Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts
16/02/2013
Warisan Petani Kebaikan
Ini bukan ucapan selamat tinggal.
Hanya simbol perpisahan ke terminal pengembaraan.
Perpisahan wajar adanya,
yang berbahaya bila setelah itu saling lupa.
Lupa saat suka dibagi.
Lupa saat duka berbagi.
Lupa saat berjuang atas satu nama.
Lupa kalau kau dan aku, kalian dan kami pernah menjadi 'kita'.
Lupa kalau kita pernah membawa asa yang sama.
Kalianlah kami pada masa itu, yang mungkin lebih baik masa ini.
Maka kata-kata ini yang kami titipkan pada kalian.
Kalian pewaris tunas, batang, daun dari pohon dakwah yang kita tanam,
untuk masa panen tak terdata nalar kita.
Mungkin sang petani telah mengolah ladang lain,
atau tanah desa akhirat telah kita telantarkan, karena tergoda kota duniawi.
Tapi semoga pohon itu tetap tumbuh,
tinggi besar lebat daunnya menaungi pejalan muda yang singgah,
mungkin suatu waktu buahnya jatuh tanpa dipetik, atau terjangkau tangan masa depan.
Kami wariskan lahan pahala dan pohon dakwah ini pada kalian.
Petani kebaikan, bercocok tanamlah akhlak.
Siramilah dengan teko-teko air ilmu yang kalian timba dari sumur kehidupan.
Jangan biarkan ilmu menguap, teko kosong, penuhilah setiap kala.
Tahanlah diri dari iklan-iklan kota dunia yang membuang potensi mengolah desa akhirat.
Mungkin kota disana tawarkan megah, semoga berkah juga desanya, rumahnya, dirinya.
Bersatulah ilmu kota dengan sumber daya alam desa, akan membawa kalian pada bahagia tak fana.
Jadilah petani yang berani membawa cangkulnya, mengolah dan menggemburkan tanah islam.
Membentuk gumpalan tanah lembut yang menyuburkan, bahkan cacing pun riang disela-selanya.
Jadilah petani yang memimpin pembukaan lahan, bukan sekedar buruh paruh waktu.
Menunggu upah bayaran, bukan nikmatnya buah akhir penantian.
Percayalah hama-hama itu tak akan memakan pohon dakwah,
selama pupuk taujih dan udara kebenaran teresap pada akar iman kalian.
Terkadang petani pun capai, tapi peluhnya adalah angan bahagia menanti buah pohon.
Semoga kawan petani juga berpeluh bahagia, bukan putus asa karena angin pancaroba.
Berpeganglah pada akar ukhuwah, melilit dan menghujam dalam pada tanah.
Petani pun tak berkuasa atas pohonnya.
Kapan ia tumbuh, berbuah dan meranggas adalah Dia yang mengatur.
Perputaran matahari dan musim, bukan penentu pohon tumbuh.
Petani hanya bisa bercocok tanam, menyiram, memupuk dan menjaga kesuburannya.
Bukan menghakimi bentuk buah, bunga, arah daun yang mungkin kita pangkas.
Percayalah bunga akan bermekaran pada masanya, buah akan ranum pada saatnya.
Semoga ranum buah manis,
tak masam karena kimia pupuk yang salah kita beli pada penjual thariqah.
Itulah lahan yang tersedia, perlengkapan tani yang kami siapkan,
sumur-sumur ilmu yang telah digali.
Perlakukan dan pergunakan dengan bijak.
Maafkanlah kami yang belum mengajarkan bercocok tanam yang ihsan, membuka ladang dengan damai.
Kami sudah harus menuju terminal kembara, mencari lahan dan ladang lain.
Tanamlah yang belum tertanam, suburkanlah yang tak subur, teruskanlah bercocok tanam kebaikan.
Read More
Hanya simbol perpisahan ke terminal pengembaraan.
Perpisahan wajar adanya,
yang berbahaya bila setelah itu saling lupa.
Lupa saat suka dibagi.
Lupa saat duka berbagi.
Lupa saat berjuang atas satu nama.
Lupa kalau kau dan aku, kalian dan kami pernah menjadi 'kita'.
Lupa kalau kita pernah membawa asa yang sama.
Kalianlah kami pada masa itu, yang mungkin lebih baik masa ini.
Maka kata-kata ini yang kami titipkan pada kalian.
Kalian pewaris tunas, batang, daun dari pohon dakwah yang kita tanam,
untuk masa panen tak terdata nalar kita.
Mungkin sang petani telah mengolah ladang lain,
atau tanah desa akhirat telah kita telantarkan, karena tergoda kota duniawi.
Tapi semoga pohon itu tetap tumbuh,
tinggi besar lebat daunnya menaungi pejalan muda yang singgah,
mungkin suatu waktu buahnya jatuh tanpa dipetik, atau terjangkau tangan masa depan.
Kami wariskan lahan pahala dan pohon dakwah ini pada kalian.
Petani kebaikan, bercocok tanamlah akhlak.
Siramilah dengan teko-teko air ilmu yang kalian timba dari sumur kehidupan.
Jangan biarkan ilmu menguap, teko kosong, penuhilah setiap kala.
Tahanlah diri dari iklan-iklan kota dunia yang membuang potensi mengolah desa akhirat.
Mungkin kota disana tawarkan megah, semoga berkah juga desanya, rumahnya, dirinya.
Bersatulah ilmu kota dengan sumber daya alam desa, akan membawa kalian pada bahagia tak fana.
Jadilah petani yang berani membawa cangkulnya, mengolah dan menggemburkan tanah islam.
Membentuk gumpalan tanah lembut yang menyuburkan, bahkan cacing pun riang disela-selanya.
Jadilah petani yang memimpin pembukaan lahan, bukan sekedar buruh paruh waktu.
Menunggu upah bayaran, bukan nikmatnya buah akhir penantian.
Percayalah hama-hama itu tak akan memakan pohon dakwah,
selama pupuk taujih dan udara kebenaran teresap pada akar iman kalian.
Terkadang petani pun capai, tapi peluhnya adalah angan bahagia menanti buah pohon.
Semoga kawan petani juga berpeluh bahagia, bukan putus asa karena angin pancaroba.
Berpeganglah pada akar ukhuwah, melilit dan menghujam dalam pada tanah.
Petani pun tak berkuasa atas pohonnya.
Kapan ia tumbuh, berbuah dan meranggas adalah Dia yang mengatur.
Perputaran matahari dan musim, bukan penentu pohon tumbuh.
Petani hanya bisa bercocok tanam, menyiram, memupuk dan menjaga kesuburannya.
Bukan menghakimi bentuk buah, bunga, arah daun yang mungkin kita pangkas.
Percayalah bunga akan bermekaran pada masanya, buah akan ranum pada saatnya.
Semoga ranum buah manis,
tak masam karena kimia pupuk yang salah kita beli pada penjual thariqah.
Itulah lahan yang tersedia, perlengkapan tani yang kami siapkan,
sumur-sumur ilmu yang telah digali.
Perlakukan dan pergunakan dengan bijak.
Maafkanlah kami yang belum mengajarkan bercocok tanam yang ihsan, membuka ladang dengan damai.
Kami sudah harus menuju terminal kembara, mencari lahan dan ladang lain.
Tanamlah yang belum tertanam, suburkanlah yang tak subur, teruskanlah bercocok tanam kebaikan.
03/04/2011
Mengapa Memilih Islam ?
Mengapa Anda beragama? Sudahkah kau temukan jawabannya? Lalu mengapa kamu memilih agama tersebut? Khususnya disini renungan saya, mengapa memilih ISLAM. Pemeluk agama, agamanya, serta keberagaman agama yang manusia pilih. Islam sendiri asas dasarnya adalah Tauhid. Tauhid atau akidah tersebut adalah fundamental Islam, yang membedakan Islam dengan agama lain. Seorang muslim, pemeluk ISLAM, adalah yang berserah diri. Mereka mengakui hanya satu Tuhan, yaitu Allah SWT.Meyakini Allah mengirim Nabi Muhammad sebagai Rasul bagi umat akhir zaman dan nabi-nabi terdahulu serta rasul terdahulu bagi umat terdahulu.
