintas saja butuh aturan, tidak bebas.

Contoh selanjutnya, bila Anda saya beri kebebasan membeli barang apa saja di pusat perbelanjaan, tanpa memikirkan uang pada hitungan 30 menit. Anda akan beli apa ? Tentu Anda pusing bukan, mau memilih yang mana, apa duluan yang dibeli, harusnya apa dulu. Setelahnya Anda akan menyesal, "kalau saja saya beli itu, karena uangnya tak terbatas". Bandingkan bila Anda diberi waktu 30 menit, tapi diberi dana yang besar namun terbatas 6 juta. Angka 6 juta ini terserah saya, saya tiba-tiba ingat film 'Six Million Dollar Man'. Anda secara normal akan mengambil barang yang paling mahal dan paling dibutuhkan/diinginkan dahulu kan ? Kecuali Anda termasuk orang yang tak suka belanja. Mungkin Anda tidak akan mendapatkan barang sebanyak orang yang diberi dana tak terbatas. Tapi Anda mungkin tidak mendapat penyesalan, karena jatah uang itu mungkin akan Anda habiskan sepenuhnya. Merasa puas, tanpa penyesalan. Ternyata, kebebasan itu membawa penyesalan, bila kita membiarkan dia buas tanpa batas. Kebebasan itu malah membuat Anda tidak tenang akhirnya.

Kebebasan itu harus ada batasnya, bukan berarti jadi tidak 'bebas'. Tapi bebas untuk menentukan batas kepuasan dan toleransi bersama. Saya bisa saja bebas untuk berjalan telanjang di tengah kota, seperti kaum 'Nudist'. Tapi itu hanya menunjukkan bahwa saya bukan manusia beretika. Situ bebas makai baju apa saja, tapi saya juga bebas memiliki mata untuk melihat atau tidak melihat, atau bahkan hanya jalan tertunduk. Nah, selama ini ada aturan yang membatasi kebebasan kita, dengan cukup jelas. Hal itu agama.

Lho kenapa agama ? Kenapa tidak norma masyarakat, kebudayaan, hukum, dll ? Begini mas, kebudayaan dan norma masyarakat itu berkembang selalu, sesuai zaman. Agama sejak turunnya wahyu, ya sudah tidak ada perubahan, yang ada hanya penafsiran pada zamannya. Karena suatu hal yang tidak ada pada zaman sebelumnya. Sedangkan budaya, misal, dahulu pada eranya Churchill sama Hitler perang, hotpants itu digunakan bagi 'wanita penghibur'. Wanita-wanita memakai pakaian tertutup, korset, dll, hotpants melanggar moral. Nah, sekarang hotpants dimana-mana, apakah itu dianggap melanggar moral ? Sebab sekarang itu adalah menjadi bagian masyarakat, dan dianggap tidak merusak moral. Wong semua banyak yang gitu kok :|. Nah, kalau hukum itu kan buatan manusia. Lha, manusia itu tempatnya salah kok, mana ada hukum yang sempurna. Tapi kan bisa direvisi ? Ya, itu lebih baik lah sekiranya. Hukum itu bersifat mengikat dan keras, sedangkan norma tidak. Kalau tulisan saya yang lengkap masalah norma dan agama, disini nih. Tetapi sebagai manusia, jika saja kalian aktifkan itu punya 'hati nurani'. Anda tidak perlu hukum dan norma, karena hati nurani itu selalu berkata yang 'benar' pada manusia. Agama itu sesuai hati nurani, karena tidak ada paksaan.

Sudah sekian, sudah panjang ini. Terimakasih sudah mau baca. Jangan lupa kalau bahagia itu bagi-bagi :)
Read More

Baik Itu Tidak Sendiri

Oke singkat saja tulisan ini, saya mencoba untuk menulis yang sedikit filsafat. Kalau mau baca, jangan bergerak ya. Kiranya orang-orang suka dengan kata 'baik'. Kalau dia disebut orang baik, maka senang sekali. Kalau kerjaan dia disebut baik, maka dia juga senang dua kali. Tetapi baik itu ternyata tidak 'baik' sepenuhnya. Baiklah akan saya coba jelaskan baik itu sebaiknya apa.

Makan nasi itu baik, memberi tenaga pada tubuh. Tapi tidak baik, bagi orang terkena gula darah. Minum air putih itu baik, tapi kalau minum langsung 2 liter juga itu tidak baik. Membantu menolong orang mengangkut barang itu baik. Tapi tidak baik, kalau yang diangkut itu barang curian. Seseorang menembak orang dari jarak 1Km, itu menandakan dia penembak yang baik, tapi tidak menjadikan dirinya orang yang 'baik'. Sesuatu hal baik itu tidak sendirinya akan menjadi kebaikan. Dia membutuhkan syarat dan prasyarat, agar menjadi 'baik'.

Baik, sudah tahu arahnya kan. Jangan silau akan ke'baik'an atau hal-hal baik, itu mungkin saja tidak baik. Seperti umumnya orang-orang yang menunjukkan sisi baik saat pacaran dan setelahnya baru sadar orangnya tidak baik seperti yang ditunjukkan. Itulah kebaikan, itu tidak berdiri sendiri. Ada yang menemani, entah itu pamrih atau ikhlas, atau yang lainnya :) .

Kebetulan saya bisa menulis ini, bisa jadi ini bukan kebenaran. Meskipun kata dasarnya 'mirip'.
Read More

25/04/2013

Fragmentasi Sosial dan Cinta Terkuantifikasi

Waduh, judulnya ini berat. Ya berat, penat menelan filsafat pada jam hampir 11 malam lewat. Saya menulis ini dengan rasa takut akan dimarahi nanti oleh Eyang Descartes atau Om Newton. Ya, mereka tokoh ilmuwan yang mengubah dunia dan pola pandangnya, yang memajukan teknologi. Sains berkembang dan membawa kemajuan teknologi namun tidak menyentuh aspek moral, membuat teknologi hanya menjadi bahaya. Pakde Thomas Kuhn dulu sempat mengatakan bahwa ada hal paling mendasar dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah tidak serta merta berpikir sistematis, teoritis dan berdasarkan eksperimen positivis. Berpikir ilmiah itu dilandasi oleh sebuah paradigma, paradigma yang mengarahkan hasil dari proses berpikir tersebut.

Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.

Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.

Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.

Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !

"And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for" - Whitman
Read More

23/02/2013

Paradigma dan Berdebat

Tetiba saya ini terpikirkan mengenai paradigma dan berdebat, setelah beberapa hari lalu dalam kuliah 'Filsafat Ilmu' presentasi Sistematika Sains, mengenai paradigma. Perhatian sebelumnya, tulisan ini mungkin akan sedikit berat dibanding tulisan saya yang lain. Oke, saya coba definisikan dulu apa itu paradigma. Paradigma, dalam arti bahasa inggris berarti kerangka berpikir, dalam etimologis dari Yunani para(disamping) dan deigma(model), saya tak mengerti itu apa. Paradigma dimaksud berarti, "Model teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir". Jadi paradigma itu adalah hal yang menjadi acuan dalam orang berpikir mengenai sesuatu. Paradigma adalah 'kepercayaan' yang membimbing seseorang memandang suatu hal di dunianya, secara fundamental. Bila seseorang memiliki paradigma tertentu pada benda A, maka seluruh arah gerak terhadap eksplorasi dan komentar terhadap benda A itu akan sejalan dengan paradigma yang dia anut. Paradigma berbeda dengan sudut pandang menurut saya. Sudut pandang adalah mengambil posisi atas suatu tafsiran, sedangkan paradigma adalah arah pikir terhadap suatu hal.

"Suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata" - Patton(1975)
Thomas Kuhn, seorang tokoh yang mempelopori mengenai paradigma ilmu, berpendapat bahwa paradigma berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas. Kuhn lebih mengarahkan pendapat mengenai paradigma dalam hal ilmu. Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan itu berkembang secara revolusioner, tidak secara kumulatif. Hal ini lebih dikenal dengan istilah "Revolution Science" atau "Shift Paradigm". Contohnya, dahulu orang berpikir dengan mengacu pada mekanika Newton untuk segala hal dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi pada masa ini paradigma tersebut tidak cocok. Karena ternyata Mekanika Kuantum dari Einstein, lebih dapat menjelaskan mekanika yang ditemukan pada dunia modern. Sehingga pola pikir Kuantum menggeser Newtonian. Perubahan ini terjadi secara radikal, seperti orang yang memeluk 'agama' tertentu.

Implikasi dari adanya 'paradigma' ini diantaranya suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja. Karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, maka tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut. Ini tentu saja dalam konteks ilmu pengetahuan dunia, saya tak akan membahas paradigma ketuhanan dan agama pada bahasan ini. Nah, perubahan paradigma ini biasanya terjadi dalam perdebatan. Saya akan kemukakan bagaimana teknik per'debat'an menurut saya yang baik, dengan paradigma masing-masing.

