Showing posts with label hidup. Show all posts
Showing posts with label hidup. Show all posts

18/01/2014

Jodohnya Pedofil


Hari ini malam minggu, bukan sabtu malam. Katanya malam-malam seperti ini banyak pemuda-pemudi melakukan perjalanan malam, berburu rindu. Bagi umur-umur yang masuk kualifikasi dalam tim U-23 ini merupakan fenomena 'gejolak darah muda'. Biasanya mereka mengekspresikan malam minggu, jalan-jalan 'bersama'. Ya, melakukan yang dalam hal konvensi umat manusia bersama disebut 'pacaran'. Pada malam minggu ini, lampu merah adalah kawan. Saat waktu-waktu biasa kita ingin secepatnya lolos dari lampu merah, malam minggu membuat kita ingin berlama-lama dalam lampu merah (bagi yang punya pacar). Maka wajar saja jalanan macet, mereka berpasangan bersama bercengkerama dibawah naungan lampu merah, untuk sekedar menghabiskan waktu lebih lama, tidak ingin lekas berakhir kebersamaan ini (edyan, aing nulis apa ini).

Sudahlah, ada hal ini yang menarik bagi saya. Pacaran itu dari umur anak SD-SMA juga sudah mewabah. Temen sekelas, temen sekolah lain, temen kenal dimana juga bisa jadi pacar. Saya gak akan bahas mengenai pacaran itu baik atau buruk, boleh atau gak dalam agama. Saya gak punya kualifikasi buat hal itu. Cuma mau bilang aja, pacaran itu tujuannya untuk putus. Putus entah berpisah atau berubah derajat status hubungan katanya. Jadi mending gak usah pacaran, biar menyingkat proses saja. Tetapi bisa saja pacaran itu 'seumur hidup'.

Saya mau bahas mengenai fenomena pacarannya hingga peningkatan statusnya ya. Coba deh ya kita simak bersama. Pacaran ini biasanya umumnya seumuran, nah terus paling ya beda-beda plus minus 3 tahun lah, karena ukurannya satu sekolahan / kampus. Tetapi mudah kita temui pasangan suami-istri berbeda usia 7-9 tahun, bahkan lebih. Mungkin bisa kita lihat contoh orang-orang tua dari kita. Mereka tidak ada masalah dengan perbedaan usia tersebut. Namun bila kita tarik konteksnya ke dalam kerangka waktu anak SMA yang pacaran. Hal ini sangat aneh..haha. Bayangkan kamu lelaki kelas 3 SMA, punya pacar berbeda 7 tahun, berarti pacarmu itu masih kelas 4 SD. Bayangkan kamu mahasiswa tahun ke-4, pacarmu berarti masih SMA kelas 1. WOW !

Jadi bagi yang sekarang sedang pacaran, bayangkan kalau jodohmu itu berbeda usia cukup jauh nanti...hehe.
Read More

03/05/2013

Jangan Lupa Bergembira

Kali ini saya tidak akan pakai bahasa formal dan bahas filsafat yang berat, karena kemarin baru saja dimarahin Om Pascal. Kata dia "Kalau kita bertaruh Tuhan 'seolah-olah' ada, lalu ternyata akhirnya tidak ada, itu bukan masalah besar. Mungkin kita kehilangan waktu senang-senang. Tapi kalau kita bertaruh Tuhan tidak ada, lalu ternyata akhirnya ada. Matilah kita, kehilangan kehidupan yang abadi". Beliau ngomong begitu, jadi ingat teman-teman saya yang agnostik dan atheis, yang belum rajin sholat juga semoga mereka diceramahin Om Pascal. Balik lagi, kali ini saya mau bahas sesuatu yang membuat kita lupa bergembira. Hidupmu bagaimana ? Senang kah ? Puas kah ? Masih banyak beban kah ?

Dulu seringkali lihat update status FB atau kicauan Twitter, isinya orang marah-marah, mengomel, sedih, curhat, keluh kesah, gak pake mendesah tapinya. Keluh kesah itu tak peduli posisi, saat nyaman atau tidak pasti saja ada keluh kesah. "Ah, bodoh, kenapa cuma salah 1 soal saja" atau "Ah, kenapa ada yang nilai AB." Mungkin itu pertanda keluh kesah dalam kenyamanan, nah apalagi di zona susah ? Terus zona susah itu apa ? Misal ya kesusahan selalu diidentikkan dengan kemiskinan, lalu kemiskinan juga disempitkan lagi ke masalah benda. Kok sempit sekali ya hidup, hanya diukur dari materi. Tapi tidak seperti itu kok di Indonesia, sejauh riset saya orang-orang kita ini pandai 'menipu' dan menertawai sesuatu hal. Semua hal bisa kita tertawakan, dari Presiden, Ketua DPR, Pak RT, Eyang Subur, tetangga, teman sepermainan, cewek orang, bahkan diri kita sendiri. Orang Jawa Timur kenal itu Ludruk, isinya humor. Padahal yang ditampilkan adalah kesusahan hidup dan kritik sosial, tapi mampu disampaikan dalam gelak tawa. Keren lah orang-orang kita ini. Lupa sejenak dari dunia.