Cerita terdahulu dari agama-agama samawi mengenai manusia pertama, adalah Adam. Lalu, Adam itu beragama apa? Semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) menyebutkan Adam dalam ajarannya. jadi agamanya apa? Pada Al-Qur’an, kitab suci umat ISLAM, tertulis,
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". “ (QS.2:38)
Adam disuruh untuk mencari petunjukNYA, karena dengan itu dia akan merasa tenang dan tercukupi. Jadi agamanya?he3. Dari dulu, Allah sudah menurunkan petunjukNYA, namun untuk akhir zaman ini dinamakan ISLAM. Lalu bagaimana petunjuk itu datang? Tentunya dari kita ada yang dilahirkan dari keluarga muslim, ada juga saudara kita yang masuk ISLAM setelah mengetahuinya, ada juga yang benar-benar tidak mengetahuinya. Yang sudah ‘islam’ dari lahir, pernahkah merenung mengapa terlahir islam? Yang memilih ISLAM, kenapa memilih itu? Dan yang mengetahui ISLAM, tetapi memilih selain ISLAM tentu memiliki alasannya sendiri. Dalam ISLAM ada konsep hidayah, yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Lalu apakah orang yang tidak masuk ISLAM tidak mendapat hidayah? Sesungguhnya mereka yang mengetahui ISLAM dan tidak memilihnya, sudah diberi petunjuk. Namun manusia memiliki pilihannya sendiri.
Dalam proses menemukan kebenaran tersebut (bagi orang yang berakal) akan tercipta banyak celah masuknya konsep ketuhanan. Teringat kisah Nabi Ibrahim? Beliau mempertanyakan kenapa menyembah patung, padahal patung tersebut tidak mampu memberikan apa-apa. Lalu beliau ‘mencari’ Tuhan, dari bintang, bulan, hingga matahari beliau kira Tuhan (Al-An’aam:74-78). Hingga akhirnya Allah memberinya petunjuk. Jadi hidayah itu ada, dalam proses pencarian kebenaran tersebut. Bisa juga kita memilih Tuhan yang lain, saat mencari kebenaran tersebut. Dalam konsep ISLAM sendiri, tidak ada paksaan dalam memilihnya, Laa ikrooha fiddiin. ISLAM tidak memaksa manusia, karena manusia berakal dan memiliki pilihan. Inilah indahnya ISLAM, benar-benar keikhlasan diri untuk memeluknya. Bagi siapa yang merasa terkekang oleh ISLAM, silakan mencari agama selain itu. Apakah ada? Penulis juga teringat kisah Malcolm X, yang menemukan jawaban atas apa yang ia perjuangkan untuk kaumnya (negro). Ia melihat ISLAM sebagai ajaran pemersatu, tidak ada perbedaan pada semua orang. Kulit putih, kulit hitam, kuning, cokelat, semuanya bersatu. Itulah keindahan yang ia lihat dari ISLAM.
Ada orang yang lahir dari keluarga ISLAM, tapi tidak dapat menikmati indahnya ISLAM. Adapula orang terlahir diluar ISLAM, tetapi mereka menemukan indahnya ISLAM. ISLAM memberikan kebebasan untuk memilih pada manusia
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(QS.18:29)
Lalu kenapa Allah tidak membuat saja semua orang memeluk Islam? Agar semua selamat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:118-119)
Allah telah tegas menjawabnya seperti itu. Dalam bahasa saya, tidak mungkin tercapai kesatuan pendapat dalam segala hal. Sekali lagi karena kita makhluk berbudi dan berakal.
Lalu kenapa di dalam ISLAM sendiri banyak perbedaan dan kelompok? Itu karena perbedaan tingkat pemahaman akal atas firman Allah. Selama akidah tetap Tauhid, kitab suci sama, dan Rasul yang sama, itulah saudara muslim. Bagi yang sudah memilih ISLAM, harus menelannya penuh. Kita dibebaskan memilih agama, tetapi tidak dibebaskan memilah ajaran agama. ISLAM adalah keseluruhan hidupmu, tidak ada sekat pada berbagai aspek. Anda bekerja, belajar, mandi, tidur, semuanya adalah ISLAM. Bahkan konsep kenegaraan pun tidak ada yang disebut demokrasi islami, republik islami. Semua itu adalah ISLAM. Demokrasi hanyalah bagian kecil dari ISLAM, demokrasi yang kita anggap (filsuf yunani), hanyalah pengejewantahan yang sempit dari makna demokrasi dalam ISLAM. Ibaratnya nasi itu adalah demokrasi, maka ISLAM adalah berasnya.
Jadi sungguh indah ISLAM. Rasakan sendiri indahnya ISLAM, raih nikmat ajarannya, sebarkan keindahannya. Jangan jadikan agama itu sebuah hal yang membatasi kasih sayang manusia. Jangan kerukunan kau korbankan atas nama agama, tetapi jangan pula kau nodai kesucian agama demi kerukunan. Hormati pilihan tiap manusia. Tuhanmu sendiri tidak memaksa orang untuk masuk ISLAM, mengapa kamu memaksakannya? Biarlah mereka temukan sendiri kebenarannya, kawan-kawan muslim hanya wajib untuk menyebarkan keindahan ISLAM ini. Inilah yang membuat penulis mantap untuk memilih ISLAM. Semoga islamku, islammu,islam kita,sesuai dengan petunjukNYA.
Read More
Cerita terdahulu dari agama-agama samawi mengenai manusia pertama, adalah Adam. Lalu, Adam itu beragama apa? Semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) menyebutkan Adam dalam ajarannya. jadi agamanya apa? Pada Al-Qur’an, kitab suci umat ISLAM, tertulis,
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". “ (QS.2:38)
Adam disuruh untuk mencari petunjukNYA, karena dengan itu dia akan merasa tenang dan tercukupi. Jadi agamanya?he3. Dari dulu, Allah sudah menurunkan petunjukNYA, namun untuk akhir zaman ini dinamakan ISLAM. Lalu bagaimana petunjuk itu datang? Tentunya dari kita ada yang dilahirkan dari keluarga muslim, ada juga saudara kita yang masuk ISLAM setelah mengetahuinya, ada juga yang benar-benar tidak mengetahuinya. Yang sudah ‘islam’ dari lahir, pernahkah merenung mengapa terlahir islam? Yang memilih ISLAM, kenapa memilih itu? Dan yang mengetahui ISLAM, tetapi memilih selain ISLAM tentu memiliki alasannya sendiri. Dalam ISLAM ada konsep hidayah, yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Lalu apakah orang yang tidak masuk ISLAM tidak mendapat hidayah? Sesungguhnya mereka yang mengetahui ISLAM dan tidak memilihnya, sudah diberi petunjuk. Namun manusia memiliki pilihannya sendiri.
Dalam proses menemukan kebenaran tersebut (bagi orang yang berakal) akan tercipta banyak celah masuknya konsep ketuhanan. Teringat kisah Nabi Ibrahim? Beliau mempertanyakan kenapa menyembah patung, padahal patung tersebut tidak mampu memberikan apa-apa. Lalu beliau ‘mencari’ Tuhan, dari bintang, bulan, hingga matahari beliau kira Tuhan (Al-An’aam:74-78). Hingga akhirnya Allah memberinya petunjuk. Jadi hidayah itu ada, dalam proses pencarian kebenaran tersebut. Bisa juga kita memilih Tuhan yang lain, saat mencari kebenaran tersebut. Dalam konsep ISLAM sendiri, tidak ada paksaan dalam memilihnya, Laa ikrooha fiddiin. ISLAM tidak memaksa manusia, karena manusia berakal dan memiliki pilihan. Inilah indahnya ISLAM, benar-benar keikhlasan diri untuk memeluknya. Bagi siapa yang merasa terkekang oleh ISLAM, silakan mencari agama selain itu. Apakah ada? Penulis juga teringat kisah Malcolm X, yang menemukan jawaban atas apa yang ia perjuangkan untuk kaumnya (negro). Ia melihat ISLAM sebagai ajaran pemersatu, tidak ada perbedaan pada semua orang. Kulit putih, kulit hitam, kuning, cokelat, semuanya bersatu. Itulah keindahan yang ia lihat dari ISLAM.