Dalam perdebatan seringkali terjadi debat kusir, tiada akhir. Ya memang begitu, karena orang yang berdebat memiliki paradigma yang berbeda. Hal yang mubazir bila kita amati debat tersebut, karena tentu saja hasilnya adalah nihil. Orang-orang tersebut akan tetap berpikir dengan paradigma masing-masing. Hal ini yang sering saya temukan. Padahal dalam berdebat, intinya bukan untuk meyakinkan lawan debat kita. Saya tak suka berdebat secara tertutup, karena buat apa men'debat'i pemikiran orang yang sudah ajeg. Per'debat'an seharusnya dilakukan secara terbuka, karena suatu paradigma itu harus berkembang secara revolusioner, bila banyak orang yang awalnya 'menonton' akan memilih suatu paradigma. Jadi per'debat'an harus bersifat terbuka, karena sasarannya bukan lawan debat kita, tetapi penonton debat.

Ibaratnya kita 'debat' mengenai es krim. Saya suka rasa coklat, dia suka vanilla. Hal yang saya lakukan bukan memaksa dia suka rasa coklat. Tetapi menunjukkan ke penonton lain, bahwa ada es krim dengan rasa coklat dan vanilla. Silakan bebas ambil rasa apapun, tetapi rasa coklat itu begini, begitu, vanilla ini begini, begitu. Dalam debat, yang kita lakukan bukan meyakinkan orang suka vanilla dengan rasa coklat, tapi memberikan opsi dengan menjelaskan kelebihan coklat dibanding vanilla, kepada penonton. Karena buat apa berdebat dengan orang yang suka vanilla, debatlah orang yang belum memiliki 'paradigma'. Memang mereka belum memiliki paradigma ? Selama objek es krim tersebut bukan menjadi hal penting bagi mereka, mereka bisa dianggap belum memiliki paradigma. Menurut Kuhn, disebut dengan 'Pra-Science & Pra-Paradigm'. Hal ini yang jarang saya lihat dalam debat. Dalam debat selalu saja ingin mengalahkan lawan debat, padahal menurut saya bukan itu. Dalam debat, hal paling penting adalah memiliki per'setuju'an dari penonton lain mengenai tafsiran suatu hal. Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Jadi itu hanyalah sebuah asumsi, asumsi agar menjadi 'kebenaran' perlu disetujui orang banyak.

Maka daripada itu, saya sering menghindari debat tertutup. Misal diajak diskusi debat oleh seseorang mengenai suatu hal, saya biasanya hindari. Karena percuma, kecuali bila debat secara terbuka. Karena tujuan debat saya, bukan mengubah paradigma dia. Tapi menawarkan paradigma pada 'mereka'. Hal ini baru saya sadari sebagai teknik mengubah paradigma, setelah mempelajari paradigma ilmu Kuhn. Sebelumnya saya hanya berpikir bagaimana mengambil sudut pandang dan meluaskan pandangan pada orang sekitar.

Sudah ah sekian berpendapat mengenai paradigma dan perdebatan. Saya pusing sendiri menulis seperti ini, karena impulsif. Sekian.
Read More

10/01/2013

Membaca Da Peci Code

Duh, sebenarnya ini novel lama, tapi saya baru baca -_-. Novel ini buku pertama, dari dua buku karya Ben Sohib yang diadaptasi menjadi film. Film '3 hati 2 Dunia 1 Cinta' yang menjadi film terbaik FFI 2009 kalau tak salah. Dibintangi Reza Rahardian, Laura Basuki dan Arumi Bachsin. Beuh, betah dah nonton film gini pemerannya mereka. Tapi saya lebih tertarik mengenai ceritanya. Cerita di film dan novel ternyata beda-beda tipis. Saya lebih dahulu menonton filmnya, baru membaca novelnya. Jadi imajinasi novel saya, terbatas pada ingatan film. Tapi memang mirip sih, cuma jadi tidak bebas berimajinasi saja. Saya akan bercerita buku pertama dulu. Judulnya memang unik, seperti novel Dan Brown, tapi isinya beda kok. Cerita disini mengenai kebudayaan memakai peci di kalangan muslim Indonesia, oleh tokoh di cerita dipertanyakan ke'wajib'annya.

Sering gak sih kita mempertanyakan kenapa pakai sarung, peci, itu dianggap orang alim, dan diidentikkan itu baju islami ? Padahal mah itu bukan satu-satunya baju islami. Itu hanya produk kebudayaan saja, sama seperti surban, gamis dsb, yang ada di Arab. Rasul lahir dan hidup di Arab, pada masa yang memilliki mode pakaian tersebut. Hal tersebut terus terjaga dan menjadi kebudayaan disana. Nah, kata siapa itu baju islami satu-satunya? Abu Jahal juga pakai surban dan gamis kok. Hal-hal itulah yang pembuat ingin sampaikan di cerita novel setebal 300an halaman ini. Sarung itu dari kebudayaan Hindu, peci itu dipakai di Yahudi, Kristen dan Islam, baju koko itu baju model Cina yang diadopsi menjadi baju 'muslim'. Itu semua produk budaya yang bercampur di Indonesia dahulu kala. Baju itu tidak memiliki agama, tapi manusialah yang membuat baju itu pantas tidak mengikuti perintah agama. Jadi gak ada baju islami, semua baju yang menutup aurat dan sesuai penafsiran agama ya itu baju yang tepat. Itu baru salah satu topik yang diangkat di novel. Masih banyak lagi topik yang diangkat di novel tersebut, terkait kehidupan sosial, beragama dan berbudaya di Indonesia. Tapi satu yang menarik saya, percintaan beda agama. Beuh, ini berat mamen.

Dikisahkan di novel ini, tokoh utama 'Rosid' seorang pemuda muslim yang kritis dan berkemauan keras, memiliki kekasih 'Delia' gadis Nasrani yang berparas manis, berhati mulia dan sangat mencintai Rosid. Kalau di film, Rosid=Reza Rahardian, Delia=Laura Basuki. Ngeri-ngeri sedap lah konflik dan pesan yang diangkat disini. Komentar saya sih, namanya cinta dan jodoh ya tidak bisa ditebak. Bisa aja berbeda agama, tapi apakah sampe segitunya ? Ada sekitar 7 miliyar manusia di bumi, 240 juta di Indonesia, sekitar 130 juta perempuan di Indonesia, mendapatkan 'SATU' saja apakah sulit ? Ya memang begitulah cinta kata orang-orang, tak bisa dipaksakan dan itu tumbuh dengan sendirinya. Tumbuh dalam tanah kekaguman dan pupuk kasih sayang. Kita tidak tahu dengan siapa nanti kita akan berpagut. Bisa dijodohkan, bisa ketemu di jalan, bisa ketemu teman lama, bisa ketemu lawan lama, bisa dengan siapa saja. Balik lagi ke cerita, jadi percintaan mereka tidak disetujui orang tua mereka semua. Pada buku kedua, lebih menceritakan hal ini, sedangkan di buku pertama, sebagai pelengkap dan pemanis cerita. Tapi saya akan tuliskan disini, dialog 'epic' mengenai hal ini untuk direnungi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Delia menatap Rosid yang tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menunggu beberapa saat, lalu katanya "Karena iman kita berbeda, maka kita harus mengakhiri hubungan ini. Itu kan yang kamu mau bilang, Sid?"
"Kita harus realistis, Del", jawab Rosid. Ketika mengucapkan kalimat itu, Rosid merasa seperti mengunyah pasir.
"Apa kamu pikir cinta itu nggak realistis?" tanya Delia dengan nada tinggi
"Del, aku kasihan sama kamu. Jika kita meneruskan hubungan kita, mungkin kamu harus berpisah dengan orang tuamu. Apa kamu juga gak kasihan sama mereka?"
"Dengan mengorbankan cinta kita?"
"Del, tadi pagi aku dinasehati ayahnya si Mahdi agar memutuskan hubungan ini karena alasan perbedaan kita. Tapi demi Tuhan, aku abaikan semua nasehat itu. Aku sanggup berkorban apapun demi cintam karena aku seorang lelaki. Tapi apakah kamu sanggup?"
"Apakah berkorban demi cinta itu juga berarti aku harus mengikuti apa yang kamu ikuti, meyakini apa yang kamu yakini dan membenarkan apa yang kamu benarkan?" Delia balik bertanya
"Iya, karena aku menginginkan kesempurnaan. Apa kamu pikir, Del, kesempurnaan itu bisa didapat dari perbedaan? Coba aku ingin jawabanmu yang jujur"
"Bisa aja, bukankah lelaki dan perempuan itu berbeda? Toh mereka bisa bersatu dalam cinta?"
"Del. kamu terlalu pragmatis. Kamu gak mengerti, bahwa sesungguhnya lelaki dan perempuan itu satu"
"Aku gak ngerti apa maksudmu, Sid?"
"Aku pernah mendengar Mahdi bercerita tentang Ibn 'Arabi, salah seorang filosof dari Timur. Menurut dia, ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa lalu mempertemukannya, mereka berdua saling mendekati. Mendekatnya Adam kepada Hawa adalah untuk mencari bagian dari dirinya yang hilang, yaitu tulang rusuknya yang diambil untuk menciptakan Hawa. Sementara Hawa kepada Adam tidak lain hanyalah ingin kembali menuju tempat dirinya berasal. Berarti mereka berdua itu sesungguhnya satu"
"Kalau begitu, agama kita yang berbeda sesungguhnya satu, sama-sama menyembah Tuhan yang satu, sama-sama ingin mencari kesempurnaan. Lalu kenapa kita gak bisa bersatu dalam cinta?"
"Bisa, tapi masalahnya ketika kita memutuskan untuk bersatu, kita harus meleburkan perbedaan itu, dan mengorbankan salah satunya. Apakah kamu mau mengorbankan keyakinanmu demi cinta kita?"
Delia terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun setelah itu ia kembali bertanya.
"Kenapa harus mengorbankan salah satunya? Apa gak bisa kita tetap dengan keyakinan kita masing-masing?"
"Berarti kita masih menyimpan perbedaan, kapan kita bisa menuju pada kesempurnaan? Pilihannya cuma satu, Del, kamu yang mengikuti aku, atau aku yang mengikuti kamu."
"Jadi kamu tidak percaya semua agama itu baik?"
"Aku meyakini bahwa setiap agama itu baik, karena setiap agama itu menyuruh orang berbuat baik, tidak mencuri, menolong yang lemah dan sbagainya. Tapi Del, aku juga meyakini bahwa hanya satu saja yang benar, itulah aganaku, sebagaimana kamu meyakini bahwa hanya agamamulah yang benar. Itulah alasannya mengapa meskipun kita saling menghormati, tapi kita tidak saling mengikuti"
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Panjang bray, kalau saya tulis lengkap, baca aja sendiri..haha. Ya, begitulah kira-kira isi novel tersebut. Ini nanti ada yang nganggep saya pluralisme, dll. Ah biarin aja, saya menganggap itu cerita mengenai pluralitas, bukan pluralisme. Perbedaan itu kita hormati, tapi tetap kita meyakini kebenaran absolut bagi diri kita sendiri. Justru kalau kita menganggap semua benar, itu akan merusak prinsip kehidupan diri sendiri. Saya juga tak menganjurkan berpacaran, apalagi berbeda agama. Kan sudah saya bilang, ada ratusan juta perempuan diluar sana, kenapa gak bisa dapet 'SATU' saja. Lalu, pacaran juga, bukan tujuan kan. Tujuannya adalah akhir dari itu, bisa dengan berpisah atau bersama. Kalau begitu, kenapa gak langsung bersama aja? Lebih berkomitmen kan. Tapi cerita novel ini ingin menyentuh semua orang dan menyampaikan pemikirannya, maka perlu disesuaikan dengan budaya yang ada berkembang.