Dulu waktu kecil, mudah sekali kita bergembira. Mendapat hal kecil dan remeh juga kita senang, nyatanya itu hal yang baru. Tapi sekarang kita sulit sekali untuk bergembira, kita lupa cara untuk bergembira. Hidup sudah susah, banyak tekanan dan tuntutan, tidak ada hal yang membuat gembira ? Ah tidak, kegembiraan bukan pada kata 'apa' tapi kata 'bagaimana'. Kegembiraan tidak pernah pergi dari suatu hal, hanya pandangan kita saja yang membuatnya tidak tampak. Saat kita lapar, sangat senang sekali jika makan enak. Tapi saat kita penuh kesempatan makan, kita lupa untuk gembira pada makanan. Saat kita tak ada pacar, senang sekali kalau ada yang nemenin. Tapi pas sudah ada pacar, bosen juga kelamaan. Pelawak itu suka menunjukkan sisi gembira dari hal-hal yang tak kita lihat kegembiraannya. Nah, itu bisa saja karena kita sudah terlalu 'biasa' menanggapi suatu hal. Tetapi mereka melihatnya tidak biasa saja. Ternyata mudah kan melihat kegembiraan ? Misal "Kita harus bersyukur dengan penemu kata 'jalan'. Kalau gak, kita bakal 'lari' terus.", contoh garing melihat kata 'jalan'. Jadi kegembiraan itu terletak pada 'bagaimana', bukan 'apa'.

Tapi, nyatanya itu tak cukup membuat gembira. Manusia terlalu banyak yang membuatnya gelisah, takut dan sedih. Kita terlalu banyak berharap dan was-was. Kita berharap terlalu banyak, sehingga saat tidak memdapat suatu hal akan sedih dan marah. Lalu, saat kita memiliki barang, kita takut kehilangan. Punya sendal mahal, dibawa ke masjid takut hilang. Punya pacar cantik, takut direbut. Punya motor bagus, takut kegores. Kita suka banget sih hidup dalam takut dan harap yang berlebih. Jadi deh kita sulit buat bahagia dan gembira. Kurangilah harap dan takut kehilangan pada diri nte, secukupnya saja. Terus kebanyakan dari kita suka sok serius, padahal kata Tuhan hidup ini tak lebih dari senda gurau saja. Hiduplah serius tapi santai, kata Prambors mah. Jadi saja kita lupa lagi cara bergembira, terlalu serius menanggapi hidup, secukupnya saja.

Bergembira itu mudah, cukup lihat sekitar yang remeh saja bisa bergembira. Kita ini bangsa yang mudah bergembira dan suka sekali dihibur sebenarnya. Nonton apa saja bisa terhibur, mulia dari berita gosip, yang kawin lagi, tertangkap minum obat, sampai cerai jilid dua serta aneka sinetron dan lawak. Bahkan presiden dan pejabat negara juga kita tertawakan, hebatlah kita ini. Tapi itu juga gak baik sih, kita terlalu banyak buang-buang energi buat gembira dan tertawa berlebihan. Kita saking gembiranya fenomena itu, jadi lupa bergembira atas prestasi diri sendiri. Kita sampai lupa untuk menjaga mutu dan kualitas diri sendiri. Gembira dan tertawalah secukupnya, sebelum tertawa menuju gembira itu dilarang.

Cukuplah ya, saya mau bergembira dulu. Mari kita akhiri dengan doa bersama,
"Tuhanku, jangan Kau cabut dari kami rasa gembira. Usir lah dari kami penghuni was-was dan gelisah, agar kami tak lupa menjamu gembira bertamu"

Silakan gembira sebanyak kamu perlu. Kami sudah dari dulu.
Read More

01/05/2013

Kebebasan Bukan Membebaskan

Kenapa orang mengagungkan kebebasan ? Katanya itu termasuk dalam Hak Asasi Manusia, yang dasar dimiliki oleh manusia adalah kebebasan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya apa itu kebebasan ? Kebebasan dalam kamus bahasa Inggris yang diterjemahkan 'freedom', berarti"the condition of being free; the power to act or speak or think without externally imposed restraints" or " immunity from an obligation or duty". Bebas disini lebih diartikan dari hilangnya sebuah tanggung jawab dan dapat bertindak seenaknya tanpa batasan. Hmm, menurut saya bebas ini tidak baik sepenuhnya. Begini saya coba jelaskan, jangan beranjak dulu.

Wanita bebas memakai baju sesuai keinginan dia, dan menganggap kalau ada kasus pemerkosaan itu berarti otak lelakinya saja yang ngeres. Buktinya toh, ada saja wanita dengan pakaian lengkap dan tertutup diperkosa. Saya tidak setuju ! Kalau begitu, saya juga memiliki kebebasan untuk dapat berpikiran jernih. Naluriah lelaki, bila melihat wanita pasti tergoda. Ngaku saja lah, kalau gak tergoda diragukan kelelakiannya. Maka dengan ada wanita memakai baju seksi, akan merusak kebebasan saya berpikir jernih. Saya bebas berpikir, Anda-nya saja yang berpakaian tak senonoh, harusnya kan pakai yang senonoh. Kebebasan Anda itu memiliki batas dengan kebebasan orang lain. Hal ini yang tidak sering kita temukan dalam pemikiran manusia bumi. Bayangkan jika semua orang bebas, itu tentu saja ada banyak kecelakaan di jalan raya. Lalu lintas saja butuh aturan, tidak bebas.