Ada orang yang lahir dari keluarga ISLAM, tapi tidak dapat menikmati indahnya ISLAM. Adapula orang terlahir diluar ISLAM, tetapi mereka menemukan indahnya ISLAM. ISLAM memberikan kebebasan untuk memilih pada manusia
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(QS.18:29)
Lalu kenapa Allah tidak membuat saja semua orang memeluk Islam? Agar semua selamat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:118-119)
Allah telah tegas menjawabnya seperti itu. Dalam bahasa saya, tidak mungkin tercapai kesatuan pendapat dalam segala hal. Sekali lagi karena kita makhluk berbudi dan berakal.
Lalu kenapa di dalam ISLAM sendiri banyak perbedaan dan kelompok? Itu karena perbedaan tingkat pemahaman akal atas firman Allah. Selama akidah tetap Tauhid, kitab suci sama, dan Rasul yang sama, itulah saudara muslim. Bagi yang sudah memilih ISLAM, harus menelannya penuh. Kita dibebaskan memilih agama, tetapi tidak dibebaskan memilah ajaran agama. ISLAM adalah keseluruhan hidupmu, tidak ada sekat pada berbagai aspek. Anda bekerja, belajar, mandi, tidur, semuanya adalah ISLAM. Bahkan konsep kenegaraan pun tidak ada yang disebut demokrasi islami, republik islami. Semua itu adalah ISLAM. Demokrasi hanyalah bagian kecil dari ISLAM, demokrasi yang kita anggap (filsuf yunani), hanyalah pengejewantahan yang sempit dari makna demokrasi dalam ISLAM. Ibaratnya nasi itu adalah demokrasi, maka ISLAM adalah berasnya.
Jadi sungguh indah ISLAM. Rasakan sendiri indahnya ISLAM, raih nikmat ajarannya, sebarkan keindahannya. Jangan jadikan agama itu sebuah hal yang membatasi kasih sayang manusia. Jangan kerukunan kau korbankan atas nama agama, tetapi jangan pula kau nodai kesucian agama demi kerukunan. Hormati pilihan tiap manusia. Tuhanmu sendiri tidak memaksa orang untuk masuk ISLAM, mengapa kamu memaksakannya? Biarlah mereka temukan sendiri kebenarannya, kawan-kawan muslim hanya wajib untuk menyebarkan keindahan ISLAM ini. Inilah yang membuat penulis mantap untuk memilih ISLAM. Semoga islamku, islammu,islam kita,sesuai dengan petunjukNYA.
12/02/2010
Sistem Pemerintahan Islam (KHILAFAH)
Sebelumnya kita telah mengetahui 3 aspek dasar dalam politik Islam, lihat ini, sekarang saya coba membahas mengenai aplikasinya dalam kekhalifahan. Yang belum mengetahui 3 aspek itu, lebih baik membaca tulisan saya 'Sistem Politik Islam'. Sekali lagi tulisan ini saya buat berdasarkan pemikiran saya dari buku-buku yang saya baca. Jadi sebelumnya mohon maaf kalau ada yang kurang atau mungkin keliru. Tujuan saya adalah membagi ilmu dan saling mengingatkan, serta meningkatkan kualitas diri masing-masing.
Okelah kalau begitu, telah jelas bahwa dalam khilafah tidak ada individu, dinasti, atau kelas yang bisa disebut khalifah, kecuali dengan persyaratan bahwa wewenang khilafah dipegang oleh seluruh rakyat yang bersedia memenuhi persyaratan 'perwakilan' (khilafah) setelah mereka menerima prinsip-prinsip Tauhid dan Risalah. Masyarakat seperti ini secara keseluruhan memikul tanggung jawab khilafah dan setiap inidividu memiliki hak dan tanggungjawab sebagai khalifah Tuhan. Setiap orang dalam masyarakat ini sederajat kedudukannya, tidak ada yang dapat merampas hak-hak dan kekuasaan itu. Lembaga dan wewenang negara merupakan extension (pelimpahan) dari wewenang individu-individu masyarakat. Siapapun yang memperoleh kepercayaan masyarakat atau dibaiat masyarakat akan menjadi pelaksana kewajiban-kewajiban kekhalifahan atas nama rakyat. Dalam hal ini Islam sangat 'demokratis', bahkan kekhalifahan itu lebih sempurna dari demokrasi. Hukum-hukumnya jelas berasal dari Tuhan, bukan akal manusia. Perbedaan lainnya dengan Demokrasi Barat ialah kedaulatan demokrasi ada di tangan rakyat, sedangkan kedaulatan dalam khilafah hanya berada pada tangan Allah dan manusia hanya perwakilannya di bumi. Dalam Demokrasi, hukum-hukum diciptakan oleh manusia itu sendiri sedangkan dalam khilafah masyarakat harus tunduk pada hukum-hukum Allah (syari'at) yang disampaikan melalui Rasulullah. Dalam Demokrasi Barat, pemerintah memenuhi kehendak rakyat; sedangkan kekhalifahan, pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan dimana tujuannya memenuhi kehendak dan tujuan Tuhan. Singkatnya Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan cara bebas dan tak terkontrol. Dalam kekhalifahan adalah kepatuhan kepada hukum Tuhan dan melaksananakannya dalam wewenang sesuai perintah Tuhan dan dalam batas-batas yang digariskan oleh-Nya. ”Hendaklah kamu menetapkan hukum diantara mereka berdasarkan apa yang diturunkan Allah” (QS. Al Maidah [5]: 49)
Bertolak dari 3 aspek dasar politik Islam serta sistem khilafah, maka tujuan pemerintahan akan kita bahas lebih lanjut. Secara gamblang tujuan sistem Islam adalah menegakkan serta memelihara kebajikan-kebajikan yang dikehendak Sang Pencipta. Sistem Islam / pemerintahan Islam tidak hanya untuk administrasi politik saja, tidak pula untuk tujuan kolektif suatu bangsa. Islam menyuguhkan ideologi untuk mengembangkan sifat-sifat kesucian dan kesejahteraan dan mencegah eksploitasi ketidakadilan dan kekacauan. Islam menggariskan kebijaksanaan yang tak bisa diubah oleh pemerintahan. Pemerintahan dalam bagaiamanapun juga tidak boleh membiarkan penipuan dan ketidakadilan dalam alasan politik sekalipun kepentingan bersama. Pemerintah menjunjung tinggi prinsip kebenaran yang hakiki. Kejujuran dan keadilan harus didahulukan dibanding pemikiran material. Individu dan negara memiliki kewajiban yang sama untuk memenuhi kehendak Tuhan. Memandang kekuasaan sebagai amanat dari Allah dan menggunakannya dengan keyakinan bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat. “Jika kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menghukum dengan adil (QS. An Nisa’[4]: 58)
Ada wacana bahwa Sistem Islam seperti ini membatasi bahkan mengekang hak-hak manusia, itu adalah tidak benar. Berikut akan dijelaskan singkat mengenai hak-hak itu. Penjelasan lebih lanjut mungkin dalam kesempatan lain (hehehe). Islam telah menetapkan beberapa hak dasar bagi manusia yang harus dihormati dan ditegakkan dalam situasi apapun. Darah manusia adalah suci dalam keadaan bagaimanapun juga dan tidak boleh ditumpahkan tanpa justifikasi. Kesucian wanita harus dijunjung tinggi, mereka yang kelaparan harus diberi makan, mereka yang telanjang diberi pakaian, mereka yang sakit harus dirawat tanpa memandang apakah mereka termasuk masyarakat Islam ataupun pihak asing. Inilah beberapa hak dasar manusia yang diperoleh dari Allah dan dinikmatinya dalam konstitusi Islam. Bahkan kewarganegaraan Islam tak terbatas pada wilayah, atau kelahiran. Setiap umat Islam adalah keluarga dalam naungan konstitusi Islam. Setiap Muslim memiliki hak tersebut tanpa memandang ras, maupun kelas sosialnya.
