Showing posts with label kehidupan. Show all posts
Showing posts with label kehidupan. Show all posts

10/05/2015

Skizofrenia Sosial


Ini malam di bagian bumi +7 jam dari London, tepatnya di Indonesia, sekitar pukul 11 malam 11 hari dari perayaan Mayday di 2015. Saya baru saja menonton film The Voices tadi siang dan saya langsung sakit kepala. Saya merasa tertampar pikirannya menonton film ini. Film ini mengusik pemikiran dan kepercayaan saya. Film ini bercerita tentang seseorang yang mengalami gangguan psikis, dia mendengar suara-suara tanpa wujud manusia. Suara-suara ini digambarkan berasal dari mayat dan hewan. Sungguh luar biasa, seperti mukjizat saja berbicara dengan hewan, menyaingi Nabi Sulaiman. Film ini dikategorikan thriller, hati-hati yang perut dan matanya gak kuat melihat darah dan isi perut terburai.

Tokoh utamanya, Jerry, memiliki gangguan kejiwaan yang bisa dikategorikan 'Skizofrenia'. Dia tidak dapat membedakan mana yang khayalan/halusinasi dengan dunia nyata. Sedemikian serupa sehingga, kacau lah hidupnya. Dia seperti mendengar wahyu malaikat, perintah membunuh dan hal-hal paranoid lain. Saya tidak ingin mengaitkan ini dengan kasus pembunuhan, tapi dengan hal-hal kepercayaan sekitar kita.

Pertama, pernahkah berfikir kalau kita hidup di zaman Nabi ? Hidup bersama beliau Rasulullah. Apakah kita akan memeluk Islam ? Mendengarkan seseorang yang dianggap gila, mendengar wahyu dari Jibril di Gua Hira, bertemu Allah dalam semalam dengan perjalanan luar biasa absurd dinalar logika. Bayangkan konteksnya bila Rasul hidup di zaman ini, saat ilmu kedokteran sudah maju dan mengkategorikan fenomena itu sebagai gangguan jiwa. Akankah kita percaya ? Atau kita juga akan menganggap Rasul gila ? Mungkin Rasul sudah ditarik ke RSJ terdekat dan kita menganggap itu kasus medis. Untungnya Rasul tidak hidup di zaman yang konteksnya sama dengan kita. Karena di zaman ini saja, kisah Rasul yang sudah ditulis tanpa mendiskreditkan penalaran mukjizat Rasul, kita masih tidak percaya dengan perintahnya. Ya kalau mau menalar agama, silakan, saya sudah lelah dan berhenti :). Jadi kasus-kasus seperti orang yang mengaku Nabi pada zaman ini, mungkin mereka juga mendengar 'wahyu' seperti itu. Mungkin seperti 'wahyu' Nabi Ibrahim, disuruh nyembelih anaknya. Kasus zaman ini, disuruh membunuh pacarnya. Sungguh luar biasa ! Coba sekali-sekali berfikir begitu, ya mungkin engkau dikira sesat. Betul ?

Kedua, pernahkah berfikir batas antara khayalan dan nyata itu dalam media sosial ? Kita hidup di masa dimana batas antara yang maya dan nyata sangat tipis. Saat kita bangun tidur, kita sudah login di dunia maya. Mengecek perkembangan di sana, dan kita lupa dunia nyata sendiri. Kalau dalam ayat suci, kita lupa akhirat karena dunia saja. Sekarang kita lupa akhirat karena dunia nyata dan maya. Sehingga doa sapu jagat untuk meminta kebaikan di dunia dan akhirat, harus dilengkapi di dunia medsos. Agar tidak jadi bahan bully dan bisa jadi selebtwit. Saat di dunia maya, orang kehilangan kendali jati dirinya dan eksistensialismenya, lalu tercerabut ke ruang tak bernama. Mereka menjelma identitas lain, topeng-topeng individu muncul. Agar kita suudzon, marilah berfikir status-status bijak itu merupakan pencitraan mereka, berita-berita itu juga adalah orkestra tangan-tangan tak terlihat yang ingin menguasai dunia. Ya biarlah begitu, kita hidup dalam ketakutan dan prasangka-prasangka. Kita tidak bisa membedakan lagi mana nyata dan maya, mana fakta mana cerita, semua informasi kita cerna dan percaya, tanpa pengolahan kata. Manusia-manusia menjadi dewasa pada ruang sempit sekian pixel, menjadikan mereka penyendiri dalam kotak kaca. Lalu ?