Contoh selanjutnya, bila Anda saya beri kebebasan membeli barang apa saja di pusat perbelanjaan, tanpa memikirkan uang pada hitungan 30 menit. Anda akan beli apa ? Tentu Anda pusing bukan, mau memilih yang mana, apa duluan yang dibeli, harusnya apa dulu. Setelahnya Anda akan menyesal, "kalau saja saya beli itu, karena uangnya tak terbatas". Bandingkan bila Anda diberi waktu 30 menit, tapi diberi dana yang besar namun terbatas 6 juta. Angka 6 juta ini terserah saya, saya tiba-tiba ingat film 'Six Million Dollar Man'. Anda secara normal akan mengambil barang yang paling mahal dan paling dibutuhkan/diinginkan dahulu kan ? Kecuali Anda termasuk orang yang tak suka belanja. Mungkin Anda tidak akan mendapatkan barang sebanyak orang yang diberi dana tak terbatas. Tapi Anda mungkin tidak mendapat penyesalan, karena jatah uang itu mungkin akan Anda habiskan sepenuhnya. Merasa puas, tanpa penyesalan. Ternyata, kebebasan itu membawa penyesalan, bila kita membiarkan dia buas tanpa batas. Kebebasan itu malah membuat Anda tidak tenang akhirnya.

Kebebasan itu harus ada batasnya, bukan berarti jadi tidak 'bebas'. Tapi bebas untuk menentukan batas kepuasan dan toleransi bersama. Saya bisa saja bebas untuk berjalan telanjang di tengah kota, seperti kaum 'Nudist'. Tapi itu hanya menunjukkan bahwa saya bukan manusia beretika. Situ bebas makai baju apa saja, tapi saya juga bebas memiliki mata untuk melihat atau tidak melihat, atau bahkan hanya jalan tertunduk. Nah, selama ini ada aturan yang membatasi kebebasan kita, dengan cukup jelas. Hal itu agama.

Lho kenapa agama ? Kenapa tidak norma masyarakat, kebudayaan, hukum, dll ? Begini mas, kebudayaan dan norma masyarakat itu berkembang selalu, sesuai zaman. Agama sejak turunnya wahyu, ya sudah tidak ada perubahan, yang ada hanya penafsiran pada zamannya. Karena suatu hal yang tidak ada pada zaman sebelumnya. Sedangkan budaya, misal, dahulu pada eranya Churchill sama Hitler perang, hotpants itu digunakan bagi 'wanita penghibur'. Wanita-wanita memakai pakaian tertutup, korset, dll, hotpants melanggar moral. Nah, sekarang hotpants dimana-mana, apakah itu dianggap melanggar moral ? Sebab sekarang itu adalah menjadi bagian masyarakat, dan dianggap tidak merusak moral. Wong semua banyak yang gitu kok :|. Nah, kalau hukum itu kan buatan manusia. Lha, manusia itu tempatnya salah kok, mana ada hukum yang sempurna. Tapi kan bisa direvisi ? Ya, itu lebih baik lah sekiranya. Hukum itu bersifat mengikat dan keras, sedangkan norma tidak. Kalau tulisan saya yang lengkap masalah norma dan agama, disini nih. Tetapi sebagai manusia, jika saja kalian aktifkan itu punya 'hati nurani'. Anda tidak perlu hukum dan norma, karena hati nurani itu selalu berkata yang 'benar' pada manusia. Agama itu sesuai hati nurani, karena tidak ada paksaan.

Sudah sekian, sudah panjang ini. Terimakasih sudah mau baca. Jangan lupa kalau bahagia itu bagi-bagi :)
Read More

Baik Itu Tidak Sendiri

Oke singkat saja tulisan ini, saya mencoba untuk menulis yang sedikit filsafat. Kalau mau baca, jangan bergerak ya. Kiranya orang-orang suka dengan kata 'baik'. Kalau dia disebut orang baik, maka senang sekali. Kalau kerjaan dia disebut baik, maka dia juga senang dua kali. Tetapi baik itu ternyata tidak 'baik' sepenuhnya. Baiklah akan saya coba jelaskan baik itu sebaiknya apa.

Makan nasi itu baik, memberi tenaga pada tubuh. Tapi tidak baik, bagi orang terkena gula darah. Minum air putih itu baik, tapi kalau minum langsung 2 liter juga itu tidak baik. Membantu menolong orang mengangkut barang itu baik. Tapi tidak baik, kalau yang diangkut itu barang curian. Seseorang menembak orang dari jarak 1Km, itu menandakan dia penembak yang baik, tapi tidak menjadikan dirinya orang yang 'baik'. Sesuatu hal baik itu tidak sendirinya akan menjadi kebaikan. Dia membutuhkan syarat dan prasyarat, agar menjadi 'baik'.

Baik, sudah tahu arahnya kan. Jangan silau akan ke'baik'an atau hal-hal baik, itu mungkin saja tidak baik. Seperti umumnya orang-orang yang menunjukkan sisi baik saat pacaran dan setelahnya baru sadar orangnya tidak baik seperti yang ditunjukkan. Itulah kebaikan, itu tidak berdiri sendiri. Ada yang menemani, entah itu pamrih atau ikhlas, atau yang lainnya :) .

Kebetulan saya bisa menulis ini, bisa jadi ini bukan kebenaran. Meskipun kata dasarnya 'mirip'.
Read More

25/04/2013

Fragmentasi Sosial dan Cinta Terkuantifikasi

Waduh, judulnya ini berat. Ya berat, penat menelan filsafat pada jam hampir 11 malam lewat. Saya menulis ini dengan rasa takut akan dimarahi nanti oleh Eyang Descartes atau Om Newton. Ya, mereka tokoh ilmuwan yang mengubah dunia dan pola pandangnya, yang memajukan teknologi. Sains berkembang dan membawa kemajuan teknologi namun tidak menyentuh aspek moral, membuat teknologi hanya menjadi bahaya. Pakde Thomas Kuhn dulu sempat mengatakan bahwa ada hal paling mendasar dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah tidak serta merta berpikir sistematis, teoritis dan berdasarkan eksperimen positivis. Berpikir ilmiah itu dilandasi oleh sebuah paradigma, paradigma yang mengarahkan hasil dari proses berpikir tersebut.

Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.

Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.

Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.

Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !

"And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for" - Whitman
Read More

23/02/2013

Paradigma dan Berdebat

Tetiba saya ini terpikirkan mengenai paradigma dan berdebat, setelah beberapa hari lalu dalam kuliah 'Filsafat Ilmu' presentasi Sistematika Sains, mengenai paradigma. Perhatian sebelumnya, tulisan ini mungkin akan sedikit berat dibanding tulisan saya yang lain. Oke, saya coba definisikan dulu apa itu paradigma. Paradigma, dalam arti bahasa inggris berarti kerangka berpikir, dalam etimologis dari Yunani para(disamping) dan deigma(model), saya tak mengerti itu apa. Paradigma dimaksud berarti, "Model teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir". Jadi paradigma itu adalah hal yang menjadi acuan dalam orang berpikir mengenai sesuatu. Paradigma adalah 'kepercayaan' yang membimbing seseorang memandang suatu hal di dunianya, secara fundamental. Bila seseorang memiliki paradigma tertentu pada benda A, maka seluruh arah gerak terhadap eksplorasi dan komentar terhadap benda A itu akan sejalan dengan paradigma yang dia anut. Paradigma berbeda dengan sudut pandang menurut saya. Sudut pandang adalah mengambil posisi atas suatu tafsiran, sedangkan paradigma adalah arah pikir terhadap suatu hal.

"Suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata" - Patton(1975)
Thomas Kuhn, seorang tokoh yang mempelopori mengenai paradigma ilmu, berpendapat bahwa paradigma berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas. Kuhn lebih mengarahkan pendapat mengenai paradigma dalam hal ilmu. Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan itu berkembang secara revolusioner, tidak secara kumulatif. Hal ini lebih dikenal dengan istilah "Revolution Science" atau "Shift Paradigm". Contohnya, dahulu orang berpikir dengan mengacu pada mekanika Newton untuk segala hal dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi pada masa ini paradigma tersebut tidak cocok. Karena ternyata Mekanika Kuantum dari Einstein, lebih dapat menjelaskan mekanika yang ditemukan pada dunia modern. Sehingga pola pikir Kuantum menggeser Newtonian. Perubahan ini terjadi secara radikal, seperti orang yang memeluk 'agama' tertentu.

Implikasi dari adanya 'paradigma' ini diantaranya suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja. Karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, maka tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut. Ini tentu saja dalam konteks ilmu pengetahuan dunia, saya tak akan membahas paradigma ketuhanan dan agama pada bahasan ini. Nah, perubahan paradigma ini biasanya terjadi dalam perdebatan. Saya akan kemukakan bagaimana teknik per'debat'an menurut saya yang baik, dengan paradigma masing-masing.

Dalam perdebatan seringkali terjadi debat kusir, tiada akhir. Ya memang begitu, karena orang yang berdebat memiliki paradigma yang berbeda. Hal yang mubazir bila kita amati debat tersebut, karena tentu saja hasilnya adalah nihil. Orang-orang tersebut akan tetap berpikir dengan paradigma masing-masing. Hal ini yang sering saya temukan. Padahal dalam berdebat, intinya bukan untuk meyakinkan lawan debat kita. Saya tak suka berdebat secara tertutup, karena buat apa men'debat'i pemikiran orang yang sudah ajeg. Per'debat'an seharusnya dilakukan secara terbuka, karena suatu paradigma itu harus berkembang secara revolusioner, bila banyak orang yang awalnya 'menonton' akan memilih suatu paradigma. Jadi per'debat'an harus bersifat terbuka, karena sasarannya bukan lawan debat kita, tetapi penonton debat.

Ibaratnya kita 'debat' mengenai es krim. Saya suka rasa coklat, dia suka vanilla. Hal yang saya lakukan bukan memaksa dia suka rasa coklat. Tetapi menunjukkan ke penonton lain, bahwa ada es krim dengan rasa coklat dan vanilla. Silakan bebas ambil rasa apapun, tetapi rasa coklat itu begini, begitu, vanilla ini begini, begitu. Dalam debat, yang kita lakukan bukan meyakinkan orang suka vanilla dengan rasa coklat, tapi memberikan opsi dengan menjelaskan kelebihan coklat dibanding vanilla, kepada penonton. Karena buat apa berdebat dengan orang yang suka vanilla, debatlah orang yang belum memiliki 'paradigma'. Memang mereka belum memiliki paradigma ? Selama objek es krim tersebut bukan menjadi hal penting bagi mereka, mereka bisa dianggap belum memiliki paradigma. Menurut Kuhn, disebut dengan 'Pra-Science & Pra-Paradigm'. Hal ini yang jarang saya lihat dalam debat. Dalam debat selalu saja ingin mengalahkan lawan debat, padahal menurut saya bukan itu. Dalam debat, hal paling penting adalah memiliki per'setuju'an dari penonton lain mengenai tafsiran suatu hal. Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Jadi itu hanyalah sebuah asumsi, asumsi agar menjadi 'kebenaran' perlu disetujui orang banyak.

Maka daripada itu, saya sering menghindari debat tertutup. Misal diajak diskusi debat oleh seseorang mengenai suatu hal, saya biasanya hindari. Karena percuma, kecuali bila debat secara terbuka. Karena tujuan debat saya, bukan mengubah paradigma dia. Tapi menawarkan paradigma pada 'mereka'. Hal ini baru saya sadari sebagai teknik mengubah paradigma, setelah mempelajari paradigma ilmu Kuhn. Sebelumnya saya hanya berpikir bagaimana mengambil sudut pandang dan meluaskan pandangan pada orang sekitar.