Islam juga menetapkan hak-hak tertentu pada pihak non-Muslim atau dzimmi (mereka yang terikat perjanjian). Sistem Islam memfasilitasi dengan mereka membuat perjanjian dan menjamin perlindungan mereka. Hidup, harta benda dan kehormatan mereka harus dilindungi dan dihormati sebagaimana hak seorang Muslim. Pemerintahan Islam tidak ikut campur masalah pribadi kaum dzimmi. Misal dalam pelaksanaan ibadah mereka. Mereka juga mempunyai hak mengkritik pemerintahan dalam adab kesopanan yang berlaku. Hak-hak tersebut termasuk hak sipil tidak bisa dirampas dari kaum dzimmi kecuali mereka memutuskan perjanjian tersebut dengan pemerintah Islam. Tidak ada penindasan terhadap non-Muslim, pemerintah tidak boleh menumpahkan darah seorang dzimmi secara tidak adil.
Berikut penjelasan singkat mengenai administrasi sistem Islam. Tanggungjawab pengelolaan adminstratif pemerintahan berada di tangan seorang pemimpin ('amir). Kualifikasi dasar seoran 'amir adalah ia harus mendapat kepercayaan rakyat dan dibaiat oleh rakyat. Dia juga harus memahami ruh/semangat Islam dan bertaqwa pada Allah. Singkatnya ia harus orang yang saleh dan cakap dalam urusan pemerintahan. Sebuah dean penasehat (syura) juga harus dibentuk untuk membantu dan memberi bimbingan kepada 'amir dalam menjalankan tugasnya. Fungsi legislatif dipegan oleh 'amir dengan keputusannya berdasar dari nasehat dewan syura ini. 'Amir dapat menduduki jabatannya selama ia masih mendapat kepercayaan dari rakyat. 'Amir menjalankan pemerintahan berkonsultasi dengan dewan syura dan dalam batas-batas syariat. Setiap warga negara berhak mengkritik 'Amir. Legislasi dalam sistem Islam juga dibatasi oleh syariat dan tak ada keputusan yang boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dengan demikian harus terdapat ahli dalam sub-dewan syura yang memberi nasehat pada 'Amir dalam hal legislatif. Keputusan legislatif 'Amir hanya kita yakini dalam hal 'badaniyah', bukan 'ruhuniyah' karena ruhnya tetap syariat Islam. Lalu kekuasaan yudikatif memperoleh wewenangnya langsung dari syariat, dan bertanggung jawab kepada Allah. Hakim-hakim dipilih oleh pemerintah namun sekali telah didaulat menjadi hakim maka harus mematuhi hukum-hukum Allah dalam pengambilan keputusannya dengan cara tidak memihak. Baik rakyat maupun pejabat pemerintahan tunduk pada hukum yang sama dan berada dalam pandangan hukum yang sama tanpa keistimewaan khusus. Islam adalah persamaan hak dan akan selalu berpegang pada prinsip ini dalam masalah sosial, ekonomi maupun politik. InsyaAllah saya akan mencoba membahas hak asasi manusia dalam Islam pada kesempatan nanti, dari buku-buku yang saya baca.
Read More
Okelah kalau begitu, telah jelas bahwa dalam khilafah tidak ada individu, dinasti, atau kelas yang bisa disebut khalifah, kecuali dengan persyaratan bahwa wewenang khilafah dipegang oleh seluruh rakyat yang bersedia memenuhi persyaratan 'perwakilan' (khilafah) setelah mereka menerima prinsip-prinsip Tauhid dan Risalah. Masyarakat seperti ini secara keseluruhan memikul tanggung jawab khilafah dan setiap inidividu memiliki hak dan tanggungjawab sebagai khalifah Tuhan. Setiap orang dalam masyarakat ini sederajat kedudukannya, tidak ada yang dapat merampas hak-hak dan kekuasaan itu. Lembaga dan wewenang negara merupakan extension (pelimpahan) dari wewenang individu-individu masyarakat. Siapapun yang memperoleh kepercayaan masyarakat atau dibaiat masyarakat akan menjadi pelaksana kewajiban-kewajiban kekhalifahan atas nama rakyat. Dalam hal ini Islam sangat 'demokratis', bahkan kekhalifahan itu lebih sempurna dari demokrasi. Hukum-hukumnya jelas berasal dari Tuhan, bukan akal manusia. Perbedaan lainnya dengan Demokrasi Barat ialah kedaulatan demokrasi ada di tangan rakyat, sedangkan kedaulatan dalam khilafah hanya berada pada tangan Allah dan manusia hanya perwakilannya di bumi. Dalam Demokrasi, hukum-hukum diciptakan oleh manusia itu sendiri sedangkan dalam khilafah masyarakat harus tunduk pada hukum-hukum Allah (syari'at) yang disampaikan melalui Rasulullah. Dalam Demokrasi Barat, pemerintah memenuhi kehendak rakyat; sedangkan kekhalifahan, pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan dimana tujuannya memenuhi kehendak dan tujuan Tuhan. Singkatnya Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak untuk memenuhi kebutuhan sendiri dengan cara bebas dan tak terkontrol. Dalam kekhalifahan adalah kepatuhan kepada hukum Tuhan dan melaksananakannya dalam wewenang sesuai perintah Tuhan dan dalam batas-batas yang digariskan oleh-Nya. ”Hendaklah kamu menetapkan hukum diantara mereka berdasarkan apa yang diturunkan Allah” (QS. Al Maidah [5]: 49)
Bertolak dari 3 aspek dasar politik Islam serta sistem khilafah, maka tujuan pemerintahan akan kita bahas lebih lanjut. Secara gamblang tujuan sistem Islam adalah menegakkan serta memelihara kebajikan-kebajikan yang dikehendak Sang Pencipta. Sistem Islam / pemerintahan Islam tidak hanya untuk administrasi politik saja, tidak pula untuk tujuan kolektif suatu bangsa. Islam menyuguhkan ideologi untuk mengembangkan sifat-sifat kesucian dan kesejahteraan dan mencegah eksploitasi ketidakadilan dan kekacauan. Islam menggariskan kebijaksanaan yang tak bisa diubah oleh pemerintahan. Pemerintahan dalam bagaiamanapun juga tidak boleh membiarkan penipuan dan ketidakadilan dalam alasan politik sekalipun kepentingan bersama. Pemerintah menjunjung tinggi prinsip kebenaran yang hakiki. Kejujuran dan keadilan harus didahulukan dibanding pemikiran material. Individu dan negara memiliki kewajiban yang sama untuk memenuhi kehendak Tuhan. Memandang kekuasaan sebagai amanat dari Allah dan menggunakannya dengan keyakinan bahwa kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah di akhirat. “Jika kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menghukum dengan adil (QS. An Nisa’[4]: 58)
Ada wacana bahwa Sistem Islam seperti ini membatasi bahkan mengekang hak-hak manusia, itu adalah tidak benar. Berikut akan dijelaskan singkat mengenai hak-hak itu. Penjelasan lebih lanjut mungkin dalam kesempatan lain (hehehe). Islam telah menetapkan beberapa hak dasar bagi manusia yang harus dihormati dan ditegakkan dalam situasi apapun. Darah manusia adalah suci dalam keadaan bagaimanapun juga dan tidak boleh ditumpahkan tanpa justifikasi. Kesucian wanita harus dijunjung tinggi, mereka yang kelaparan harus diberi makan, mereka yang telanjang diberi pakaian, mereka yang sakit harus dirawat tanpa memandang apakah mereka termasuk masyarakat Islam ataupun pihak asing. Inilah beberapa hak dasar manusia yang diperoleh dari Allah dan dinikmatinya dalam konstitusi Islam. Bahkan kewarganegaraan Islam tak terbatas pada wilayah, atau kelahiran. Setiap umat Islam adalah keluarga dalam naungan konstitusi Islam. Setiap Muslim memiliki hak tersebut tanpa memandang ras, maupun kelas sosialnya.