Membaca novel ini, membuka pikiran mengenai persoalan yang kita pinggirkan karena tabu untuk dibicarakan. Kita terlalu pengecut untuk memikirkan hal-hal yang sudah biasa kita jalani, tak sadar itu untuk apa. Saya hanya ingin mengajak pembaca tulisan ini berpikir lagi, berani memiliki pendapat, tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Sekian lah, saya gak ingin menuliskan essay dan pendapat panjang. Biarkan kalian berpikir mengenai agama, cinta dan sosial.

Free your mind, enlighten your mind
Read More

14/12/2012

Ekspedisi dalam Malam

Sore ini aku sangat kelelahan, tetes keringat memang tak membasahi tubuh. Tapi penat sisa suntuk semalaman mengejar deadline tugas masih menggelayuti mata untuk istirahat. Sedari pagi hingga siang tadi pun aku tak sempat istirahat cukup. Panasnya kota kembang ini, kususuri untuk mengantar teman mencari komponen elektronik. Menyusuri Bandung pada masa ini, seperti merambah hutan kota. Harus menebas pohon kemacetan dalam pekik klakson bersahutan. Bandung yang dingin dan ramah ini, telah terkena global warming. Jalanan menghangat oleh deru mesin yang bergesekan dengan kesibukan. Barang yang dicari pun akhirnya didapat, setelah blusukan ke berbagai toko di Jaya Plaza. Siang sudah ingin menitipkan waktu pada sore, “Ton, capek juga ya cari barang gini aja. Untung bisa dapet di satu tempat aja”, sebut Jajang temanku itu. “Iya, gila juga tadi keliling gak dapet barang ini. Ini barang lama ya?”, timpalku. “Iya, barang ini udah jarang lagi, paling kanibal dari mesin asli. Kok mereka masih ada ya?”, temanku balik bertanya, “Mungkin mereka masih ada mesinnya banyak”, tambahku sekenanya. “Sing penting sudah dapat lah”, jawabku sambil menyeruput es dawet sambil kami istirahat. Jajang itu temanku dari kampus yang sudah 3 tahun ini kutinggali sebagai perguruanku. Dia berasal dari Bandung, tetapi kelahiran Jawa Tengah. Jadi kami bisa ngobrol 3 bahasa, Sunda, Jawa dan Indonesia. Aku sendiri bisa berbahasa Sunda dan Jawa, sama seperti dia, tapi aku lahir di Jawa dan orang tua dari Sunda.
Ton, malam nanti kita refreshing lihat Bandung lah. Lama kali kita tak pernah refreshing, tugas kuliah mulu”, ya memang begitu sebagai mahasiswa tugas adalah sahabat sejati tiap malam, ajak kawanku. “Aduh, pegel lah. Urang belum istirahat lah ini dari kemarin.”, balasku. Aku dan Jajang memang berbeda jurusan, meskipun kami satu fakultas. Jajang pada jalur perangkat 'keras' dan aku di perangkat 'lunak'. Kami sedang ada proyek bersama, sehingga aku 'terpaksa' menemani dia mencari komponen untuk proyek ini. Aku memang ingin sekali istirahat, setelah lelah ini. “Ya sudah, ini malam minggu loh. Barangkali kita dapat kenalan baru, haha”, ya memang kami ini pemuda yang taat agama karena tak pacaran, alasannya padahal aslinya kami ini hanya tak laku, tak sempat bercengkerama dengan perempuan. Tugas kuliah dan kemalasan yang membuat kami hidup di lebar dunia kampus saja.
Kami pun pulang setelah mendapatkan barang itu, kembali dengan merambah jalanan dan berpacu dengan lampu merah. Orang-orang disini sedang buru-buru semua, jalanan ini ujian kesabaran. Semua kendaraan berebut mengambil kesempatan masuk jalan dan tikungan, tidak melihat pengendara lain, mungkin juga tidak peduli. Sampai di kosan, jam 3 lebih sekian, setelah mengantar Jajang ke kosannya yang berjarak beda 3 RW dari tempatku ini. Kuambil waktu menghadap Illahi dalam shalat, sambil mengistirahatkan badan sejenak. Kupikir pada Tuhan, sungguh manusia ini dalam kesempitan. Hidupnya selalu dipenuhi dengan tekanan dan kesibukan dunia, pada jalanan tadi ku berkaca. Orang-orang sangat buru-buru, tak peduli keselamatan. “Apa sih yang dikejarnya?”, dalam hatiku berdiskusi. Kalaupun mereka mengejar dunia, toh kenapa malah tak peduli hidup di dunia. Ah, sambil ku tiduran di atas sajadah, ku rasakan nikmat angin sore hari. Sial! Ternyata aku tertidur cukup lama, tiba-tiba saja terbangun sudah pukul 7 kurang 20 menit, maghrib sudah lewat setengah jam. Aku buru-buru mengambil wudlu lagi dan segera shalat. Ah, pusing kepala malah jadinya bila tidur bablas sore. Memang dunia ini membuat terlena. Sudah isya saja, padahal barusan baru shalat maghrib, ya memang saya telat bangun sih. Jadi saja saya shalat Isya lagi, terus bingung mau ngapain. Sambil membaca buku yang menumpuk di meja belajar, tepatnya meja belajar menyimpan barang dengan rapih. Meja itu tak kugunakan sebagai tempat belajar lagi, buku-buku ku sudah menjadi digital di laptop kesayangan tak lepas dari dalam tas tiap hari. Bosan membaca buku, kubuka laptop dan mencolokkan modem broadband dengan pendingin modem 'Embozz' yang kubeli dari info FJB kampus. Lumayan, modem jadi tidak panas dan tidak koneksi putus.
Pertama kali pasti kubuka Facebook, ah tidak ada yang menarik informasi notifikasi postingan di grup, yang membosankan. Facebook telah mengubah sejarah komunikasi manusia dan bentuknya. Manusia kini hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya, dan batasnya kini sudah menjadi tiada. Kita berbicara di maya dan nyata, kini seakan tampak sama. Semua terasa kabur, bahkan di dunia nyata, kita sudah tersedot ke bagian lain maya. “Ah, sampah. Malam minggu ini tidak ada informasi menarik, mungkin pada pacaran semua kali ya kontributornya”, timpalku dalam hati. Lalu kubuka Twitter, ini isinya adalah ungkapan jomblowan dan jomblowati yang terintimidasi hari raya pasangan di akhir pekan. Ah ini lebih menarik menurutku, lucu-lucu kuamati lalu lintas 140 karakter di media ini. Tapi bosan juga, seakan hidup ini hanya menguntit kata-kata orang saja. Kututup saja lah itu laptop yang baru setengah jam kuamati layarnya saja, sambil menekan tombol-tombolnya. Suasana diluar sana agak dingin, hujan sudah habis tadi sore nampaknya.
Bingung menggelayuti pikiranku, tugas menumpuk tak sempat kulirik karena penat sudah tugas kemarin itu. Kantuk pun tak datang menghampiri yang sudah kubuang dengan tidur sore itu. “Jang, lagi di kosan gak? Yuk ah main keluar lihat Bandung, aing penat euy di kosan”, kutelpon Jajang menjawab tawarannya siang tadi. “Oke, urang aja lah yang ke kosan maneh, terus kita pergi gitu kemana.”, balasnya. “Siap bray, diantosan ya.”, jawabku cepat. Tak sampai 15 menit, Jajang sudah di depan kosan, gila cepat juga dia, sudah siap nampaknya. “Ton, mau kemana nih kita?”, tanyanya padaku. “Kemana aja keliling jalanan Bandung, terserah sampean saja”, balasku sekenanya. Motor pun melaju tanpa tujuan jelas. Ah, akhirnya kami menyumbang kemacetan jalanan malam ini. Ternyata malam minggu itu lebih parah dari siang hari. Penuh kendaraan, jalanan sesak, lampu saling mencolok pandangan, ditambah klakson lagi. Ah, masyarakat ini tak punya kesabaran ya, kemacetan ini kan sudah jelas tak perlu klaksonmu mengingatkan. Kalau saja ini bulan Ramadhan, tentunya ini ladang pahala ujian kesabaran kami. Kami dengan iseng saja menelusuri Dago yang macet, terus ke Balai Kota, ke Landmark dan berbelok ke arah jalan ABC. Keisengan ini bukan tanpa sebab, kami juga ingin mencari jalanan bebas macet dan selap selip kesana kemari. Tanpa diskusi penting di motor dalam perjalanan, kami malah berkomentar mengenai orang-orang saja. Aku heran pada wanita di Bandung, disini ini dingin menusuk kulit tak sampai tulang. Tapi mereka senang pakai mini skirt, bahkan jeans panjang ku pun masih terasa terselip dingin diantaranya. Biarlah mungkin dengan itu mereka menambah kehangatan Bandung ini. Menyusuri Banceuy, kami mendapati banyak perempuan berpakaian ketat sambil bermain telunjuk, seperti menghentikan angkutan umum, tapi ternyata angkutan um-um yang dicari.