Sudah ah sekian berpendapat mengenai paradigma dan perdebatan. Saya pusing sendiri menulis seperti ini, karena impulsif. Sekian.
Read More

14/12/2012

Ekspedisi dalam Malam

Sore ini aku sangat kelelahan, tetes keringat memang tak membasahi tubuh. Tapi penat sisa suntuk semalaman mengejar deadline tugas masih menggelayuti mata untuk istirahat. Sedari pagi hingga siang tadi pun aku tak sempat istirahat cukup. Panasnya kota kembang ini, kususuri untuk mengantar teman mencari komponen elektronik. Menyusuri Bandung pada masa ini, seperti merambah hutan kota. Harus menebas pohon kemacetan dalam pekik klakson bersahutan. Bandung yang dingin dan ramah ini, telah terkena global warming. Jalanan menghangat oleh deru mesin yang bergesekan dengan kesibukan. Barang yang dicari pun akhirnya didapat, setelah blusukan ke berbagai toko di Jaya Plaza. Siang sudah ingin menitipkan waktu pada sore, “Ton, capek juga ya cari barang gini aja. Untung bisa dapet di satu tempat aja”, sebut Jajang temanku itu. “Iya, gila juga tadi keliling gak dapet barang ini. Ini barang lama ya?”, timpalku. “Iya, barang ini udah jarang lagi, paling kanibal dari mesin asli. Kok mereka masih ada ya?”, temanku balik bertanya, “Mungkin mereka masih ada mesinnya banyak”, tambahku sekenanya. “Sing penting sudah dapat lah”, jawabku sambil menyeruput es dawet sambil kami istirahat. Jajang itu temanku dari kampus yang sudah 3 tahun ini kutinggali sebagai perguruanku. Dia berasal dari Bandung, tetapi kelahiran Jawa Tengah. Jadi kami bisa ngobrol 3 bahasa, Sunda, Jawa dan Indonesia. Aku sendiri bisa berbahasa Sunda dan Jawa, sama seperti dia, tapi aku lahir di Jawa dan orang tua dari Sunda.
Ton, malam nanti kita refreshing lihat Bandung lah. Lama kali kita tak pernah refreshing, tugas kuliah mulu”, ya memang begitu sebagai mahasiswa tugas adalah sahabat sejati tiap malam, ajak kawanku. “Aduh, pegel lah. Urang belum istirahat lah ini dari kemarin.”, balasku. Aku dan Jajang memang berbeda jurusan, meskipun kami satu fakultas. Jajang pada jalur perangkat 'keras' dan aku di perangkat 'lunak'. Kami sedang ada proyek bersama, sehingga aku 'terpaksa' menemani dia mencari komponen untuk proyek ini. Aku memang ingin sekali istirahat, setelah lelah ini. “Ya sudah, ini malam minggu loh. Barangkali kita dapat kenalan baru, haha”, ya memang kami ini pemuda yang taat agama karena tak pacaran, alasannya padahal aslinya kami ini hanya tak laku, tak sempat bercengkerama dengan perempuan. Tugas kuliah dan kemalasan yang membuat kami hidup di lebar dunia kampus saja.
Kami pun pulang setelah mendapatkan barang itu, kembali dengan merambah jalanan dan berpacu dengan lampu merah. Orang-orang disini sedang buru-buru semua, jalanan ini ujian kesabaran. Semua kendaraan berebut mengambil kesempatan masuk jalan dan tikungan, tidak melihat pengendara lain, mungkin juga tidak peduli. Sampai di kosan, jam 3 lebih sekian, setelah mengantar Jajang ke kosannya yang berjarak beda 3 RW dari tempatku ini. Kuambil waktu menghadap Illahi dalam shalat, sambil mengistirahatkan badan sejenak. Kupikir pada Tuhan, sungguh manusia ini dalam kesempitan. Hidupnya selalu dipenuhi dengan tekanan dan kesibukan dunia, pada jalanan tadi ku berkaca. Orang-orang sangat buru-buru, tak peduli keselamatan. “Apa sih yang dikejarnya?”, dalam hatiku berdiskusi. Kalaupun mereka mengejar dunia, toh kenapa malah tak peduli hidup di dunia. Ah, sambil ku tiduran di atas sajadah, ku rasakan nikmat angin sore hari. Sial! Ternyata aku tertidur cukup lama, tiba-tiba saja terbangun sudah pukul 7 kurang 20 menit, maghrib sudah lewat setengah jam. Aku buru-buru mengambil wudlu lagi dan segera shalat. Ah, pusing kepala malah jadinya bila tidur bablas sore. Memang dunia ini membuat terlena. Sudah isya saja, padahal barusan baru shalat maghrib, ya memang saya telat bangun sih. Jadi saja saya shalat Isya lagi, terus bingung mau ngapain. Sambil membaca buku yang menumpuk di meja belajar, tepatnya meja belajar menyimpan barang dengan rapih. Meja itu tak kugunakan sebagai tempat belajar lagi, buku-buku ku sudah menjadi digital di laptop kesayangan tak lepas dari dalam tas tiap hari. Bosan membaca buku, kubuka laptop dan mencolokkan modem broadband dengan pendingin modem 'Embozz' yang kubeli dari info FJB kampus. Lumayan, modem jadi tidak panas dan tidak koneksi putus.
Pertama kali pasti kubuka Facebook, ah tidak ada yang menarik informasi notifikasi postingan di grup, yang membosankan. Facebook telah mengubah sejarah komunikasi manusia dan bentuknya. Manusia kini hidup di dua dunia, dunia nyata dan dunia maya, dan batasnya kini sudah menjadi tiada. Kita berbicara di maya dan nyata, kini seakan tampak sama. Semua terasa kabur, bahkan di dunia nyata, kita sudah tersedot ke bagian lain maya. “Ah, sampah. Malam minggu ini tidak ada informasi menarik, mungkin pada pacaran semua kali ya kontributornya”, timpalku dalam hati. Lalu kubuka Twitter, ini isinya adalah ungkapan jomblowan dan jomblowati yang terintimidasi hari raya pasangan di akhir pekan. Ah ini lebih menarik menurutku, lucu-lucu kuamati lalu lintas 140 karakter di media ini. Tapi bosan juga, seakan hidup ini hanya menguntit kata-kata orang saja. Kututup saja lah itu laptop yang baru setengah jam kuamati layarnya saja, sambil menekan tombol-tombolnya. Suasana diluar sana agak dingin, hujan sudah habis tadi sore nampaknya.