Ketiga, mungkinkah suara-suara khayalan itu juga dari persepsi dan kepercayaan kita pada suatu hal ? Kita memiliki persepsi pada seseorang bahwa dia itu A, memiliki perangai 'itu'. Semua gerak geriknya akan muncul pada kita disesuaikan dengan perangai 'itu', kita menjadi tidak objektif. Diri kita sendiri seperti menjustifikasi kebenaran palsu itu. Bila kita anggap dia buruk, bahkan usaha dia untuk memberi shodaqoh pun kita kira money laundry, atau duit panas. Kembali lagi kita hidup dalam prasangka. Mungkin itu bisikan setan ? Atau diri kita sendiri ? Mungkin teori kepribadian cermin juga seperti itu, kita menganggap diri kita apa, maka kita akan menjadi sesuatu 'apa' itu. Seperti leluhur kita juga yang merasa mendengar alam dan batu berbicara padanya, karena mereka percaya pada hal tersebut. Kepercayaan akan membuatmu seakan mendengarkan sabdanya. Jadi, tolong percayailah sesuatu dengan bijak, tetap berpikir terbuka jangan terbawa emosi. Setuju ?

Ya sudah malam, dan tulisan ini semakin tidak saya mengerti di kepala saya. Saatnya berbicara dengan diri sendiri, monolog dini hari. Salam waras !
Read More

15/03/2015

Anak Filsafat


Ooh lama tak berdiskusi dalam tulisan, mari mulai lagi. Manusia modern mengalami kesulitan hubungan dengan yang namanya waktu. Benar kata Paman Ali ibn Thalib, waktu adalah pedang. Lebih berbahaya dari ‘waktu adalah uang’nya orang-orang barat. Uang bisa kehilangan yang kita cari kalau kerja katanya, tapi pedang itu bisa membuat pincang yang lain. Dewasa ini saya mulai kehilangan waktu untuk mempertanyakan segala hal. Mungkin kalau yang kenal saya langsung, suka aneh dengan pola pikir saya, kadang-kadang menanyakan kenapa ini dan itu yang dikira tak perlu. Padahal ini mah wajar saja, mempertanyakan segala hal.

Saya belajar sifat itu dari anak kecil, dan saya mengingat lagi masa-masa saya kecil. Anak kecil itu filosof paling hebat. Mereka lebih dalam daripada Om Plato dan Galileo. Galileo menanyakan tata surya, anak kecil juga. Anak kecil bahkan mempertanyakan Tuhan. Mereka selalu menanyakan segala hal, yang kata orang dewasa mungkin buat apa dipertanyakan. Orang-orang dewasa justru terlalu banyak yang belajar filsafat, bukan berfilsafat. Saat kita mengutip tokoh-tokohnya, hapal segala ajarannya, mengerti konsepsi epistemologi, ontologi, definisi, itu belajar filsafat namanya. Saat kita mempertanyakan suatu hal, merumuskan dasar suatu hal, menjelaskan suatu hal, itu berfilsafat. Anak-anak melakukan itu semua, mereka berfilsafat.
Emang filsafat itu penting ?
Manusia dewasa terlalu gengsi untuk menanyakan hal-hal tersebut, takut terlihat bodoh. Padahal kata buku tulis kosong juga “People become fool when they stop asking questions”. Mungkin kita lupa dengan kata-kata di buku tulis itu. Kita tidak terbiasa menulis pemikiran di buku waktu sekolah. Kita terbiasa menghapalkan sesuatu, tidak ada sintesis dalam pelajarannya. Anak-anak justru sebaliknya, berpikir polos. Layaknya buku tulis tersebut yang kosong dan perlu diisi, mereka bertanya. Kita terlalu banyak melewatkan waktu tanpa berpikir, padahal Al-Quran justru menganjurkan kita berfikir, bertafakur, mencari ilmu. Kita fokus ilmu hanya di kurikulum, bangku kuliah dan sekolah. Tidak lagi percaya ilmu kehidupan.

