03/04/2011

Mengapa Beragama ?

Setelah lama tak sempat menulis, saya ‘berani’kan diri menulis lagi. Sekedar renungan untuk diri sendiri, mudah-nudahan renungan bersama. Pada suatu siang di masjid kampus, ada seorang yang mengikrarkan diri menjadi satu bagian dari Islam. Banyak orang yang turut bahagia dengan hal itu, sehingga massa berkumpul di tengah-tengah ruangan. Menjadi saksi ikrar tersebut, sungguh suasana yang hangat. Setiap orang kemudian menyalami orang tersebut dan menyambutnya sebagai saudara. Orang tersebut dengan ikhlas hati memilih Islam, diberi nasehat untuk terus belajar Islam. Belajar dari sumber utama firmanNYA, tuntunan rasulNYA, dan bertanya kepada orang yang berilmu. Disela-sela momen itu, justru membuat jiwa saya bergetar. Ada pertanyaan kembali yang mencuat, “Mengapa kita beragama? Mengapa Islam saya pilih menjadi agama saya?”. Dan banyak pikiran menerawang, efek domino dari pertanyaan itu. Setidaknya hingga saya menemukan ketenangan dari jawaban ini.

Agama dalam definisi buku istilah manusia adalah ajaran, sistem yg mengatur tatakeimanan (kepercayaan) kepadaTuhan YangMahakuasa,dan tata kaidahyg bertalian dengan pergaulan manusiadan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu. Agama adalah sebuah ajaran, yang mempercayai adanya Tuhan (Tuhan seperti apa?) serta kaidahnya atas kepercayaan tersebut pada sesama manusia dan alam. Saya simpulkan bahwa agama adalah tata cara hubungan antara makhluk dan penciptanya (CMIIW). Perlukah kita beragama? Pertanyaan ini tidak akan muncul, jika kita tidak menghayati hidup atau bahkan tidak memaknai keberjalanan hidup kita. Bagi sebagian orang, agama dipandang sebuah status saja. Sehingga jika tidak ada label tersebut, maka merasa bukan bagian umum dari kebudayaan. Tetapi, coba tanyakan hal tersebut pada orang yang memilih menjadi atheis. Padahal seorang atheis sendiri memiliki ‘agama’ sendiri, yang tidak ada dalam kamus keberagamaan umum. Maka untuk apa memilih suatu agama?

Kebutuhan kita akan agama, berawal dari kegelisahan jiwa. Berangkat dari fitrah manusia, bahwa manusia senantiasa mencari kebenaran untuk dirinya, kebaikan dan keindahan yang dapat ia rasakan. Dari kegelisahan jiwa tersebut, muncul celah informasi tentang ketuhanan untuk masuk. Bentuk Tuhan ini ia persepsikan untuk memenuhi kegelisahan tersebut, maka tak heran ada banyak ‘Tuhan’ yang kita ciptakan. Setelah manusia menemukan ‘Tuhan’ tersebut, maka segala sikap batin yang tampak dalam ‘ibadah’nya menyembah ‘Tuhan’ itu tercermin dalam kesehariaannya. Tetapi, apakah cukup menemukan ‘Tuhan’, maka itu disebut beragama?

Fungsi agama adalah menciptakan rasa aman atau sejahtera bagi pemeluknya. Dengan agama yang sedemikian banyak, setiap pemeluk agama telah memiliki ‘kebenaran’ dan rasa aman masing-masing. Interpretasi atas kebenaran tiap agama tersebut ada yang menganggap absolut dan relatif. Ada yang menganggap hanya satu agama yang paling benar. Ada yang menganggap setiap agama itu memilki kebenaran yang relatif. Sehingga timbul persepsi bahwa seluruh agama itu adalah sama, hanya ‘bentuk’nya yang berbeda. Sesungguhnya perlu diberi batasan jelas atas hal ‘kebenaran’ tersebut. Menurut penulis, setiap pemeluk agama harus meyakini bahwa yang dia yakini adalah kebenaran absolut. Sehingga ia dengan jelas memiliki identitas agamanya. Namun tidak serta merta dengan semangat menggebu menginginkan ada satu kesamaan pendapat dan orang lain memeluk agama yang sama. Manusia dengan akal budinya, berhak memilih pilihannya sendiri. Karena, kesatuan pendapat dalam segala hal tidak mungkin tercapai. Sikap absolusitas ini adalah sikap jiwa ke dalam, tidak menuntut pernyataan dari luar bagi yang tidak menyakininya. Karena dia yakin atas kebenaran tersebut dalm pribadinya.

Hidup ini bagaikan lalu lintas manusia, butuh peraturan untuk menghindari ‘tabrakan’ sesama manusia, dengan alam, bahkan ‘kecelakaan’ individu. Lalu aturan yang bagaimana, bisa memberi hal itu?Jika aturan lalu lintas itu dibuat oleh individu tersebut sendiri, maka tidak akan timbul keteraturan. Karena manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, dan yang lebih parah adalah EGO. Dibutuhkan aturan yang maha paripurna. Darimana itu berasal? Harus dari Tuhan yang benar-benar pencipta individu tersebut. Karena Dia lah yang benar-benar mengetahui seluruh kebutuhan manusia atas dialektika dengan sekitarnya. Jadi, agama dari Tuhan itu dibutuhkan untuk mengaturnya. Tentunya bila ‘agama’ tersebut memberikan aturan hidup yang jelas bagi pemeluknya.

Masalah Tuhan ini, biarkan kalian temukan sendiri jawabannya. Kalian harus rasakan sendiri proses mencari kebenaran tersebut, kalian lihat sendiri keindahan Tuhan tersebut, dan kalian rasakan sendiri kebaikanNYA. Setelah itu, kalian harus mengikuti aturan Tuhan tersebut sepenuhnya. Karena, kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Tuhan dan agama. Tuhan tidak perlu pengabdian manusia. Karena jika ‘Tuhan’ itu Tuhan yang sebenarnya, maka tidak akan mengurangi kesempurnaanNYA kita beribadah atau tidak. Justru kemashlahatan manusia itu berasal dari Tuhan, dan kita butuh Dia.

Lalu, mengapa memilih ISLAM sebagai agama? Ada banyak jawabnya, setiap orang memiliki alasan masing-masing. Bahkan ada jawaban mengapa tidak memilih ISLAM. Nanti akan saya bahas disini.