Islam juga menetapkan hak-hak tertentu pada pihak non-Muslim atau dzimmi (mereka yang terikat perjanjian). Sistem Islam memfasilitasi dengan mereka membuat perjanjian dan menjamin perlindungan mereka. Hidup, harta benda dan kehormatan mereka harus dilindungi dan dihormati sebagaimana hak seorang Muslim. Pemerintahan Islam tidak ikut campur masalah pribadi kaum dzimmi. Misal dalam pelaksanaan ibadah mereka. Mereka juga mempunyai hak mengkritik pemerintahan dalam adab kesopanan yang berlaku. Hak-hak tersebut termasuk hak sipil tidak bisa dirampas dari kaum dzimmi kecuali mereka memutuskan perjanjian tersebut dengan pemerintah Islam. Tidak ada penindasan terhadap non-Muslim, pemerintah tidak boleh menumpahkan darah seorang dzimmi secara tidak adil.
Berikut penjelasan singkat mengenai administrasi sistem Islam. Tanggungjawab pengelolaan adminstratif pemerintahan berada di tangan seorang pemimpin ('amir). Kualifikasi dasar seoran 'amir adalah ia harus mendapat kepercayaan rakyat dan dibaiat oleh rakyat. Dia juga harus memahami ruh/semangat Islam dan bertaqwa pada Allah. Singkatnya ia harus orang yang saleh dan cakap dalam urusan pemerintahan. Sebuah dean penasehat (syura) juga harus dibentuk untuk membantu dan memberi bimbingan kepada 'amir dalam menjalankan tugasnya. Fungsi legislatif dipegan oleh 'amir dengan keputusannya berdasar dari nasehat dewan syura ini. 'Amir dapat menduduki jabatannya selama ia masih mendapat kepercayaan dari rakyat. 'Amir menjalankan pemerintahan berkonsultasi dengan dewan syura dan dalam batas-batas syariat. Setiap warga negara berhak mengkritik 'Amir. Legislasi dalam sistem Islam juga dibatasi oleh syariat dan tak ada keputusan yang boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dengan demikian harus terdapat ahli dalam sub-dewan syura yang memberi nasehat pada 'Amir dalam hal legislatif. Keputusan legislatif 'Amir hanya kita yakini dalam hal 'badaniyah', bukan 'ruhuniyah' karena ruhnya tetap syariat Islam. Lalu kekuasaan yudikatif memperoleh wewenangnya langsung dari syariat, dan bertanggung jawab kepada Allah. Hakim-hakim dipilih oleh pemerintah namun sekali telah didaulat menjadi hakim maka harus mematuhi hukum-hukum Allah dalam pengambilan keputusannya dengan cara tidak memihak. Baik rakyat maupun pejabat pemerintahan tunduk pada hukum yang sama dan berada dalam pandangan hukum yang sama tanpa keistimewaan khusus. Islam adalah persamaan hak dan akan selalu berpegang pada prinsip ini dalam masalah sosial, ekonomi maupun politik. InsyaAllah saya akan mencoba membahas hak asasi manusia dalam Islam pada kesempatan nanti, dari buku-buku yang saya baca.
Sistem Politik Islam
Sebelumnya saya tidak ingin bertindak sok tahu dan ini hanya tulisan saya pada saat saya banyak membaca tulisan serupa, khilafah. Saya hanya merangkum apa yang ada di pikiran saya saja atas buku-buku yang saya baca.
Sistem politik Islam didasarkan pada tiga prinsip, yaitu Tauhid , Risalah, dan Khilafah. Ok, tanpa memahami ketiga ini maka sulit bagi kita memahami aspek dari politik Islam. Dalam tulisan ini saya coba membahasnya secara singkat.
Tauhid berarti bahwa hanya Allah sajalah yang diakui sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pemilik alam semesta dan segala isinya. Penyembahan dan kepatuhan hanya boleh ditujukan pada-Nya saja. Kekuasaan segala sesuatu yang ada di dunia ini dan juga segala sesuatu itu sendiri tak ada yang kita peroleh atas hak kita sendiri. Semua itu adalah anugerah Allah semata. Jadi bukanlah hak kita untuk memutuskan batas-batas wewenang dunia kita, juga buknalah hak orang lain untuk menetapkan itu. Hak tersebut hanya pada Allah saja, yang telah memberi kita akal pikiran untuk menelaah itu semua. Prinsip Tauhid sama sekali menghapuskan konsep kedaulatan hukum dan politik yang berada di tangan manusia, kerajaan maupun ras yang mengangkat kedudukan dirinya ke atas wewenang itu. Hanya Allah saja yang berhak menjadi penguasa dan perintah-perintah-Nya adalah hukum yang harus dijalankan dalam Islam.
Media yang menyampaikan hukum Allah tersebut kepada kita adalah risalah (kerasulan). Kita telah menerima dua hal dari ini. Pertama adalah Al-Qur'an, dimana Allah menyatakan hukum-hukumnya. Kedua, yaitu sunnah merupakan penerapan hukum Allah oleh Rasulullah melalui ucapan, tindakannya. Dalam prinsip-prinsip pokok diatas, semuanya telah dinyatakan dalam kitab Allah. Selanjutnya Rasulullah sesuai ketentuan itu, telah menciptakan sistem kehidupan Islam dengan secara praktis menerapkan hukum Allah tersebut dan memberikan perincian yang diperlukan. Kombinasi kedua bentuk ini, dalam terminologi Islam disebut syari'ah. "...Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul untukmu, maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah..." (QS. Al Hasyr [59]: 7)
Baik, selanjutnya kita bahas tentang khilafah yang berarti 'perwakilan'. Menurut Islam, kedudukan manusia sebenarnya adalah sebagai wakil Allah di bumi ini. Artinya, kekuasaan yang dilimpahkan Tuhan untuk manusia adalah menjalankan wewenang atas dunia dalam batas-batas yang ditentukan oleh-Nya. Saya beri analogi seperti ini, misal anda memiliki sebidang tanah di mana anda menunjuk seseorang untuk merawatnya atas nama anda. Anda menetapkan 4 persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, hak milik tanah tersebut tetap atas nama anda. Kedua, dalam mengurus tanah tersebut dia harus bertindak sesuai perintah-perintah anda. Ketiga, dia menjalankan wewenang atas tanah tersebut dalam batas-batas yang telah anda tetapkan. Keempat, dalam melaksanakan amanat itu ia hanya boleh melaksananakan kehendak anda bukan atas tujuan dirinya sendiri. Itulah yang saya gambarkkan 'perwakilan', inilah juga yang ada dalam konsep khilafah dimana Allah lah Pemilik dunia ini. Negara yang didirikan dan dikelola sesuai teori politik ini akan merupakan kekhalifahan yang bernaung dalam wewenang Tuhan dan wajib melaksanakan kehendak Tuhan dan memenuhi tujuan yang ditetapkan oleh-Nya, dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.
Itulah gambaran singkat pemahaman khilafah, dari buku-buku yang pernah saya baca.
Read More
Sistem politik Islam didasarkan pada tiga prinsip, yaitu Tauhid , Risalah, dan Khilafah. Ok, tanpa memahami ketiga ini maka sulit bagi kita memahami aspek dari politik Islam. Dalam tulisan ini saya coba membahasnya secara singkat.
Tauhid berarti bahwa hanya Allah sajalah yang diakui sebagai Pencipta, Pemelihara, dan Pemilik alam semesta dan segala isinya. Penyembahan dan kepatuhan hanya boleh ditujukan pada-Nya saja. Kekuasaan segala sesuatu yang ada di dunia ini dan juga segala sesuatu itu sendiri tak ada yang kita peroleh atas hak kita sendiri. Semua itu adalah anugerah Allah semata. Jadi bukanlah hak kita untuk memutuskan batas-batas wewenang dunia kita, juga buknalah hak orang lain untuk menetapkan itu. Hak tersebut hanya pada Allah saja, yang telah memberi kita akal pikiran untuk menelaah itu semua. Prinsip Tauhid sama sekali menghapuskan konsep kedaulatan hukum dan politik yang berada di tangan manusia, kerajaan maupun ras yang mengangkat kedudukan dirinya ke atas wewenang itu. Hanya Allah saja yang berhak menjadi penguasa dan perintah-perintah-Nya adalah hukum yang harus dijalankan dalam Islam.