Proses kreatif yang luar biasa bisa ditemui di anak-anak. Suatu proses kreatif mungkin dikenal fase divergen dan konvergen. Orang-orang ‘tua’ / dewasa cenderung berfikir konvergen, terpusat. Tidak ada ide-ide baru, karena sudah pernah mengalami hambatan dan teknik-teknik yang biasa dipakai memecahkan masalah. Namun anak-anak yang ‘muda’, cenderung divergen. Mereka belum mengenal banyak hal, sehingga belum ada kata ‘tetapi’ dalam kamus kreatifnya. Kadang-kadang hal tersebut yang membuat sebuah inovasi hadir. Pola pikir baru dari masalah lama yang kita geser pijakan pandangnya. Lihatlah anak-anak gambar laut warnanya pink, padahal kan biru ? Ah gak juga, justru mereka mempertanyakan konsep warna biru kita itu darimana ?

Duh, tulisan saya kok jadi kaku dan berat gini sekarang. Sudah bukan menulis untuk mendengar perasaan pemikiran lagi ini kalau begitu. Lebih baik disudahi saja, sebelum ini jadi makalah atau esai. Nanti bisa ikut konferensi kalau begitu. Salam :)
Read More

21/01/2014

Aktualisasi Diri Dalam Prasasti

Sesaat Anda membaca kalimat ini, 700 post FB telah ditulis, 600 Tweet dan post Tumblr tertulis, serta 34.000 pencarian Google dilakukan. Manusia bumi menulis suatu hal dan menyimpannya dalam dunia maya dipertontonkan pada berjuta pasang mata potensial, bersama jutaan tulisan lainnya saling berebut hak baca para penguntit maya. Menulis adalah perilaku manusia untuk mengabadikan ide dan hal-hal mengenai dirinya. Baik itu luapan emosi, pemikiran dan aspirasi. Sejak kecil kita diajari untuk menulis, selain membaca dan berhitung. Namun saya sendiri kehilangan sentuhan menulis tangan, karena jemari saya lebih akrab pada tuts keyboard dibanding memeluk erat pena. Apakah menulis hanya sekedar mengkodifikasi pemikiran dalam jerat aksara ? Atau menulis adalah sebuah kebutuhan manusia ?

Dalam teori hierarki Maslow, manusia memiliki tingkatan dalam kebutuhan pribadinya. Tingkat kebutuhan ini dapat kita amati pada bentuk tulisan yang berkeliaran sepanjang mata memandang layar di dunia maya.
Dua tingkatan terbawah,tidak kita telusuri. Mulai dari tingkatan ketiga, jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan akan pertemanan. Tapi tidak berhenti disitu, orang butuh dihargai dan diakui. Maka pada tingkatan keempat harga diri, orang mulai menulis di jejaring sosial, blog, tumblr, komentar dll, untuk mendapat pengakuan dan rasa percaya diri. Kadangkala juga dalam bentuk curhat, karena di titik itu orang ingin mendapat perhatian atau membuang perasaan. Pada tingkatan kelima, aktualisasi diri, tulisan berwujud pada bentuk 'karya kreativitas'. Tidak hanya sekedar curhat dan mendapat pengakuan, tapi mengaktualisasikan diri dalam karya. Ya, itu pemetaan kebutuhan manusia menulis di masa-masa ini. Meskipun tingkat 4 dan 5, sering bolak-balik saja.

Sungguh sangat mudah sekali menulis pada zaman ini. Teringat dulu saya masih baca koran, internet belum masuk dalam kotak 'warung'. Seorang menulis di koran, menulis buku, menerbitkan kumpulan tulisan adalah sebuah kemewahan dalam aktualisasi diri. Saat mesin cetak ditemukan, koran dan buku adalah 'gadget' yang mencuri perhatian pada masanya. Manusia hanyut dalam tulisan dan keinginan menulis untuk dibaca. Tarik lagi ke belakang, saat manusia menemukan kertas, itu sangat mempermudah media tulis, tidak lagi di pelepah daun atau kulit hewan. Orang yang dapat menulis pun, dikategorikan memiliki barang mewah, karena sumber daya yang sulit didapat sebagai media tulis.