Bingung menggelayuti pikiranku, tugas menumpuk tak sempat kulirik karena penat sudah tugas kemarin itu. Kantuk pun tak datang menghampiri yang sudah kubuang dengan tidur sore itu. “Jang, lagi di kosan gak? Yuk ah main keluar lihat Bandung, aing penat euy di kosan”, kutelpon Jajang menjawab tawarannya siang tadi. “Oke, urang aja lah yang ke kosan maneh, terus kita pergi gitu kemana.”, balasnya. “Siap bray, diantosan ya.”, jawabku cepat. Tak sampai 15 menit, Jajang sudah di depan kosan, gila cepat juga dia, sudah siap nampaknya. “Ton, mau kemana nih kita?”, tanyanya padaku. “Kemana aja keliling jalanan Bandung, terserah sampean saja”, balasku sekenanya. Motor pun melaju tanpa tujuan jelas. Ah, akhirnya kami menyumbang kemacetan jalanan malam ini. Ternyata malam minggu itu lebih parah dari siang hari. Penuh kendaraan, jalanan sesak, lampu saling mencolok pandangan, ditambah klakson lagi. Ah, masyarakat ini tak punya kesabaran ya, kemacetan ini kan sudah jelas tak perlu klaksonmu mengingatkan. Kalau saja ini bulan Ramadhan, tentunya ini ladang pahala ujian kesabaran kami. Kami dengan iseng saja menelusuri Dago yang macet, terus ke Balai Kota, ke Landmark dan berbelok ke arah jalan ABC. Keisengan ini bukan tanpa sebab, kami juga ingin mencari jalanan bebas macet dan selap selip kesana kemari. Tanpa diskusi penting di motor dalam perjalanan, kami malah berkomentar mengenai orang-orang saja. Aku heran pada wanita di Bandung, disini ini dingin menusuk kulit tak sampai tulang. Tapi mereka senang pakai mini skirt, bahkan jeans panjang ku pun masih terasa terselip dingin diantaranya. Biarlah mungkin dengan itu mereka menambah kehangatan Bandung ini. Menyusuri Banceuy, kami mendapati banyak perempuan berpakaian ketat sambil bermain telunjuk, seperti menghentikan angkutan umum, tapi ternyata angkutan um-um yang dicari.
Ton, mau berhenti gak? Ngobrol bentar sama mereka? Hehe”, terkekeh garing Jajang mengajak ku bercanda. “Hayuk lah, iseng-iseng”, kata-kata itu yang meluncur dari mulutku, entah kenapa. “Eh, beneran nih?”, heran tanyanya padaku. “Itu, kayaknya masih muda. Sana aja Jang”, balasku seperti itu. Ternyata Jajang tak bercanda, kami pun berhenti di depan perempuan muda yang berdiri dipinggir jalan. Kini pikiran dan hatiku tak mau kompromi, sama-sama pusing dan bingung sendiri ini bercanda model apa. “Check in, mas?”, tanyanya lirih menggoda pada kami. Rok pendek, make up menyembunyikan muda usianya menurutku, rokok mild di tangan kanan, bibir merah basah sedikit, wanita itu menggoda kami. “Berapa, ceu?”, tiba-tiba Jajang menanggapi, sambil sedikit kutahan tawa dengan membuang wajah. “300 mas”, mungkin 300 ribu maksudnya. “Kirain dapet 100 teh”, balas tawarnya. “Kalau mau, sama ibu-ibu seberang sana”, perempuan itu langsung mundur sedikit. “Ya udah, kita cari yang lain dulu ya mba”, timpalku langsung. Lalu kutepuk pundak Jajang, mengisyaratkan segera pergi. Langsung tawa ku meledak, tak kusangka yang kita lakukan sampai seperti itu. “Njir, gelo maneh tadi. Untung gak ada premannya.”, samber ku padanya. “Hahaha, sekali kali lah. Pengen ketawa juga waktu tadi saya lihat muka dia, cantik sih, tapi ...”, jawabnya.
Aku dan Jajang memang suka bercanda, mungkin agak berlebihan dan kebablasan menurut sebagian teman. Tapi itulah justru keakraban, bukan dengan kelemah lembutan. Tapi kata-kata polos dan seakan kasar itulah pelumas sosial kami dalam mengakrabkan diri. Motor pun terus melaju, kini ke arah Andir. Sambil tetap membayangkan hal tadi, bila teteh tadi mengiyakan tawaran Jajang, apa yang kubilang. Kami tak mungkin benar-benar transaksi dengannya. Motor kami sudah sampai daerah Andir saja, tepatnya di Saritem. Ya Saritem, entah angin apa yang membawa kami kesini. Daerah ini sudah terkenal seperti Dolly di Surabaya dan Sarkem di Yogyakarta, dan kami dengan semangat bercanda kesini. Masuk gang ini, kami disambut plang 'Selamat Datang dikawasan Pesantren...', ya benar yang kulihat. Kami tertawa, apakah ini penyamaran atau kenyataan. Ironis sekali, daerah dikenal seperti ini disambut oleh tulisan itu. Pesantren ini benar adanya. Aku bertanya dalam hati, dakwah apa yang mereka kaum pesantren sebar disini, sampai Saritem tak sempat membersihkan namanya. Tapi biar saja toh ternyata Tuhan kita sembunyikan di rumah suci ibadah dan tidak kita bawa ke kotornya dunia.
Eh, kita berhenti disini nih, Jang? Sus lah kau?”, tanyaku memastikan. “Iya, bray. Kita iseng lagi aja disini”, jawab lagi sekenanya. Motor kami parkir diujung salah satu gang, lalu tak lama kami dihampiri pria tua, sekitar 60an tahun. “Check in, A ?”, kembali kata-kata itu yang ditawarkan. “ABG, ada, Bah?”, Jajang bertanya balik. Gila ini, dalam hatiku berkecamuk. “Eta mah banyak, hayu”, pria itu menggiring kami ke sebuah rumah. Dalam rumah tersebut wanita muda hingga tua berjejer di sofa, dengan pakaian ketat kembali menggoda mata. Ada 3 wanita muda, umurnya kira-kira dibawah 20 tahun, aroma harum dan pakaian mini mereka kenakan. “Tuh pilih aja, A”, ucapnya, “Berapa itu, Bah ?”, sok akrab aku pun berani bicara. “300”, katanya, harga pasaran yang tak berbeda. Apakah ini sebuah kesepakatan pasar menurutku, tapi kualitas berbeda. “Kalau main di sini, di kamar atas, nambah 75 ribu, tambah teh botol dan kondom, habislah 400an, A”, gila benar yang kudengar ini seks jadi komoditi, ditawarkan paket dan semacam itu. Tepok jidat dalam benakku, gila saja dunia ini. Tak kukira seperti ini dunia yang kulihat dan kuintip di televisi selama ini. Tak kubayangkan gadis muda seperti mereka turun ke dunia ini, wajah mereka tak ada pancaran 'kupu-kupu malam', masih polos begitu saja. “”Gimana, A?”, tanya pria tua itu lagi mengaburkan keherananku. Jajang dengan cerdas mampu berkelit, kami beralasan sedang menunggu teman lain juga. Kami bayar saja upah 'lelah' untuk pria tua itu. Selamat lah kami keluar dari rumah itu, tanpa tergoda. Kami langsung mengambil motor dan lewati malam menuju kosan, mengakhiri petualangan iseng kami dengan mengawani malam, melihat realita Bandung ini.
Tak dapat kubayangkan mereka yang muda sudah terjun dalam dunia itu, bagaimana yang tua, bagaimana kalau mereka punya anak. Siapa yang salah? Mana ada wanita yang bercita-cita ingin jadi seperti itu? Mereka pasti korban kerasnya dunia menurutku, atau bahkan kesenjangan sosial. Jadi tak sepenuhnya salah mereka, kita juga memiliki saham atas alpa mereka. Pengalaman malam ini tak akan kulupakan, aku membuka mata atas sisi dunia yang kita pinggirkan karena tabu untuk diucapkan. Itulah kebenaran yang kita buang dalam pekatnya malam.
Read More