Media yang menyampaikan hukum Allah tersebut kepada kita adalah risalah (kerasulan). Kita telah menerima dua hal dari ini. Pertama adalah Al-Qur'an, dimana Allah menyatakan hukum-hukumnya. Kedua, yaitu sunnah merupakan penerapan hukum Allah oleh Rasulullah melalui ucapan, tindakannya. Dalam prinsip-prinsip pokok diatas, semuanya telah dinyatakan dalam kitab Allah. Selanjutnya Rasulullah sesuai ketentuan itu, telah menciptakan sistem kehidupan Islam dengan secara praktis menerapkan hukum Allah tersebut dan memberikan perincian yang diperlukan. Kombinasi kedua bentuk ini, dalam terminologi Islam disebut syari'ah. "...Dan apa saja yang dibawa oleh Rasul untukmu, maka ambillah, dan apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah..." (QS. Al Hasyr [59]: 7)
Baik, selanjutnya kita bahas tentang khilafah yang berarti 'perwakilan'. Menurut Islam, kedudukan manusia sebenarnya adalah sebagai wakil Allah di bumi ini. Artinya, kekuasaan yang dilimpahkan Tuhan untuk manusia adalah menjalankan wewenang atas dunia dalam batas-batas yang ditentukan oleh-Nya. Saya beri analogi seperti ini, misal anda memiliki sebidang tanah di mana anda menunjuk seseorang untuk merawatnya atas nama anda. Anda menetapkan 4 persyaratan yang harus dipenuhi. Pertama, hak milik tanah tersebut tetap atas nama anda. Kedua, dalam mengurus tanah tersebut dia harus bertindak sesuai perintah-perintah anda. Ketiga, dia menjalankan wewenang atas tanah tersebut dalam batas-batas yang telah anda tetapkan. Keempat, dalam melaksanakan amanat itu ia hanya boleh melaksananakan kehendak anda bukan atas tujuan dirinya sendiri. Itulah yang saya gambarkkan 'perwakilan', inilah juga yang ada dalam konsep khilafah dimana Allah lah Pemilik dunia ini. Negara yang didirikan dan dikelola sesuai teori politik ini akan merupakan kekhalifahan yang bernaung dalam wewenang Tuhan dan wajib melaksanakan kehendak Tuhan dan memenuhi tujuan yang ditetapkan oleh-Nya, dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya.
Itulah gambaran singkat pemahaman khilafah, dari buku-buku yang pernah saya baca.
29/01/2010
ISLAM
Hilangkan dari diri kita 'label, 'sekat' yang memisahkan kita dari satu kesamaan. Kita adalah saudara, kita berasal dari 1 keluarga (Adam & Hawa). Kita berada dalam satu kesamaan, kita bukanlah syiah, sunni, hammas, hizbullah, fatah, NU, Muhammadiyah, Persis maupun lain sebagainya. Mereka memiliki kesamaan, mereka percaya pada satu Tuhan (Allah), mereka mendirikan shalat 5 kali sehari, mereka memberi sebagian harta (per tahun) mereka dengan zakat, mereka berpuasa (wajib) di bulan Ramadhan dan mereka melaksanakan haji. Mereka semua percaya pada 1 Tuhan (ALLAH) dan yakin pada Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Bukankah itu 5 pilar Islam ? Tidak perlu kita saling mempersoalkan mana yang benar dan salah diantara mereka. Kita hanya perlu saling menghormati 'perbedaan' itu, karena kita berada dalam satu pilar ISLAM.
Sangat mudah bagi kita untuk bersatu 'melawan' satu hal yang sama, tapi apakah kita bisa bersatu dalam keberadaan kita masing-masing ? Islam bukanlah kata benda, Islam merupakan 'way of life' atau 'a state of heart'. Itu adalah apa yang ada dalam hati kita, bukan 'label' yang menempel diluar kita. Telah lama kita terpecah menjadi beberapa 'label' itu. Jadikan diri kita sebagaiamana Al-Qur'an telah menunjukkannya. Kita adalah satu umat : Sesama muslim kita adalah saudara dalam ISLAM, sesama non-muslim kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Dapatkah ANDA menghargai sesama dan mengatasi perbedaan untuk menjadi satu umat? Itu adalah TEST bagi kita..
Allah menciptakan kelompok manusia (laki-laki dan perempuan) bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan tujuan agar kita saling mengenal dan mengetahui.
Hilangkanlah 'sekat dan 'label itu, kembali pada satu kesatuan ISLAM...!
Read More
Sangat mudah bagi kita untuk bersatu 'melawan' satu hal yang sama, tapi apakah kita bisa bersatu dalam keberadaan kita masing-masing ? Islam bukanlah kata benda, Islam merupakan 'way of life' atau 'a state of heart'. Itu adalah apa yang ada dalam hati kita, bukan 'label' yang menempel diluar kita. Telah lama kita terpecah menjadi beberapa 'label' itu. Jadikan diri kita sebagaiamana Al-Qur'an telah menunjukkannya. Kita adalah satu umat : Sesama muslim kita adalah saudara dalam ISLAM, sesama non-muslim kita adalah saudara dalam kemanusiaan. Dapatkah ANDA menghargai sesama dan mengatasi perbedaan untuk menjadi satu umat? Itu adalah TEST bagi kita..
Allah menciptakan kelompok manusia (laki-laki dan perempuan) bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan tujuan agar kita saling mengenal dan mengetahui.
Hilangkanlah 'sekat dan 'label itu, kembali pada satu kesatuan ISLAM...!
10/10/2009
Jika Islam Sebuah Pohon
Jika Islam Sebuah Pohon
Pohon memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia.Tidak ada bagian dari pohon yang tidak memberi manfaat kepada manusia. Mulai dari akar, batang dan daunnya. Tapi pohon itu baru bisa memberikan banyak manfaat jika diperlakukan dengan benar. Dia harus ditanam dengan benar, dipupuk, disirami dan dirawat dengan baik setiap saat. Kalau pohon itu kehilangan bagian pentingnya maka dia tidak akan pernah bisa memberi manfaat besar bagi manusia. Misalnya ketika Anda memotong akarnya, maka dia tidak akan bisa hidup untuk memberi manfaat bagi manusia. Hal yang sama terjadi ketika Anda memotong batang dan semua daunnya.
Demikian juga dengan Islam. Islam baru akan bisa memberi manfaat ketika kita menanamnya dengan benar di jiwa kita. Kita tidak memotong atau memenggal bagian-bagian pentingnya:
1. Akar Islam adalah akidah. Bagian inilah yang memberi kehidupan dan kekuatan ke seluruh bagian lain yang ada. Orang-orang yang mencoba mengamalkan Islam tanpa akidah sama saja dengan memotong akar dari pohonnya. Maka pohon itu hanya akan bisa hidup sebentar, kemudian akan mengering dan akhirnya mati. Saat ini banyak sekali orang yang mengaku Islam, yang menyatakan agamanya Islam, yang KTP-nya Islam, tapi sesungguhnya ruh atau akar Islam tidak tertatam dengan baik di jiwanya, sehingga Islam tidak berfaedah sedikitpun baginya. Kering, gersang dan nyaris seperti orang yang mati. Karena ia hanya hidup secara biologis saja, tapi jiwanya telah lama mati. Inilah salah satu sebab mengapa umat Islam saat ini terpuruk.
2. Batang Islam adalah syariah. Bagian inilah yang menegakkan kemanfaatan sehingga bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Islam tanpa syariah ibaratnya seperti pohon tanpa batang. Manfaat apa yang bisa diberikannya? Saat ini banyak umat Islam yang dengan sengaja memenggal sebagian besar batang atau syariah Islam, dan hanya menyisakan dahan dan ranting kecil yang tidak berarti. Wajar saja kalau manfaat dan rahmat Islam tidak bisa dirasakan oleh umat manusia.
3. Daun Islam adalah dakwah. Apa manfaat terbesar daun bagi manusia? Melalui fotosintesis daun memberikan kehidupan dengan mensuplai oksigen dan glukosa yang menjadi bentuk dasar energi bagi semua makhluk hidup. Dan juga merubah racun karbon dioksida yang berbahaya menjadi oksigen yang memberi kehidupan. Tanpa ada daun, seluruh umat manusia akan binasa. Demikian analoginya ketika umat Islam meninggalkan dakwah, hal ini sama saja dengan memangkas semua daun yang ada pada setiap pohon. Akibatnya umat akan kehilangan pasokan energi dan menjadi lemah. Lalu racun-racun dunia bak karbon dioksida berupa kemaksiyatan mengakibatkan kesengsaraan merajalela dimana-mana. Persis seperti yang kita alami saat ini ketika umat mengabaikan dakwah dan amar makruf nahi munkar.