Ton, mau berhenti gak? Ngobrol bentar sama mereka? Hehe”, terkekeh garing Jajang mengajak ku bercanda. “Hayuk lah, iseng-iseng”, kata-kata itu yang meluncur dari mulutku, entah kenapa. “Eh, beneran nih?”, heran tanyanya padaku. “Itu, kayaknya masih muda. Sana aja Jang”, balasku seperti itu. Ternyata Jajang tak bercanda, kami pun berhenti di depan perempuan muda yang berdiri dipinggir jalan. Kini pikiran dan hatiku tak mau kompromi, sama-sama pusing dan bingung sendiri ini bercanda model apa. “Check in, mas?”, tanyanya lirih menggoda pada kami. Rok pendek, make up menyembunyikan muda usianya menurutku, rokok mild di tangan kanan, bibir merah basah sedikit, wanita itu menggoda kami. “Berapa, ceu?”, tiba-tiba Jajang menanggapi, sambil sedikit kutahan tawa dengan membuang wajah. “300 mas”, mungkin 300 ribu maksudnya. “Kirain dapet 100 teh”, balas tawarnya. “Kalau mau, sama ibu-ibu seberang sana”, perempuan itu langsung mundur sedikit. “Ya udah, kita cari yang lain dulu ya mba”, timpalku langsung. Lalu kutepuk pundak Jajang, mengisyaratkan segera pergi. Langsung tawa ku meledak, tak kusangka yang kita lakukan sampai seperti itu. “Njir, gelo maneh tadi. Untung gak ada premannya.”, samber ku padanya. “Hahaha, sekali kali lah. Pengen ketawa juga waktu tadi saya lihat muka dia, cantik sih, tapi ...”, jawabnya.
Aku dan Jajang memang suka bercanda, mungkin agak berlebihan dan kebablasan menurut sebagian teman. Tapi itulah justru keakraban, bukan dengan kelemah lembutan. Tapi kata-kata polos dan seakan kasar itulah pelumas sosial kami dalam mengakrabkan diri. Motor pun terus melaju, kini ke arah Andir. Sambil tetap membayangkan hal tadi, bila teteh tadi mengiyakan tawaran Jajang, apa yang kubilang. Kami tak mungkin benar-benar transaksi dengannya. Motor kami sudah sampai daerah Andir saja, tepatnya di Saritem. Ya Saritem, entah angin apa yang membawa kami kesini. Daerah ini sudah terkenal seperti Dolly di Surabaya dan Sarkem di Yogyakarta, dan kami dengan semangat bercanda kesini. Masuk gang ini, kami disambut plang 'Selamat Datang dikawasan Pesantren...', ya benar yang kulihat. Kami tertawa, apakah ini penyamaran atau kenyataan. Ironis sekali, daerah dikenal seperti ini disambut oleh tulisan itu. Pesantren ini benar adanya. Aku bertanya dalam hati, dakwah apa yang mereka kaum pesantren sebar disini, sampai Saritem tak sempat membersihkan namanya. Tapi biar saja toh ternyata Tuhan kita sembunyikan di rumah suci ibadah dan tidak kita bawa ke kotornya dunia.
Eh, kita berhenti disini nih, Jang? Sus lah kau?”, tanyaku memastikan. “Iya, bray. Kita iseng lagi aja disini”, jawab lagi sekenanya. Motor kami parkir diujung salah satu gang, lalu tak lama kami dihampiri pria tua, sekitar 60an tahun. “Check in, A ?”, kembali kata-kata itu yang ditawarkan. “ABG, ada, Bah?”, Jajang bertanya balik. Gila ini, dalam hatiku berkecamuk. “Eta mah banyak, hayu”, pria itu menggiring kami ke sebuah rumah. Dalam rumah tersebut wanita muda hingga tua berjejer di sofa, dengan pakaian ketat kembali menggoda mata. Ada 3 wanita muda, umurnya kira-kira dibawah 20 tahun, aroma harum dan pakaian mini mereka kenakan. “Tuh pilih aja, A”, ucapnya, “Berapa itu, Bah ?”, sok akrab aku pun berani bicara. “300”, katanya, harga pasaran yang tak berbeda. Apakah ini sebuah kesepakatan pasar menurutku, tapi kualitas berbeda. “Kalau main di sini, di kamar atas, nambah 75 ribu, tambah teh botol dan kondom, habislah 400an, A”, gila benar yang kudengar ini seks jadi komoditi, ditawarkan paket dan semacam itu. Tepok jidat dalam benakku, gila saja dunia ini. Tak kukira seperti ini dunia yang kulihat dan kuintip di televisi selama ini. Tak kubayangkan gadis muda seperti mereka turun ke dunia ini, wajah mereka tak ada pancaran 'kupu-kupu malam', masih polos begitu saja. “”Gimana, A?”, tanya pria tua itu lagi mengaburkan keherananku. Jajang dengan cerdas mampu berkelit, kami beralasan sedang menunggu teman lain juga. Kami bayar saja upah 'lelah' untuk pria tua itu. Selamat lah kami keluar dari rumah itu, tanpa tergoda. Kami langsung mengambil motor dan lewati malam menuju kosan, mengakhiri petualangan iseng kami dengan mengawani malam, melihat realita Bandung ini.
Tak dapat kubayangkan mereka yang muda sudah terjun dalam dunia itu, bagaimana yang tua, bagaimana kalau mereka punya anak. Siapa yang salah? Mana ada wanita yang bercita-cita ingin jadi seperti itu? Mereka pasti korban kerasnya dunia menurutku, atau bahkan kesenjangan sosial. Jadi tak sepenuhnya salah mereka, kita juga memiliki saham atas alpa mereka. Pengalaman malam ini tak akan kulupakan, aku membuka mata atas sisi dunia yang kita pinggirkan karena tabu untuk diucapkan. Itulah kebenaran yang kita buang dalam pekatnya malam.
Read More

17/06/2012

Susahnya Memaafkan

Hey, pernahkah Anda sakit hati ? Diputus pacar, dibohongin pacar, ditolak pacar, dicuekin pacar ? Lho, kok ini pacar semua, ah dasar kalian anak muda. Bukan, begitu kisanak maksudnya. Sakit hati adalah banyak perkara yang menyebabkannya, apalagi hal-hal sensitif. Seringkali kita sakit hati karena ditipu orang, dikhianati orang. Dalam hal pekerjaan, organisasi dan jenis lainnya. Atau bahkan tanpa sebab, kita sakit hati. Ah nampaknya tidak mungkin, sakit hati pasti ada sebabnya. Dan itu yang membuat kita mengingatnya nikmat sakit hati. Makan tidak enak, tidur gak nyenyak, buang air besar tak tenteram, gundah gulana tak karuan karena sibuk menikmati dan memikirkan balas dendam. Yes, sweet revenge dude. Seakan hati ini akan lega dan sakitnya tak terhankan akan sirna, bila kita bisa melampiaskan kekesalan dan rasa itu yang disebut sakit hati. Mungkin tidak secara fisik, tetapi kita ingin memberi mereka pelajaran dan tidak mengulangi perbuatan mereka. Dengan cara membalasnya yang setimpal.