17/06/2012

Susahnya Memaafkan

Hey, pernahkah Anda sakit hati ? Diputus pacar, dibohongin pacar, ditolak pacar, dicuekin pacar ? Lho, kok ini pacar semua, ah dasar kalian anak muda. Bukan, begitu kisanak maksudnya. Sakit hati adalah banyak perkara yang menyebabkannya, apalagi hal-hal sensitif. Seringkali kita sakit hati karena ditipu orang, dikhianati orang. Dalam hal pekerjaan, organisasi dan jenis lainnya. Atau bahkan tanpa sebab, kita sakit hati. Ah nampaknya tidak mungkin, sakit hati pasti ada sebabnya. Dan itu yang membuat kita mengingatnya nikmat sakit hati. Makan tidak enak, tidur gak nyenyak, buang air besar tak tenteram, gundah gulana tak karuan karena sibuk menikmati dan memikirkan balas dendam. Yes, sweet revenge dude. Seakan hati ini akan lega dan sakitnya tak terhankan akan sirna, bila kita bisa melampiaskan kekesalan dan rasa itu yang disebut sakit hati. Mungkin tidak secara fisik, tetapi kita ingin memberi mereka pelajaran dan tidak mengulangi perbuatan mereka. Dengan cara membalasnya yang setimpal.