Inilah sebabnya mengapa Islam selama ini tidak mampu menebarkan rahmat dan manfaatnya bagi kita dan umat manusia seluruhnya. Karena ibarat sebuah pohon, kita tidak memperlakukannya dengan benar.
(dikutip dari Halqah Online)
Read More
Pohon memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia.Tidak ada bagian dari pohon yang tidak memberi manfaat kepada manusia. Mulai dari akar, batang dan daunnya. Tapi pohon itu baru bisa memberikan banyak manfaat jika diperlakukan dengan benar. Dia harus ditanam dengan benar, dipupuk, disirami dan dirawat dengan baik setiap saat. Kalau pohon itu kehilangan bagian pentingnya maka dia tidak akan pernah bisa memberi manfaat besar bagi manusia. Misalnya ketika Anda memotong akarnya, maka dia tidak akan bisa hidup untuk memberi manfaat bagi manusia. Hal yang sama terjadi ketika Anda memotong batang dan semua daunnya.
Demikian juga dengan Islam. Islam baru akan bisa memberi manfaat ketika kita menanamnya dengan benar di jiwa kita. Kita tidak memotong atau memenggal bagian-bagian pentingnya:
1. Akar Islam adalah akidah. Bagian inilah yang memberi kehidupan dan kekuatan ke seluruh bagian lain yang ada. Orang-orang yang mencoba mengamalkan Islam tanpa akidah sama saja dengan memotong akar dari pohonnya. Maka pohon itu hanya akan bisa hidup sebentar, kemudian akan mengering dan akhirnya mati. Saat ini banyak sekali orang yang mengaku Islam, yang menyatakan agamanya Islam, yang KTP-nya Islam, tapi sesungguhnya ruh atau akar Islam tidak tertatam dengan baik di jiwanya, sehingga Islam tidak berfaedah sedikitpun baginya. Kering, gersang dan nyaris seperti orang yang mati. Karena ia hanya hidup secara biologis saja, tapi jiwanya telah lama mati. Inilah salah satu sebab mengapa umat Islam saat ini terpuruk.
2. Batang Islam adalah syariah. Bagian inilah yang menegakkan kemanfaatan sehingga bisa dirasakan oleh diri sendiri dan orang di sekitarnya. Islam tanpa syariah ibaratnya seperti pohon tanpa batang. Manfaat apa yang bisa diberikannya? Saat ini banyak umat Islam yang dengan sengaja memenggal sebagian besar batang atau syariah Islam, dan hanya menyisakan dahan dan ranting kecil yang tidak berarti. Wajar saja kalau manfaat dan rahmat Islam tidak bisa dirasakan oleh umat manusia.
3. Daun Islam adalah dakwah. Apa manfaat terbesar daun bagi manusia? Melalui fotosintesis daun memberikan kehidupan dengan mensuplai oksigen dan glukosa yang menjadi bentuk dasar energi bagi semua makhluk hidup. Dan juga merubah racun karbon dioksida yang berbahaya menjadi oksigen yang memberi kehidupan. Tanpa ada daun, seluruh umat manusia akan binasa. Demikian analoginya ketika umat Islam meninggalkan dakwah, hal ini sama saja dengan memangkas semua daun yang ada pada setiap pohon. Akibatnya umat akan kehilangan pasokan energi dan menjadi lemah. Lalu racun-racun dunia bak karbon dioksida berupa kemaksiyatan mengakibatkan kesengsaraan merajalela dimana-mana. Persis seperti yang kita alami saat ini ketika umat mengabaikan dakwah dan amar makruf nahi munkar.
Inilah sebabnya mengapa Islam selama ini tidak mampu menebarkan rahmat dan manfaatnya bagi kita dan umat manusia seluruhnya. Karena ibarat sebuah pohon, kita tidak memperlakukannya dengan benar.
(dikutip dari Halqah Online)
04/09/2009
Islam, Liberal dan Sosial
Ini hanya pemikiranku. Saya pun terbuka tentang pemikiran kalian tentang ini. Anda bebas mengomentari tulisan ini. Mudah-mudahan dapat memperkaya pengetahuan kita.
Anda tahu, ada beberapa ideologi di dunia. Ada banyak, namun setidaknya ada 3 ideologi yang berkembang besar di dunia, terutama dipakai negara-negara besar. Sosialisme-Komunisme, Liberal-Kapitalisme dan Islam. Seperti kitas ketahui bersama bahwa sosialisme dan komunisme identik sebagaimana liberal dan kapitalisme. Dari sejarah, kita perhatikan negara-negara besar yang muncul dan 'menguasai' dunia saat itu bersaing dengan ideologi mereka masing-masing. Uni sovyet cs dengan sosialis-komunis serta AS dkk dengan liberal-kapitalis. Ideologi tersebut berkembang di dunia dan berjaya. Tapi kawan tidakkah sadar bahwa Islam juga 'sempat' meraih kejayaan, bahkan kita masih bisa mengetahuinya dari sejarah yang kita baca. Kita yang hidup pada era ini, hanya dapat mengagumi serta meneladani. Kita masih berusaha mengembalikan kejayaan Islam itu, namun hasilnya belum 'tampak'. Kita masih dikurung dengan 'kebodohan' belum mampu memancarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan aplikasi nyata.
Islam itu bukan hanya agama, saya menyebut demikian. Islam bukan hanya agama, melainkan tatanan. Islam itu "dien", coba anda cari arti kata tersebut dalam bahasa arab. Dari yang saya pahami, itu adalah tatanan. Agama merupakan keyakinan, tapi Islam lebih luas dari itu. Apakah hanya sebagai keyakinan, dan diri kita tidak berada dalam koridor tatanan. Kita hidup dalam suatu tatanan, entah apa itu tatanan yang anda tafsirkan dan ikuti. Selayaknya Muslim, kita tentunya mengikuti tatanan Islam. Hal ini yang berusaha saya sampaikan. Islam itu ideologi yang sempurna, diturunkan pada Rasulullah untuk memperbaiki ummat. Diwahyukan langsung dari Allah, bukan karangan atau pemikiran manusia. Kita yang berusaha memahami dan menginterpretasikan maksudnya di dunia real dalam koridor Islam.
Sosialisme-Komunisme serta Liberal-Kapitalis memiliki kekurangan karena keterbatasan pikiran manusia. Dapat kita lihat dari resesi global zaman ini maupun pelajaran dari sejarah. Uni Sovyet dengan ideologinya akhirnya runtuh, rapuh dari dalam. Rapuh karena perangkat-perangkat negaranya rusak dalam korup. Negara-negara liberal pun tak se'kokoh' yang kita lihat, setelah resesi global kita lihat 'retak'nya mereka. Banyak perusahaan-perusahaan yang runtuh, karena sistemnya kalut diterpa badai krisis finansial. Tapi luput dari pandangan kita, finansial syariah tetap bertahan. Anda atau saya, tidak menyadari bahwa resesi global itu tidak menghancurkan ekonomi syariah. Pernahkah kita dengar hal itu terjadi? Itu salah satu bukti 'kesempurnaan' ideologi Islam.