Bahkan pada era Mpu Panuluh, Mpu Prapanca dkk, menulis pada serat daun jati adalah ensiklopedia dan novel terlaris pada masanya. Terus ke belakang, Mulawarman bersaudara bahkan menulis kenangan hidupnya pada sebuah batu, yang kita sebut prasasti. Sungguh, untuk ngeksis saja zaman dahulu sulit sekali. Harus mencari batu dan digrafir di atasnya. Sedangkan pada peradaban Firaun unta mesir, aksara masih berbentuk gambar. Mereka ingin diakui dengan membuat Piramida dan diisi tulisan didalamnya. Padahal isinya mungkin cuma resep membuat balsam dan cerita romansa cleopatra cs. Leluhurnya, Homo Erectus mungkin mengawali bioskop rumahan pada gambar di goa-goa. Mereka sebenarnya menulis diary hidupnya yang gagal menangkap babi hutan purba. Menulis adalah upaya komunikasi mereka (yang terdahulu) kepada kita (yang kekinian), bahwa "Gue ada lho". Selain menyampaikan ilmu dan kabar mereka untuk kita ketahui.

Bayangkan evolusi sebuah surat cinta saja. Masa ini sebuah kata-kata romantis dapat dikirimkan melalui SMS, blog dan update status untuk dapat dibaca saat itu juga oleh pujaan hati. Tetapi dahulu, harus 'disimpan' dalam tulisan yang membawa rasa melewati waktu tempuh yang tak sebentar. Bayangkan pada masa Anaxagoras mengirim surat cinta, harus dalam sebuah codex di batu. Sebait saja, sudah 1 kg, JNE pun kemahalan buat mengantarnya. Pun waktu tempuh tak sebentar. Apalagi pada masa sebelum itu, mungkin mereka hanya menitipkan rasa pada angin malam saja. Jadi yang katanya galau, LDR, coba bayangkan penderitaan mereka yang terdahulu, Anda tidak ada apa-apanya. Sebuah tulisan sederhana yang kita temui wajar adanya saat ini, adalah rangkaian evolusi kemudahan aktualisasi diri manusia. Saat ini Anda dapat dengan mudah mengaktualisasikan diri, tak perlu mahir menulis di atas batu.

Tulisan ini pun adalah wujud kebutuhan saya pada tingkat kelima. Bukan karena aktualisasi diri, tapi karena saya kurang kerjaan saja dan terlalu banyak pikiran. Salam kelingking !
Read More

12/11/2013

Menuntut Warnet


*)melemaskan pikiran dan jemari dengan menulis lagi, sudah lama tidak menulis karena tidak berani. Karena jika menulis, saya meliarkan ide saya, takut tak terkontrol..haha

Tiba-tiba saja ada ide masuk dari entah mana saat di WC. Aneh ide sekelebat itu selalu muncul dari tempat tak terduga, WC, di atas motor, saat jalan, saat main, pas sembahyang, tidak pernah muncul saat serius nyari ide. Mungkin di WC itu banyak yang 'nemenin' mikir, atau sembahyang tidak serius. Jadi ingat, dahulu zaman Zeus dipercaya di Romawi, orang pintar disebut jenius (Genius). Ini asal katanya dari 'genie', atau jin dalam bahasa kita. Jadi orang pintar itu bukan karena dirinya sendiri, tapi ada 'ilham' entah darimana yang sifatnya transenden, tak kentara, ghaib lah. Jadi ngeri kalau dapat ide, ini ilham atau bisikan setan...haha.