Tapi, setelah beberapa pengalaman saya dengan hal-hal seperti itu. Ditambah saya kepoin orang-orang. Apasih yang bikin mereka sakit hati, dll, dsb, dttbl(dan tetek bengek lainnya). Alasan yang beragam, dan kebanyakan ingin 'membalas' dendam dan sakit hatinya itu. Saya menemukan, berarti bukan menemukan baru. Tapi menemukan sesuatu yang hilang, atau luput kita sadari. Bahwa cara membalas dendam yang paling baik, adalah hidup bahagia. Orang yang membuat sakit hati kita ini, ingin melihat kita kesakitan dan sengsara. Jangan kita beri memenuhi keinginan mereka, kita tunjukkan kita bahagia meski tindakan mereka buruk. Jangan habiskan perhatian kita meratapi masa lalu. Kehidupan yang kita dapatkan dan kebahagiaan yang kita fokuskan di tempat lain, cukup untuk menutup luka itu. Tanpa harus membalas dendam. Hey, kebayang gak? Susah emang, kalau belum pernah merasakan sakit hati yang luar biasa..hahaha

Kebetulan saya punya Al Quran, meskipun saya belum mengerti banyak dan belum bisa 'membaca' secara cermat. Tapi saya menemukan petikanNya di An-Nahl : 126. Saya gak akan nulis disini, silakan buka Al-Qurannya. Saya bukan ustad atau orang alim, maklum cupu tingkat sotoy. Sekalian kalian buka itu kitab, daripada dipajang saja di lemari. #jleb. Jadi menurut kitab bacaan yang mulia itu, Obat sakit hati adalah tak membalas, dan kemudian memaafkan. Kita memang diper'boleh'kan membalasnya, sesuai kadarnya. Tetapi yang paling baik adalah menahan diri, untuk kemudian memaafkan. Hey, itu firman Tuhan. Bagi yang percaya silakan, bagi yang tidak silakan.

Pertama, kita sadari perbuatan mereka salah. Bagi anggapan kita, bagi mereka entah. Tapi kita tengok lagi ke dalam diri kita. Jika mereka menyakiti hati kita, apakah kita pernah menyakiti hati orang lain? Apa yang terjadi, bila dunia ini merupakan lingkaran tak terputus dari aksi saling balas dendam, sikut menyikut, pukul-pukulan?! Kedua, kita bungkus sakit hati itu lalu buang saja, lupakan. Membalasnya, tidak membuat baik. Malah membuat buruk. Berarti kita sama saja dengan mereka, kita telah berubah menjadi mereka. Memaafkan mereka lebih baik dan mulia. Sebab jika tidak memaafkan, luka itu justru semakin dalam, semakin berkepanjangan dan semakin mengarat di hati. Dengan tidak memaafkan, kita telah merajut kepedihan terus menerus, antara kita dan mereka.

Anda punya Tuhan kan ? Saya tak menanyakan 'apa' Tuhan Anda. Tapi Anda setidaknya harus punya keyakinan, bahwa ada yang akan mengurus ini semua. Diluar kekuasaan dan kemampuan Anda. Menahan diri itu merupakan tingkat manusia 'ultra high'. Manusia diberi kebebasan dan free will, tetapi kita malah memilih menahan diri. Mantap kan ? Kita bisa menguasai diri kita. Jadilah orang yang pemaaf, tapi bukan berarti seperti mpok siapa itu di 'Bajaj Bajuri', yang selalu ngomong maaf kalau ada apa-apa. Wah sudah lupa saya, maaf..hehe.

Wah, susah ya memaafkan ? Harus menjadi orang yang mendekati 'suci' dan 'kudus' ? Ah, tidak. Manusia semua punya potensi itu. Tinggal bagaimana kita ingin hidup bahagia atau tidak. Sebab memaafkan tidak lahir, kecuali dari orang yang bahagia.

Selamat berbahagia, selamat memaafkan. Sebelum lebaran, sebelum dimakamkan. Sekian..






Read More

10/10/2009

Kiat Dalam Menghadapi Persoalan Hidup

KIAT DALAM MENGHADAPI PERSOALAN HIDUP



1. Jangan Bersedih



Kesedihan amat akrab dengan kecemasan, keduanya menyebabkan lemahnya semangat dan kehendak hati untuk berbuat suatu kebaikan. Namun pada tahap tertentu kesedihan tak dapat terhindarkan.

"Dan janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati" (Ali Imran : 139)

"Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah selalu bersama kita" (At-Taubah : 40)

"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami" (Fathir : 34)



2. Ingat Allah



Bersama kesulitan ada kemudahan. Ketika tertimpa suatu musibah/kesulitan kita harus melihat sisi terang darinya, karena Allah akan menggantinya dengan kekuatan lain dan pahala. Menyerahkan semua perkara pada Allah, bertawakal kepada-Nya, percaya sepenuhnya tehadap janji-janji-Nya dan berbaik sangka Kepada-Nya menunggu dengan sabar datangnya pertolongan dari-Nya.

"Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, datangnya dari Allah" (An-Nahl : 53)

"Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Akku mengingat kamu" (Al-Baqarah : 152)



Jalanilah hidup ini apa adanya dan ambillah madunya.



3. Berpikir dan Bersyukur



Apapun bentuk kehidupan yang kita terima merupakan nikmat dari Allah yang harus selalu disyukuri.

"Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan" (Ar-Rahman : 13)



4. Yang Lalu Biarlah Berlalu



Janganlah hidup dalam mimpi buruk masa lalu, selamatkan diri dari cengkeraman kesedihan masa lalu dan berfikirlah jernih menatap masa depan.



5. Hari Ini Milik Kita



Anggaplah hari ini adalah hari terakhir kita menikmati kehidupan, maka berbuatlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Hiduplah hari ini dengan tanpa kesedihan, keresahan, kemarahan, kebencian dan kedengkian.



"Dan berpegang teguhlah dengan apa yang telah Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang yang bersyukur" (Al-A'raf : 144)





HS'03 cc: Ahmad Anshori
Read More