Tapi, setelah beberapa pengalaman saya dengan hal-hal seperti itu. Ditambah saya kepoin orang-orang. Apasih yang bikin mereka sakit hati, dll, dsb, dttbl(dan tetek bengek lainnya). Alasan yang beragam, dan kebanyakan ingin 'membalas' dendam dan sakit hatinya itu. Saya menemukan, berarti bukan menemukan baru. Tapi menemukan sesuatu yang hilang, atau luput kita sadari. Bahwa cara membalas dendam yang paling baik, adalah hidup bahagia. Orang yang membuat sakit hati kita ini, ingin melihat kita kesakitan dan sengsara. Jangan kita beri memenuhi keinginan mereka, kita tunjukkan kita bahagia meski tindakan mereka buruk. Jangan habiskan perhatian kita meratapi masa lalu. Kehidupan yang kita dapatkan dan kebahagiaan yang kita fokuskan di tempat lain, cukup untuk menutup luka itu. Tanpa harus membalas dendam. Hey, kebayang gak? Susah emang, kalau belum pernah merasakan sakit hati yang luar biasa..hahaha

Kebetulan saya punya Al Quran, meskipun saya belum mengerti banyak dan belum bisa 'membaca' secara cermat. Tapi saya menemukan petikanNya di An-Nahl : 126. Saya gak akan nulis disini, silakan buka Al-Qurannya. Saya bukan ustad atau orang alim, maklum cupu tingkat sotoy. Sekalian kalian buka itu kitab, daripada dipajang saja di lemari. #jleb. Jadi menurut kitab bacaan yang mulia itu, Obat sakit hati adalah tak membalas, dan kemudian memaafkan. Kita memang diper'boleh'kan membalasnya, sesuai kadarnya. Tetapi yang paling baik adalah menahan diri, untuk kemudian memaafkan. Hey, itu firman Tuhan. Bagi yang percaya silakan, bagi yang tidak silakan.

Pertama, kita sadari perbuatan mereka salah. Bagi anggapan kita, bagi mereka entah. Tapi kita tengok lagi ke dalam diri kita. Jika mereka menyakiti hati kita, apakah kita pernah menyakiti hati orang lain? Apa yang terjadi, bila dunia ini merupakan lingkaran tak terputus dari aksi saling balas dendam, sikut menyikut, pukul-pukulan?! Kedua, kita bungkus sakit hati itu lalu buang saja, lupakan. Membalasnya, tidak membuat baik. Malah membuat buruk. Berarti kita sama saja dengan mereka, kita telah berubah menjadi mereka. Memaafkan mereka lebih baik dan mulia. Sebab jika tidak memaafkan, luka itu justru semakin dalam, semakin berkepanjangan dan semakin mengarat di hati. Dengan tidak memaafkan, kita telah merajut kepedihan terus menerus, antara kita dan mereka.

Anda punya Tuhan kan ? Saya tak menanyakan 'apa' Tuhan Anda. Tapi Anda setidaknya harus punya keyakinan, bahwa ada yang akan mengurus ini semua. Diluar kekuasaan dan kemampuan Anda. Menahan diri itu merupakan tingkat manusia 'ultra high'. Manusia diberi kebebasan dan free will, tetapi kita malah memilih menahan diri. Mantap kan ? Kita bisa menguasai diri kita. Jadilah orang yang pemaaf, tapi bukan berarti seperti mpok siapa itu di 'Bajaj Bajuri', yang selalu ngomong maaf kalau ada apa-apa. Wah sudah lupa saya, maaf..hehe.

Wah, susah ya memaafkan ? Harus menjadi orang yang mendekati 'suci' dan 'kudus' ? Ah, tidak. Manusia semua punya potensi itu. Tinggal bagaimana kita ingin hidup bahagia atau tidak. Sebab memaafkan tidak lahir, kecuali dari orang yang bahagia.

Selamat berbahagia, selamat memaafkan. Sebelum lebaran, sebelum dimakamkan. Sekian..






Read More

15/06/2012

Membagi Kebahagiaan

Hari ini hari Jumat, kemarin hari Kamis, besok pasti hari Sabtu. Wah, sudah tak terasa saja hari terlewati bagaikan hembusan nafas yang tak kita hitung bukan. Hari ini hari istimewa dan berbahagia terutama untuk saya, kenapa? Karena ada sholat Jumat, ya sholat biasa 5 kali sehari. Tapi ini luar biasa di hari Jumat. Kenapa ? Karena disebut sholat Jumat. Emang mau disebut sholat apa? Ya, sholat Jumat seminggu sekali, dengan mengumpulkan para pria yang bijaksana dan tidak sombong, sehingga mau menghadap Tuhan. Setelah dikumpulkan, mereka diberi nasehat dan diingatkan. Ya diingatkan yang cuma seminggu sekali, cukuplah bagi kita yang mungkin jarang diingatkan atau tak sempat mengingat-ingat. Ingat apa? Perintah Tuhan dan laranganNya. Ya, memang mengingat Tuhan 5 kali sehari minimal. Tapi sesering apa sih kita mendapat nasehat agama?

Pada hari Jumat, kita ini para lelaki akan memakai baju yang terbaik, wangi, rapih, untuk menghadap Tuhan. Iya? Iya, kecuali keringanan bagi mereka yang tak sempat karena urusan mendesak. Jadi sudah wudlu, suci, rapih, bersih, ganteng kan?haha. Mungkin auranya beda, jadi mungkin saja para wanita melihat Anda hey semua lelaki. Lalu apa lagi istimewanya hari Jumat ? Ah, saya mungkin tak akan membahas dari hadits ataupun lainnya, karena sudah sering banyak yang mengingatkan mungkin Anda bosan. Saya juga memang tidak terlalu paham, maklum cupu tingkat sotoy. Saya lebih suka melihatnya dari sudut realitas. Kalau hari Jumat, pasti banyak pedagang dadakan di sekitar masjid. Hey, ini suatu hal menakjubkan. Tiba-tiba ramai dengan pasar dadakan. Tak apa, yang penting aman, nyaman dan teratur.

Mungkin semua paham di Al-Quran, pada hari Jumat kita disuruh menghentikan kegiatan duniawi kita sementara waktu untuk melakukan sholat jumat dan mendengarkan khotbah. Lalu setelah itu kita disuruh bertebaran di muka bumi, nyariin rahmat Tuhan. Emang rahmat Tuhan kemana ? Gak kemana-mana, ada di sekitar kita. Tapi kita yang tak terlalu memperhatikan, karena hidup tidak kita nikmati. Coba kau berhenti di pinggir jalan, lalu kau lihat sekitar. Niscaya kau akan bisa tersenyum kecil, hanya dengan melihat kehidupan masyarakat sekitar. Riuh rendah, tinggi kaya, sibuk, santai, semangat, murung, sedih, bahagia, wah warna-warni lah kehidupan. Kalau biasa aja, gak assik.

Eh, ini saya mau nulis apa sih? Oh ya, judulnya kebahgiaan. Bahagia maksudnya? Ya, jadi pada Jumat kan biasanya itu diputarkan kotak amal. Kita dapat mengisi nilai berapa saja yang dimasukkan ke kotak, gak usah sombong atau gengsi. Mau kecil atau banyak tak masalah, yang penting hati kamu ikhlas dan bahagia. Kenapa bahagia? Karena kelegaan orang merelakan hartanya adalah tak ternilai bahagianya. Kita bukan diikat harta, dan harta bukan milik kita. Kita bukan budak harta, tapi harta yang mencari kita. Ini yang mau saya kasih tahu. 'Harta bukan milik kita'. Milik siapa, Tuhan ? Lha itu mah sudah jelas, semua milik Tuhan. Mana ada milik kita. Tapi ini berbeda kawan. Begini saya jelaskan, kalau malas baca juga gak apa.

Kita dapat uang darimana? Kerja. Kerja darimana ? Kerja karena kita sekolah atau punya keahlian. Terus bisa sekolah itu darimana ? Dari kerja. Lho kok muter, salah jelasin saya. Kerja, karena keahlian. Punya keahlian, punya tenaga baru kerja. Jadi punya tenaga, dapat dari makan. Makan dapat dari sayur/nasi. Nasi dari beras, beras dari padi. Padi ditanam pak tani. Pak tani jual padi dan gabah, dapat uang. Pak tani nanam padi dapat gabah. Pak tani dapat padi dari uang. Kok masih muter ya? Emang gitu, oh ya benar begitu.