Jadi saya akan jadi berbicara yang tadi tidak jadi-jadi saya tuliskan, ini mengenai warnet. Sudah sebagaimana kita mafhumkan bersama dalam era internet dimana-mana, posisi dan kondisi warnet dalam taraf diujung nikmat. Mungkin di kota-kota kecil nan tidak metropolis, warnet masih jadi primadona untuk mendapatkan koneksi internet. Tapi di kota besar dan sedang, internet mudah didapatkan dari sekian banyak operator dll, jalur kabel maupun udara. Operator sinyal bertebaran, jadi rebutan bandwidth tiap pengguna. Kalau saja ada kacamata bisa melihat gelombang radio, nampaknya dunia kita ini sudah ruwet gelombang radio, televisi, operator telepon seluler, dll. Warnet yang dulu populer, dari tempat mesum, nginap malam, kerja, nugas, main dan lain-lain, kini bingung jadi tempat apa. Mungkin warnet dikhususkan jadi tempat game online, tapi nampaknya tidak bertahan lama seperti itu. Warnet juga kalah sama Cafe dan Rumah Makan, makan disana gratis wifi yang bisa bikin kita habiskan makan 2 kali, karena nunggu download 10 MB saja setengah jam.

Saya terpikirkan kenapa warnet tidak kembali ke asal kata dasarnya, Warung Internet ? Warung yang menjual jasa sedia internet, bukan dengan konsep bilik. Tetapi warung dengan konsep ruang publik, tempat kongkow, tempat ngumpul. Permasalahan utama kota besar itu tempat publik, kalau mau janjian ketemuan dimana "di mall A", "di Cafe A", kurang gitu tempat ngumpul bareng, ngobrol dll. Cafe sedia "free wifi", kenapa tidak "Iternet, free snacks" atau makanan. Kan kita ngafe itu nyari internet dan tempat ngumpul kan, makannya mah beli yang murah kan, semurah-murahnya juga di atas 10 ribu..haha. Kenapa gak dibalik ? Bayar buat wifi, gratis snack dan minum. Bayar wifi, yang seharga dengan paket yang ada, dengan internet terjamin, misal akses kabel atau wifi per titik, dengan kuota tentunya. Misal 10 ribu, dapat kuota 250 MB. Dah gede kan itu ? Apalagi kalau kecepatan stabil tidak lemot. Suasanya dibuat tempat ngumpul per meja-kursi atau apa. Sudah bukan zamannya lagi warnet tempat bilik mesum kan ? Jadi gini idenya, pelanggan datang, pesan jenis kuota, dapet tempat, akses dan password terus bonus makanan / minuman. Memang kendalanya ukuran warnet yang kecil, biasanya begitu. Ya diadaptasi bentuknya, perpustakaan kecil atau warung kopi. "Wifi, free gorengan" plus bubur kacang. Berapa sih, 5 ribuan kan biasanya ? Ya sesuaikan ukuran tempat warnet yang lama, dengan paket kuota dan cemilannya. Ukuran warnet rata-rata 4x5 m yang sering, dijadiin meja berhadap-hadapan saja. Toh orang-orang banyak punya gadget sendiri (BYOD), hanya butuh tempat ngumpul saja. Paket per kuota atau waktu bebas lah, atur sendiri saja, sudah mandiri kan.

Tentu saja pemikiran saya ini tidak bertanggung jawab, karena tidak memikirkan hal-hal lainnya. Tentu saja ini warnet untuk di daerah kota-kota besar dan sedang. Cuma menawarkan pemikiran terbalik yang sederhana "Makan, free internet" menjadi "Internet, free makan". Kebutuhan utama kita sekarang tempat ngumpul dan internet, bukan makan. Buktinya, kalau makan saja harus kirim fotonya lewat internet kan ? Mau duduk, check in dulu via internet ? Mau ngumpul, update status dulu manggilin teman-teman, lewat internet kan ? Pas mau kumpul, butuh internet buat cari info, berita, nonton video, lewat internet kan ? Pas udah ngumpul, masih ngobrol via status, google doc, dll kan ? Tapi kan sekarang internet mudah dimana-mana ada, iya. Hanya koneksinya tidak stabil di Indonesia, terus di tempat ngumpul malah tidak ada koneksi. Masih perlu dipikirkan lagi, mekanisme bayarnya, dan lain-lainnya. Karena pusing saya, itu urusanmu ya..haha
Read More

03/05/2013

Jangan Lupa Bergembira

Kali ini saya tidak akan pakai bahasa formal dan bahas filsafat yang berat, karena kemarin baru saja dimarahin Om Pascal. Kata dia "Kalau kita bertaruh Tuhan 'seolah-olah' ada, lalu ternyata akhirnya tidak ada, itu bukan masalah besar. Mungkin kita kehilangan waktu senang-senang. Tapi kalau kita bertaruh Tuhan tidak ada, lalu ternyata akhirnya ada. Matilah kita, kehilangan kehidupan yang abadi". Beliau ngomong begitu, jadi ingat teman-teman saya yang agnostik dan atheis, yang belum rajin sholat juga semoga mereka diceramahin Om Pascal. Balik lagi, kali ini saya mau bahas sesuatu yang membuat kita lupa bergembira. Hidupmu bagaimana ? Senang kah ? Puas kah ? Masih banyak beban kah ?