Islam memiliki tatanan sendiri, tapi secara implisit terdapat himpunan ideologi-ideologi yang ada diatas. Pernahkah terpikir bahwa Islam itu sosialis, liberalis dan kapitalis secara kondisional. Sebagai contoh adalah zakat, zakat itu seperti sosialis. Kenapa zakat? Kita ummat diwajibkan 'menyisihkan' sebagian dari harta kita untuk sesama yang kekurangan. Zakat juga dipusatkan dalam suatu lembaga atau amil zakat. Ummat diwajibkan 'menyetor' persentase harta mereka dan dikumpulkan terpusat. Layaknya kaum sosialis dengan slogan mereka sama rasa, sama rata. Islam juga mengajarkan ummatnya saling berbagi. Kita juga sebelum berzakat adalah mampu. Kita harus mampu dalam ekonomi baru diwajibkan zakat. Kita diberikan kebebasan untuk memperkaya diri. Sama seperti Kapitalisme, mereka juga saling memperkaya diri. Tapi Islam tetap mengingatkan kita agar peduli terhadap sesama, dan tidak saling menjatuhkan. Secara liberal, Islam sangat menghargai kebebasan dan hak asasi manusia. Islam tidak memaksakan terhadap orang lain. Islam menghargai perbedaan, hanya ummatnya saja yang berada dalam kewajiban. Dalam suatu negara, pemeluk agama lain dapat hidup secara damai dan berdampingan. Islam memandang indahnya perdamaian dan kebersamaan. Islam menghargai hak-hak individu dan tidak ada intervensi di dalamnya. Layaknya Liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan. Tapi masih dalam koridar/jalan Allah. Dapat kita lihat bahwa Islam juga mengandung ideologi-ideologi tersebut. Islam bersifat global dan menyeluruh.
Ada suatu wacana yang menarik, yang pernah saya temukan. Saat Uni Sovyet runtuh, Sayid Al-Khomaini dari Iran, pemimpin spiritual itu sempat menawarkan pilihan kepada Uni Sovyet. Beliau menawarkan untuk memakai ideologi Islam kepada sovyet, karena sosialisme juga terkandung dalam Islam. Memang bukan secara keyaakinaan tetapi tatanan kenergaraan saja. Dari hal itu, kita bisa menyadari Islam adalah sempurna. Mungkin memang kita 'lihat' seperti ketinggalan zaman. Tapi sebenarnya zaman yang ada di bawah Islam. Dengan ijtihad dan pemikiran-pemikiran kita, kita bisa interpretasikan Islam dalam struktur sosial dan kehidupan nyata. Karena dasar-dasar kehidupan sudah ditunjukkan oleh Islam. Sekarang tinggal bagaimana kita menerapkan itu dalam hidup kita.
Pemikiranku ini hanya sempit, semua kebenaran hanya dariNYA. Puji syukur kita masih bisa menikmati indahnya Islam. Kekurangan itu karena kebodohan kita yang belum mengoptimalkan potensi diri. Wallahu'alam bishawab.
Read More
Anda tahu, ada beberapa ideologi di dunia. Ada banyak, namun setidaknya ada 3 ideologi yang berkembang besar di dunia, terutama dipakai negara-negara besar. Sosialisme-Komunisme, Liberal-Kapitalisme dan Islam. Seperti kitas ketahui bersama bahwa sosialisme dan komunisme identik sebagaimana liberal dan kapitalisme. Dari sejarah, kita perhatikan negara-negara besar yang muncul dan 'menguasai' dunia saat itu bersaing dengan ideologi mereka masing-masing. Uni sovyet cs dengan sosialis-komunis serta AS dkk dengan liberal-kapitalis. Ideologi tersebut berkembang di dunia dan berjaya. Tapi kawan tidakkah sadar bahwa Islam juga 'sempat' meraih kejayaan, bahkan kita masih bisa mengetahuinya dari sejarah yang kita baca. Kita yang hidup pada era ini, hanya dapat mengagumi serta meneladani. Kita masih berusaha mengembalikan kejayaan Islam itu, namun hasilnya belum 'tampak'. Kita masih dikurung dengan 'kebodohan' belum mampu memancarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan aplikasi nyata.
Islam itu bukan hanya agama, saya menyebut demikian. Islam bukan hanya agama, melainkan tatanan. Islam itu "dien", coba anda cari arti kata tersebut dalam bahasa arab. Dari yang saya pahami, itu adalah tatanan. Agama merupakan keyakinan, tapi Islam lebih luas dari itu. Apakah hanya sebagai keyakinan, dan diri kita tidak berada dalam koridor tatanan. Kita hidup dalam suatu tatanan, entah apa itu tatanan yang anda tafsirkan dan ikuti. Selayaknya Muslim, kita tentunya mengikuti tatanan Islam. Hal ini yang berusaha saya sampaikan. Islam itu ideologi yang sempurna, diturunkan pada Rasulullah untuk memperbaiki ummat. Diwahyukan langsung dari Allah, bukan karangan atau pemikiran manusia. Kita yang berusaha memahami dan menginterpretasikan maksudnya di dunia real dalam koridor Islam.
Sosialisme-Komunisme serta Liberal-Kapitalis memiliki kekurangan karena keterbatasan pikiran manusia. Dapat kita lihat dari resesi global zaman ini maupun pelajaran dari sejarah. Uni Sovyet dengan ideologinya akhirnya runtuh, rapuh dari dalam. Rapuh karena perangkat-perangkat negaranya rusak dalam korup. Negara-negara liberal pun tak se'kokoh' yang kita lihat, setelah resesi global kita lihat 'retak'nya mereka. Banyak perusahaan-perusahaan yang runtuh, karena sistemnya kalut diterpa badai krisis finansial. Tapi luput dari pandangan kita, finansial syariah tetap bertahan. Anda atau saya, tidak menyadari bahwa resesi global itu tidak menghancurkan ekonomi syariah. Pernahkah kita dengar hal itu terjadi? Itu salah satu bukti 'kesempurnaan' ideologi Islam.
Islam memiliki tatanan sendiri, tapi secara implisit terdapat himpunan ideologi-ideologi yang ada diatas. Pernahkah terpikir bahwa Islam itu sosialis, liberalis dan kapitalis secara kondisional. Sebagai contoh adalah zakat, zakat itu seperti sosialis. Kenapa zakat? Kita ummat diwajibkan 'menyisihkan' sebagian dari harta kita untuk sesama yang kekurangan. Zakat juga dipusatkan dalam suatu lembaga atau amil zakat. Ummat diwajibkan 'menyetor' persentase harta mereka dan dikumpulkan terpusat. Layaknya kaum sosialis dengan slogan mereka sama rasa, sama rata. Islam juga mengajarkan ummatnya saling berbagi. Kita juga sebelum berzakat adalah mampu. Kita harus mampu dalam ekonomi baru diwajibkan zakat. Kita diberikan kebebasan untuk memperkaya diri. Sama seperti Kapitalisme, mereka juga saling memperkaya diri. Tapi Islam tetap mengingatkan kita agar peduli terhadap sesama, dan tidak saling menjatuhkan. Secara liberal, Islam sangat menghargai kebebasan dan hak asasi manusia. Islam tidak memaksakan terhadap orang lain. Islam menghargai perbedaan, hanya ummatnya saja yang berada dalam kewajiban. Dalam suatu negara, pemeluk agama lain dapat hidup secara damai dan berdampingan. Islam memandang indahnya perdamaian dan kebersamaan. Islam menghargai hak-hak individu dan tidak ada intervensi di dalamnya. Layaknya Liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan. Tapi masih dalam koridar/jalan Allah. Dapat kita lihat bahwa Islam juga mengandung ideologi-ideologi tersebut. Islam bersifat global dan menyeluruh.
Ada suatu wacana yang menarik, yang pernah saya temukan. Saat Uni Sovyet runtuh, Sayid Al-Khomaini dari Iran, pemimpin spiritual itu sempat menawarkan pilihan kepada Uni Sovyet. Beliau menawarkan untuk memakai ideologi Islam kepada sovyet, karena sosialisme juga terkandung dalam Islam. Memang bukan secara keyaakinaan tetapi tatanan kenergaraan saja. Dari hal itu, kita bisa menyadari Islam adalah sempurna. Mungkin memang kita 'lihat' seperti ketinggalan zaman. Tapi sebenarnya zaman yang ada di bawah Islam. Dengan ijtihad dan pemikiran-pemikiran kita, kita bisa interpretasikan Islam dalam struktur sosial dan kehidupan nyata. Karena dasar-dasar kehidupan sudah ditunjukkan oleh Islam. Sekarang tinggal bagaimana kita menerapkan itu dalam hidup kita.
Pemikiranku ini hanya sempit, semua kebenaran hanya dariNYA. Puji syukur kita masih bisa menikmati indahnya Islam. Kekurangan itu karena kebodohan kita yang belum mengoptimalkan potensi diri. Wallahu'alam bishawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)