Kehidupan ini lingkaran dari berbagai macam sumbangsih manusia, peran dan bagian masing-masing. Kehidupan ini ada bukan hanya karena kita aja yang bergerak, bukan karena kita saja kita ada. Bukan hanya jerih payah kita saja, kita bekerja dapat duit. Tapi bantuan pak tani yang nyediain beras, pak sopir yang ngantarin beras, bapak kita yang ngasih duit, Ibu kita yang bikinin makanan, mamang sayur juga yang udah jualin sayur, apa lagi banyak lah kalau saya sebut satu-satu. Jadi masih ngerasa Anda hidup karena diri Anda sendiri? Harta Anda milik Anda sendiri ?

Saya setuju dengan konsep Islam, bahwa di sekian harta milik kamu ada hak orang lain. Dan hey, saya menemukannya dari konsep tadi. Setiap orang punya andil masing-masing untuk mengantarkan rezeki kita sampai di tangan kita. Saya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk berbagi rezeki..hehe. Bagi yang naik motor, cobalah sekali-sekali berbagi rezeki dengan supir angkot/bus. Bagi yang suka ke mall, sekali-kali berbagilah ke warung biasa, toko biasa. Saya lebih suka dengan membeli barang ke toko biasa, karena itu hey mereka butuh. Saya lebih suka beli barang lokal #asalbagus, daripada merek luar. Kenapa ? Hey, itu merek luar bikinnya dari kita, menggunakan buruh kita yang dibayar murah, tapi barang dijual mahal.

Berbagi kebahagiaan itu sederhana, dan tidak perlu repot-repot. Selain membagikan harta, kita juga bisa dengan berbagi meringankan beban orang lain. Kita ada rezeki ilmu, ajarkanlah ke orang lain. Kita ada rezeki umur, bermanfaat lah untuk orang lain. Kita ada rezeki iman, sebarkanlah kebaikan. Masih banyak rezeki yang tidak kita sadari. Kebahagiaan yang maksimal, adalah saat kita dapat membuat orang lain bahagia. Itu double combo breaker bung. Kita bahagia, orang lain bahagia. Jangan mencari kebahagiaan untuk diri sendiri. Ah, nanti lagi saya bahas mengenai tafsir kebahagiaan..hehe. Sudah panjang, nanti Anda bosan, setuju? Saya tidak.

Jika Anda berbahagia, maka bagikanlah. Jika Anda berduka, sembunyikanlah.

Selamat berbahagia, kami sudah sedari dulu.
Read More

10/06/2012

Klarifikasi Blog Galau

Eaaa, akhir-akhir ini aktivitas saya di dunia maya, dengan kutipan, status, post, berkenaan dengan 'hati', 'cinta', 'rindu', dan kata-kata sensitif lainnya. Bukan maksud mencoba menjadi pujangga, roman picisan dan insan muda yang sedang galau hatinya. Tapi saya ingin mencoba eksplorasi , khazanah pikiran saya dengan rangkaian kata itu, (ceeiilah bahasane rek).

Ya, akhir-akhir ini buku dan pemikiran yang saya geluti, cukup 'berat' bahasannya. Dari zaman perkataan sesepuh Yunani, Renaisans, Mistikus Sufi, Modern ataupun Kotemporer, semua seakan meneriakkan argumennya. Emang 'cinta' gak berat ? Berat juga sih, menurut saya. Saya sendiri belum menuangkan hasil bacaan dan benturan dengan pemikiran saya, karena memang susah sekali dirumuskan, dan belum ada kesempatan menulis tepatnya, lebih tepatnya lagi waktu yang diluangkan...hahaha. Tapi sambil merenungi dan merumuskan itu, mari kita eksplorasi liar dengan hal-hal sensitif ini.

Cinta, menurut saya sudah terjadi pergeseran makna dan penggunaannya oleh kita, terutama anak muda. Dengan mudahnya, kata-kata 'cinta' keluar. Tapi kata yang keluar itu tak memiliki akar kuat dalam tiap ranting kalimatnya. Saya ingin menggali lagi dan mencari, kebenaran dari kata itu. Dimana dan kapan harus memakainya. Apa dan untuk siapa kata itu. Bagaimana dan dengan apa menyampaikannya. Lalu, untuk apa kata itu. Ya, pertanyaan itu yang muncul untuk menyelami kata 'cinta' dan 'hati'.

Bersambung lain waktu ya.. Nonton bola dulu..
Read More

03/06/2012

Foya foya tidak apa

Haihata, saya mencoba menulis dengan 'bukan' gaya saya sebelumnya. Biasanya saya tulis yang serius, essay, puisi (kelas kacang rebus) dan teka-teki. Sekarang mulai menulis yang ringan, tapi tetap semoga mudah-mudahan dapat membagi yang saya yakini pengalaman manfaat, semoga. Oh ya maaf, tulisan saya sengaja tidak baku. Karena nilai Tata Tulis saya buruk, dan ejaan formal itu tidak terlalu penting buat disini bagi saya. Ya sudah saya mulai, setuju? Harus.

Jadi, kalian suka foya-foya? Buang-buang harta dan duit untuk membeli barang atau membeli yang sebenarnya belum jadi kebutuhan kalian? Pastilah semua orang pernah, apalagi kalau sedang mendapat rezeki lumayan banyak. Tak apa, itu manusiawi kok. Nah, saya juga termasuk kaum yang pernah dan mungkin sering foya-foya, kalau sedang ada duit. Bukan saya tidak menabung, saya tetap menabung kok, dikit-dikit. Dikit saja, tapi kalau rutin per hari. Lumayan kan. Bukan sok punya rezeki, tapi diri kita juga jangan terlalu 'kikir' dengan harta. Buat apa sih ditumpuk? Jangan jadi budak harta, dengan menyimpan dan menumpuk. Saya cukup jadi orang pas-pasan saja. Pas butuh, pas ada duit. Pas gak ada duit, pas gak butuh. Gitu aja simpel tho. Harta itu harus digunakan, dalam hal baik. Nah ini yang mau saya sebut 'foya-foya'.

Dari pengalaman saya, saya foya-foya dengan cara membeli buku. Ya kalau ada duit, ada buku menarik langsung beli. Dibaca gak? Dibacalah, tapi mungkin tidak waktu cepat. Terus buat apa beli? Hey, siapa tahu kita butuh isi dari buku itu suatu saat yang tidak kita duga. Bisa jadi hadiah buat orang, buat dibaca, buat jadi ganjelan, buat jadi diambil ilmunya.Masalah buku dengan isi didalamnya itu yang menjadi nilai lebih. Kita tidak tahu kapan waktunya isi buku itu kita gunakan. Saya pernah beli buku, gak pernah dibaca selama 2 tahun. Lalu pas saat itu, baru kepake dan pas banget. Jadi, belilah buku kapan saja ada kesempatan, hehe. Ini foya-foya pertama.

Kedua, ini yang belum saya bisa. Tapi saya ingin foya-foya dengan cara ini. Bagi-bagi rezeki ke orang lain. Bisa dengan nraktir teman, bayarin teman, infaq kotak amal (tapi jangan kelihatan orang, apalagi ditulis kayak gini, jangan), apapunlah yang membagi rezeki ke orang lain. Harta yang kita miliki ini, bukan hanya milik kita. Mau bukti? Kita dapat duit darimana, orang tua atau penghasilan pribadi. Terus untuk dapat itu, harus kerja. Untuk kerja, harus ada tenaga, harus makan. Terus makan nasi, padi darimana? Pak tani kan? Nah kita harus berterima kasih pada mereka, mungkin dengan infaq. Terus yang bawa berasnya, yang ngitungin berasnya, distribusinya, wah banyak lah. Jadi semua orang bisa terlibat, untuk kasus beras saja. Wajar, kita harus berbagi, karena kita gak hidup sendiri.

Terus kalau kalian punya duit, jangan pelitlah. Beli barang di UKM/warung, jangan Mall. Karena itu usaha rakyat. Beli di pasar tradisional, yang usaha rakyat. Kalau mall mah itu kapitalis nampaknya, ah iya bener sudah mahal lagi. Terus walaupun punya kendaraan, sempatin lah naik umum. Bukan apa apa, tapi berbagi rezeki ma supir, ma tukang ojek, tukang becak. Kasihan mereka, kalau kita semua naik kendaraan sendiri. Terus pengamen, kita kasih. Jangan recehan aja, buat dia pergi atau segera gak nyanyi. Sekali-sekali, kasih uang ribuan dan puluhan ribu, terus minta mereka nyanyi 2 lagu atau beberapa. Kalau kasih cepeceng, minta 1 album deh. Buat apa? Kita menghargai usaha mereka. Ya memang saya tidak terlalu setuju dengan peminta-minta, kalau itu saya inginnya kasih mereka alamat. Alamat kerja, jangan dikasih duit aja. Ya, harta yang kita punya ini bukan milik kita saja. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk turut mengembangkan kesejahteraan bersama. Jangan sampai perputaran uang hanya di kalangan orang-orang terlanjur kaya, tapi kita sebar lah. Jare pak Karno, ekonomi kerakyatan, ah itu dia.