Dulu seringkali lihat update status FB atau kicauan Twitter, isinya orang marah-marah, mengomel, sedih, curhat, keluh kesah, gak pake mendesah tapinya. Keluh kesah itu tak peduli posisi, saat nyaman atau tidak pasti saja ada keluh kesah. "Ah, bodoh, kenapa cuma salah 1 soal saja" atau "Ah, kenapa ada yang nilai AB." Mungkin itu pertanda keluh kesah dalam kenyamanan, nah apalagi di zona susah ? Terus zona susah itu apa ? Misal ya kesusahan selalu diidentikkan dengan kemiskinan, lalu kemiskinan juga disempitkan lagi ke masalah benda. Kok sempit sekali ya hidup, hanya diukur dari materi. Tapi tidak seperti itu kok di Indonesia, sejauh riset saya orang-orang kita ini pandai 'menipu' dan menertawai sesuatu hal. Semua hal bisa kita tertawakan, dari Presiden, Ketua DPR, Pak RT, Eyang Subur, tetangga, teman sepermainan, cewek orang, bahkan diri kita sendiri. Orang Jawa Timur kenal itu Ludruk, isinya humor. Padahal yang ditampilkan adalah kesusahan hidup dan kritik sosial, tapi mampu disampaikan dalam gelak tawa. Keren lah orang-orang kita ini. Lupa sejenak dari dunia.

Dulu waktu kecil, mudah sekali kita bergembira. Mendapat hal kecil dan remeh juga kita senang, nyatanya itu hal yang baru. Tapi sekarang kita sulit sekali untuk bergembira, kita lupa cara untuk bergembira. Hidup sudah susah, banyak tekanan dan tuntutan, tidak ada hal yang membuat gembira ? Ah tidak, kegembiraan bukan pada kata 'apa' tapi kata 'bagaimana'. Kegembiraan tidak pernah pergi dari suatu hal, hanya pandangan kita saja yang membuatnya tidak tampak. Saat kita lapar, sangat senang sekali jika makan enak. Tapi saat kita penuh kesempatan makan, kita lupa untuk gembira pada makanan. Saat kita tak ada pacar, senang sekali kalau ada yang nemenin. Tapi pas sudah ada pacar, bosen juga kelamaan. Pelawak itu suka menunjukkan sisi gembira dari hal-hal yang tak kita lihat kegembiraannya. Nah, itu bisa saja karena kita sudah terlalu 'biasa' menanggapi suatu hal. Tetapi mereka melihatnya tidak biasa saja. Ternyata mudah kan melihat kegembiraan ? Misal "Kita harus bersyukur dengan penemu kata 'jalan'. Kalau gak, kita bakal 'lari' terus.", contoh garing melihat kata 'jalan'. Jadi kegembiraan itu terletak pada 'bagaimana', bukan 'apa'.

Tapi, nyatanya itu tak cukup membuat gembira. Manusia terlalu banyak yang membuatnya gelisah, takut dan sedih. Kita terlalu banyak berharap dan was-was. Kita berharap terlalu banyak, sehingga saat tidak memdapat suatu hal akan sedih dan marah. Lalu, saat kita memiliki barang, kita takut kehilangan. Punya sendal mahal, dibawa ke masjid takut hilang. Punya pacar cantik, takut direbut. Punya motor bagus, takut kegores. Kita suka banget sih hidup dalam takut dan harap yang berlebih. Jadi deh kita sulit buat bahagia dan gembira. Kurangilah harap dan takut kehilangan pada diri nte, secukupnya saja. Terus kebanyakan dari kita suka sok serius, padahal kata Tuhan hidup ini tak lebih dari senda gurau saja. Hiduplah serius tapi santai, kata Prambors mah. Jadi saja kita lupa lagi cara bergembira, terlalu serius menanggapi hidup, secukupnya saja.