Wah sudah panjang banget ini, tapi saya masih punya banyak hal yang ingin ditulis. Ah, bener nulis dengan cara ini jadi banyak, tapi gak rapih, haha sudahlah jangan protes. Saya juga gak maksa kamu baca. Semoga manfaat, kalau tidak manfaatkanlah.
Read More

Memulai #lagi

Lama sudah tak menulis disini apa namanya, blog oh iya. Sebenarnya saya tidak ingin menulis hal-hal pribadi, tetapi berbentuk essay. Tulisan yang berbobot dan mengandung ilmu serta bahasa menarik. Ternyata ini yang membuat blog ini 'bersih' dari coretan. Saya tidak bisa mendengarkan perasaan untuk ditulis dengan essay. Jadi sekarang saya tulis essay dengan banyak dan sering? Setuju? Saya tidak.

Sekarang, essay akan saya kurangi kalau begitu, ya begitu sajalah. Saya akan mencoba tulisan yang lebih 'ringan', tetapi tidak sebagai jualan cerita 'pribadi'. Toh saya tidak peduli juga kalau tulisan saya tidak dibaca orang. Tetapi saya menemukan rumus, sebuah konsep atau itu apapun namanya dalam benak pribadi untuk menulis. Ya saya menulis mengenai apa yang ada di pikiran dan perasaan saya langsung, tidak banyak saya 'edit' atau dengan tata bahasa baku itu. Tujuannya ingin mendengarkan perasaan, dengan sambil menyimpan memori dalam tulisan. Saya juga ingin membagi pengalaman atau kisah saya, bukan sebagai curhat. Tetapi agar kau yang nanti membaca, bisa mengambil hikmahnya. Mungkin dari kesalahan, kelebihan, pengalaman menarik atau buruk saya. Ya, agar kau nanti bisa lebih siap dalam kondisi serupa.

Sudah, saya cukup sekian. Jika Anda tidak setuju, komentar saja di bawah. Sip?!

Terimakasih.

"Aku adalah aku, kamu adalah kamu. Jika tak setuju, ya sudah"


Read More

03/04/2011

Mengapa Memilih Islam ?

Mengapa Anda beragama? Sudahkah kau temukan jawabannya? Lalu mengapa kamu memilih agama tersebut? Khususnya disini renungan saya, mengapa memilih ISLAM. Pemeluk agama, agamanya, serta keberagaman agama yang manusia pilih. Islam sendiri asas dasarnya adalah Tauhid. Tauhid atau akidah tersebut adalah fundamental Islam, yang membedakan Islam dengan agama lain. Seorang muslim, pemeluk ISLAM, adalah yang berserah diri. Mereka mengakui hanya satu Tuhan, yaitu Allah SWT.Meyakini Allah mengirim Nabi Muhammad sebagai Rasul bagi umat akhir zaman dan nabi-nabi terdahulu serta rasul terdahulu bagi umat terdahulu.

Cerita terdahulu dari agama-agama samawi mengenai manusia pertama, adalah Adam. Lalu, Adam itu beragama apa? Semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) menyebutkan Adam dalam ajarannya. jadi agamanya apa? Pada Al-Qur’an, kitab suci umat ISLAM, tertulis,
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". “ (QS.2:38)
Adam disuruh untuk mencari petunjukNYA, karena dengan itu dia akan merasa tenang dan tercukupi. Jadi agamanya?he3. Dari dulu, Allah sudah menurunkan petunjukNYA, namun untuk akhir zaman ini dinamakan ISLAM. Lalu bagaimana petunjuk itu datang? Tentunya dari kita ada yang dilahirkan dari keluarga muslim, ada juga saudara kita yang masuk ISLAM setelah mengetahuinya, ada juga yang benar-benar tidak mengetahuinya. Yang sudah ‘islam’ dari lahir, pernahkah merenung mengapa terlahir islam? Yang memilih ISLAM, kenapa memilih itu? Dan yang mengetahui ISLAM, tetapi memilih selain ISLAM tentu memiliki alasannya sendiri. Dalam ISLAM ada konsep hidayah, yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Lalu apakah orang yang tidak masuk ISLAM tidak mendapat hidayah? Sesungguhnya mereka yang mengetahui ISLAM dan tidak memilihnya, sudah diberi petunjuk. Namun manusia memiliki pilihannya sendiri.

Dalam proses menemukan kebenaran tersebut (bagi orang yang berakal) akan tercipta banyak celah masuknya konsep ketuhanan. Teringat kisah Nabi Ibrahim? Beliau mempertanyakan kenapa menyembah patung, padahal patung tersebut tidak mampu memberikan apa-apa. Lalu beliau ‘mencari’ Tuhan, dari bintang, bulan, hingga matahari beliau kira Tuhan (Al-An’aam:74-78). Hingga akhirnya Allah memberinya petunjuk. Jadi hidayah itu ada, dalam proses pencarian kebenaran tersebut. Bisa juga kita memilih Tuhan yang lain, saat mencari kebenaran tersebut. Dalam konsep ISLAM sendiri, tidak ada paksaan dalam memilihnya, Laa ikrooha fiddiin. ISLAM tidak memaksa manusia, karena manusia berakal dan memiliki pilihan. Inilah indahnya ISLAM, benar-benar keikhlasan diri untuk memeluknya. Bagi siapa yang merasa terkekang oleh ISLAM, silakan mencari agama selain itu. Apakah ada? Penulis juga teringat kisah Malcolm X, yang menemukan jawaban atas apa yang ia perjuangkan untuk kaumnya (negro). Ia melihat ISLAM sebagai ajaran pemersatu, tidak ada perbedaan pada semua orang. Kulit putih, kulit hitam, kuning, cokelat, semuanya bersatu. Itulah keindahan yang ia lihat dari ISLAM.

Ada orang yang lahir dari keluarga ISLAM, tapi tidak dapat menikmati indahnya ISLAM. Adapula orang terlahir diluar ISLAM, tetapi mereka menemukan indahnya ISLAM. ISLAM memberikan kebebasan untuk memilih pada manusia
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(QS.18:29)
Lalu kenapa Allah tidak membuat saja semua orang memeluk Islam? Agar semua selamat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:118-119)
Allah telah tegas menjawabnya seperti itu. Dalam bahasa saya, tidak mungkin tercapai kesatuan pendapat dalam segala hal. Sekali lagi karena kita makhluk berbudi dan berakal.

Lalu kenapa di dalam ISLAM sendiri banyak perbedaan dan kelompok? Itu karena perbedaan tingkat pemahaman akal atas firman Allah. Selama akidah tetap Tauhid, kitab suci sama, dan Rasul yang sama, itulah saudara muslim. Bagi yang sudah memilih ISLAM, harus menelannya penuh. Kita dibebaskan memilih agama, tetapi tidak dibebaskan memilah ajaran agama. ISLAM adalah keseluruhan hidupmu, tidak ada sekat pada berbagai aspek. Anda bekerja, belajar, mandi, tidur, semuanya adalah ISLAM. Bahkan konsep kenegaraan pun tidak ada yang disebut demokrasi islami, republik islami. Semua itu adalah ISLAM. Demokrasi hanyalah bagian kecil dari ISLAM, demokrasi yang kita anggap (filsuf yunani), hanyalah pengejewantahan yang sempit dari makna demokrasi dalam ISLAM. Ibaratnya nasi itu adalah demokrasi, maka ISLAM adalah berasnya.

Jadi sungguh indah ISLAM. Rasakan sendiri indahnya ISLAM, raih nikmat ajarannya, sebarkan keindahannya. Jangan jadikan agama itu sebuah hal yang membatasi kasih sayang manusia. Jangan kerukunan kau korbankan atas nama agama, tetapi jangan pula kau nodai kesucian agama demi kerukunan. Hormati pilihan tiap manusia. Tuhanmu sendiri tidak memaksa orang untuk masuk ISLAM, mengapa kamu memaksakannya? Biarlah mereka temukan sendiri kebenarannya, kawan-kawan muslim hanya wajib untuk menyebarkan keindahan ISLAM ini. Inilah yang membuat penulis mantap untuk memilih ISLAM. Semoga islamku, islammu,islam kita,sesuai dengan petunjukNYA.
Read More

Mengapa Beragama ?

Setelah lama tak sempat menulis, saya ‘berani’kan diri menulis lagi. Sekedar renungan untuk diri sendiri, mudah-nudahan renungan bersama. Pada suatu siang di masjid kampus, ada seorang yang mengikrarkan diri menjadi satu bagian dari Islam. Banyak orang yang turut bahagia dengan hal itu, sehingga massa berkumpul di tengah-tengah ruangan. Menjadi saksi ikrar tersebut, sungguh suasana yang hangat. Setiap orang kemudian menyalami orang tersebut dan menyambutnya sebagai saudara. Orang tersebut dengan ikhlas hati memilih Islam, diberi nasehat untuk terus belajar Islam. Belajar dari sumber utama firmanNYA, tuntunan rasulNYA, dan bertanya kepada orang yang berilmu. Disela-sela momen itu, justru membuat jiwa saya bergetar. Ada pertanyaan kembali yang mencuat, “Mengapa kita beragama? Mengapa Islam saya pilih menjadi agama saya?”. Dan banyak pikiran menerawang, efek domino dari pertanyaan itu. Setidaknya hingga saya menemukan ketenangan dari jawaban ini.

Agama dalam definisi buku istilah manusia adalah ajaran, sistem yg mengatur tatakeimanan (kepercayaan) kepadaTuhan YangMahakuasa,dan tata kaidahyg bertalian dengan pergaulan manusiadan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu. Agama adalah sebuah ajaran, yang mempercayai adanya Tuhan (Tuhan seperti apa?) serta kaidahnya atas kepercayaan tersebut pada sesama manusia dan alam. Saya simpulkan bahwa agama adalah tata cara hubungan antara makhluk dan penciptanya (CMIIW). Perlukah kita beragama? Pertanyaan ini tidak akan muncul, jika kita tidak menghayati hidup atau bahkan tidak memaknai keberjalanan hidup kita. Bagi sebagian orang, agama dipandang sebuah status saja. Sehingga jika tidak ada label tersebut, maka merasa bukan bagian umum dari kebudayaan. Tetapi, coba tanyakan hal tersebut pada orang yang memilih menjadi atheis. Padahal seorang atheis sendiri memiliki ‘agama’ sendiri, yang tidak ada dalam kamus keberagamaan umum. Maka untuk apa memilih suatu agama?

Kebutuhan kita akan agama, berawal dari kegelisahan jiwa. Berangkat dari fitrah manusia, bahwa manusia senantiasa mencari kebenaran untuk dirinya, kebaikan dan keindahan yang dapat ia rasakan. Dari kegelisahan jiwa tersebut, muncul celah informasi tentang ketuhanan untuk masuk. Bentuk Tuhan ini ia persepsikan untuk memenuhi kegelisahan tersebut, maka tak heran ada banyak ‘Tuhan’ yang kita ciptakan. Setelah manusia menemukan ‘Tuhan’ tersebut, maka segala sikap batin yang tampak dalam ‘ibadah’nya menyembah ‘Tuhan’ itu tercermin dalam kesehariaannya. Tetapi, apakah cukup menemukan ‘Tuhan’, maka itu disebut beragama?

Fungsi agama adalah menciptakan rasa aman atau sejahtera bagi pemeluknya. Dengan agama yang sedemikian banyak, setiap pemeluk agama telah memiliki ‘kebenaran’ dan rasa aman masing-masing. Interpretasi atas kebenaran tiap agama tersebut ada yang menganggap absolut dan relatif. Ada yang menganggap hanya satu agama yang paling benar. Ada yang menganggap setiap agama itu memilki kebenaran yang relatif. Sehingga timbul persepsi bahwa seluruh agama itu adalah sama, hanya ‘bentuk’nya yang berbeda. Sesungguhnya perlu diberi batasan jelas atas hal ‘kebenaran’ tersebut. Menurut penulis, setiap pemeluk agama harus meyakini bahwa yang dia yakini adalah kebenaran absolut. Sehingga ia dengan jelas memiliki identitas agamanya. Namun tidak serta merta dengan semangat menggebu menginginkan ada satu kesamaan pendapat dan orang lain memeluk agama yang sama. Manusia dengan akal budinya, berhak memilih pilihannya sendiri. Karena, kesatuan pendapat dalam segala hal tidak mungkin tercapai. Sikap absolusitas ini adalah sikap jiwa ke dalam, tidak menuntut pernyataan dari luar bagi yang tidak menyakininya. Karena dia yakin atas kebenaran tersebut dalm pribadinya.

Hidup ini bagaikan lalu lintas manusia, butuh peraturan untuk menghindari ‘tabrakan’ sesama manusia, dengan alam, bahkan ‘kecelakaan’ individu. Lalu aturan yang bagaimana, bisa memberi hal itu?Jika aturan lalu lintas itu dibuat oleh individu tersebut sendiri, maka tidak akan timbul keteraturan. Karena manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, dan yang lebih parah adalah EGO. Dibutuhkan aturan yang maha paripurna. Darimana itu berasal? Harus dari Tuhan yang benar-benar pencipta individu tersebut. Karena Dia lah yang benar-benar mengetahui seluruh kebutuhan manusia atas dialektika dengan sekitarnya. Jadi, agama dari Tuhan itu dibutuhkan untuk mengaturnya. Tentunya bila ‘agama’ tersebut memberikan aturan hidup yang jelas bagi pemeluknya.

Masalah Tuhan ini, biarkan kalian temukan sendiri jawabannya. Kalian harus rasakan sendiri proses mencari kebenaran tersebut, kalian lihat sendiri keindahan Tuhan tersebut, dan kalian rasakan sendiri kebaikanNYA. Setelah itu, kalian harus mengikuti aturan Tuhan tersebut sepenuhnya. Karena, kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Tuhan dan agama. Tuhan tidak perlu pengabdian manusia. Karena jika ‘Tuhan’ itu Tuhan yang sebenarnya, maka tidak akan mengurangi kesempurnaanNYA kita beribadah atau tidak. Justru kemashlahatan manusia itu berasal dari Tuhan, dan kita butuh Dia.

Lalu, mengapa memilih ISLAM sebagai agama? Ada banyak jawabnya, setiap orang memiliki alasan masing-masing. Bahkan ada jawaban mengapa tidak memilih ISLAM. Nanti akan saya bahas disini.
Read More

07/07/2010

Apakah sebatas judi legal ?

Tulisan ini belum 'matang', hanya sekedar unek-unekku saja.

Judi mau dilegalisasi? Wah, makin asyik saja negaraku ini. Sungguh banyak sekali pemandangan per'debat'an di negeriku ini. Ada yang pro, tapi banyak juga yang kontra. Bagaimana dengan Anda? Ada yang berkata kita ini bangsa timur, kebudayaan kita tidak cocok. Kita ini memiliki undang-undang, bahkan pak polisi pun bergerilya untuk memberantas judi, kok sekarang mau dilegalisasi. Tapi ada juga yang berpendapat, bahwa itu devisa negara. Daripada di'telikung' oleh oknum-oknum, lebih baik dilegalisasi biar masuk 'kas' negara. Lebih baik diorganisir, biar lebih 'rapih'. Lalu yang strata ekonomi 'bawah' dilarang judi, hanya yang 'atas' saja. Banyak pendapat yang berkembang.

Wah rame juga ini. Bila dilihat dari undang-undang kita, kita bisa saja mengubah ini. Karena undang-undang kita memang mudah diubah. Mau judi dilegalkan, esok hari pun bisa saja free sex benar-benar dibebaskan. Bila kita lihat dari sudut devisa, berapa besar sih devisa dari judi? Pajak kita sekitar 860 triliun, dan itu belum habis. Mungkin juga sudah di'habis'i oleh yang ber'hak'. Itu semua dari rakyat, dan tidak perlu judi pun sudah lebih dari cukup harusnya. Lalu apa bisa terjaga legalisasi judi ini, tidak merembes pada komunitas umum masyarakat? Bila didekati dari sudut pandang agama, agama mana yang membolehkan berjudi? Lalu misalnya tidak perlu dilegalisasi, dana pembangunan kita juga mungkin dari hal yang haram itu. Mungkin lho..?! Memang secara realitas judi sudah marak di lingkungan kita, polisi pun gencar memberantasnya. Lalu walaupun kita berketuhanan Yang Maha Esa, berasas Pancasila. Masih ada warga negara yang beragama melakukan judi. Padahal katanya tidak ada agama yang memperbolehkan judi. Nah pusing juga kan, saya juga aneh dengan negeri saya.

Jikalau boleh saya memberi masukan, lebih baik kita kembalikan pada masing-masing individu. Tiap-tiap individu berhak untuk menjaga dirinya, atau menentukan pilihannya. Ada suatu nasihat bahwa "Jangan kasih anakmu sesuap nasi yang tidak pasti halal". Selalu perhatikanlah, apakah ada makananan atau minuman yang tidak pasti halalnya. Jangan samapai ada yang haram masuk mulutnya, lalu dicerna dan diurai menjadi zat-zat diproses dalam metabolisme. Kemudian masuk dalam darah, kemudian dia mengalir. Lalu darah itu menentukan denyut jantung, kinerja otak, seluruh kerjanya urat syaraf. Menentukan dialektikanya dengan segala getaran elektromagnetik di kepalanya. Sehingga kalau ada unsur haram dalam dirinya, maka akan membuat akumulatif mudharat dalam dirinya.

Kalau dirutin, susah banget ya menjaga sesuatu yang halal. Sama saja dengan negara ini, kita tidak bisa memastikan apa halal dana yang dipakai buat membangunnya. Kalau tak sengaja perputaran itu masuk dalam diri kita, padahal kita tidak bermaksud untuk hal itu. Maka tak sengaja pula kita me'makan' yang haram. Jadi sebagai manusia, Tuhan telah memberikan metode bagi kita semacam netralisatornya. Bagi yang Islam ya istighfar selalu mohon ampun pada Allah. Maka mungkin saja menurut saya negeri ini sulit untuk maju. Terlalu banyak hal-hal haram yang kita tidak sadar masuk dalam tubuh warga negaranya. Dan mereka pun tidak sadar untuk segera memohon ampun pada Tuhan.

Ya Allah, sungguh ruwet saya melihat fenomena ini. Semoga Kau tidak marah, karena kami masih belajar mendewasakan diri.
Read More