Bergembira itu mudah, cukup lihat sekitar yang remeh saja bisa bergembira. Kita ini bangsa yang mudah bergembira dan suka sekali dihibur sebenarnya. Nonton apa saja bisa terhibur, mulia dari berita gosip, yang kawin lagi, tertangkap minum obat, sampai cerai jilid dua serta aneka sinetron dan lawak. Bahkan presiden dan pejabat negara juga kita tertawakan, hebatlah kita ini. Tapi itu juga gak baik sih, kita terlalu banyak buang-buang energi buat gembira dan tertawa berlebihan. Kita saking gembiranya fenomena itu, jadi lupa bergembira atas prestasi diri sendiri. Kita sampai lupa untuk menjaga mutu dan kualitas diri sendiri. Gembira dan tertawalah secukupnya, sebelum tertawa menuju gembira itu dilarang.

Cukuplah ya, saya mau bergembira dulu. Mari kita akhiri dengan doa bersama,
"Tuhanku, jangan Kau cabut dari kami rasa gembira. Usir lah dari kami penghuni was-was dan gelisah, agar kami tak lupa menjamu gembira bertamu"

Silakan gembira sebanyak kamu perlu. Kami sudah dari dulu.
Read More

01/05/2013

Baik Itu Tidak Sendiri

Oke singkat saja tulisan ini, saya mencoba untuk menulis yang sedikit filsafat. Kalau mau baca, jangan bergerak ya. Kiranya orang-orang suka dengan kata 'baik'. Kalau dia disebut orang baik, maka senang sekali. Kalau kerjaan dia disebut baik, maka dia juga senang dua kali. Tetapi baik itu ternyata tidak 'baik' sepenuhnya. Baiklah akan saya coba jelaskan baik itu sebaiknya apa.

Makan nasi itu baik, memberi tenaga pada tubuh. Tapi tidak baik, bagi orang terkena gula darah. Minum air putih itu baik, tapi kalau minum langsung 2 liter juga itu tidak baik. Membantu menolong orang mengangkut barang itu baik. Tapi tidak baik, kalau yang diangkut itu barang curian. Seseorang menembak orang dari jarak 1Km, itu menandakan dia penembak yang baik, tapi tidak menjadikan dirinya orang yang 'baik'. Sesuatu hal baik itu tidak sendirinya akan menjadi kebaikan. Dia membutuhkan syarat dan prasyarat, agar menjadi 'baik'.

Baik, sudah tahu arahnya kan. Jangan silau akan ke'baik'an atau hal-hal baik, itu mungkin saja tidak baik. Seperti umumnya orang-orang yang menunjukkan sisi baik saat pacaran dan setelahnya baru sadar orangnya tidak baik seperti yang ditunjukkan. Itulah kebaikan, itu tidak berdiri sendiri. Ada yang menemani, entah itu pamrih atau ikhlas, atau yang lainnya :) .

Kebetulan saya bisa menulis ini, bisa jadi ini bukan kebenaran. Meskipun kata dasarnya 'mirip'.
Read More

25/04/2013

Fragmentasi Sosial dan Cinta Terkuantifikasi

Waduh, judulnya ini berat. Ya berat, penat menelan filsafat pada jam hampir 11 malam lewat. Saya menulis ini dengan rasa takut akan dimarahi nanti oleh Eyang Descartes atau Om Newton. Ya, mereka tokoh ilmuwan yang mengubah dunia dan pola pandangnya, yang memajukan teknologi. Sains berkembang dan membawa kemajuan teknologi namun tidak menyentuh aspek moral, membuat teknologi hanya menjadi bahaya. Pakde Thomas Kuhn dulu sempat mengatakan bahwa ada hal paling mendasar dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah tidak serta merta berpikir sistematis, teoritis dan berdasarkan eksperimen positivis. Berpikir ilmiah itu dilandasi oleh sebuah paradigma, paradigma yang mengarahkan hasil dari proses berpikir tersebut.

Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.

Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.

Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.

Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !

"And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for" - Whitman
Read More