Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts
01/05/2013
Kebebasan Bukan Membebaskan
Kenapa orang mengagungkan kebebasan ? Katanya itu termasuk dalam Hak Asasi Manusia, yang dasar dimiliki oleh manusia adalah kebebasan bagi dirinya sendiri. Sebenarnya apa itu kebebasan ? Kebebasan dalam kamus bahasa Inggris yang diterjemahkan 'freedom', berarti"the condition of being free; the power to act or speak or think without externally imposed restraints" or " immunity from an obligation or duty". Bebas disini lebih diartikan dari hilangnya sebuah tanggung jawab dan dapat bertindak seenaknya tanpa batasan. Hmm, menurut saya bebas ini tidak baik sepenuhnya. Begini saya coba jelaskan, jangan beranjak dulu.
Wanita bebas memakai baju sesuai keinginan dia, dan menganggap kalau ada kasus pemerkosaan itu berarti otak lelakinya saja yang ngeres. Buktinya toh, ada saja wanita dengan pakaian lengkap dan tertutup diperkosa. Saya tidak setuju ! Kalau begitu, saya juga memiliki kebebasan untuk dapat berpikiran jernih. Naluriah lelaki, bila melihat wanita pasti tergoda. Ngaku saja lah, kalau gak tergoda diragukan kelelakiannya. Maka dengan ada wanita memakai baju seksi, akan merusak kebebasan saya berpikir jernih. Saya bebas berpikir, Anda-nya saja yang berpakaian tak senonoh, harusnya kan pakai yang senonoh. Kebebasan Anda itu memiliki batas dengan kebebasan orang lain. Hal ini yang tidak sering kita temukan dalam pemikiran manusia bumi. Bayangkan jika semua orang bebas, itu tentu saja ada banyak kecelakaan di jalan raya. Lalu lintas saja butuh aturan, tidak bebas.
Contoh selanjutnya, bila Anda saya beri kebebasan membeli barang apa saja di pusat perbelanjaan, tanpa memikirkan uang pada hitungan 30 menit. Anda akan beli apa ? Tentu Anda pusing bukan, mau memilih yang mana, apa duluan yang dibeli, harusnya apa dulu. Setelahnya Anda akan menyesal, "kalau saja saya beli itu, karena uangnya tak terbatas". Bandingkan bila Anda diberi waktu 30 menit, tapi diberi dana yang besar namun terbatas 6 juta. Angka 6 juta ini terserah saya, saya tiba-tiba ingat film 'Six Million Dollar Man'. Anda secara normal akan mengambil barang yang paling mahal dan paling dibutuhkan/diinginkan dahulu kan ? Kecuali Anda termasuk orang yang tak suka belanja. Mungkin Anda tidak akan mendapatkan barang sebanyak orang yang diberi dana tak terbatas. Tapi Anda mungkin tidak mendapat penyesalan, karena jatah uang itu mungkin akan Anda habiskan sepenuhnya. Merasa puas, tanpa penyesalan. Ternyata, kebebasan itu membawa penyesalan, bila kita membiarkan dia buas tanpa batas. Kebebasan itu malah membuat Anda tidak tenang akhirnya.
Kebebasan itu harus ada batasnya, bukan berarti jadi tidak 'bebas'. Tapi bebas untuk menentukan batas kepuasan dan toleransi bersama. Saya bisa saja bebas untuk berjalan telanjang di tengah kota, seperti kaum 'Nudist'. Tapi itu hanya menunjukkan bahwa saya bukan manusia beretika. Situ bebas makai baju apa saja, tapi saya juga bebas memiliki mata untuk melihat atau tidak melihat, atau bahkan hanya jalan tertunduk. Nah, selama ini ada aturan yang membatasi kebebasan kita, dengan cukup jelas. Hal itu agama.
Lho kenapa agama ? Kenapa tidak norma masyarakat, kebudayaan, hukum, dll ? Begini mas, kebudayaan dan norma masyarakat itu berkembang selalu, sesuai zaman. Agama sejak turunnya wahyu, ya sudah tidak ada perubahan, yang ada hanya penafsiran pada zamannya. Karena suatu hal yang tidak ada pada zaman sebelumnya. Sedangkan budaya, misal, dahulu pada eranya Churchill sama Hitler perang, hotpants itu digunakan bagi 'wanita penghibur'. Wanita-wanita memakai pakaian tertutup, korset, dll, hotpants melanggar moral. Nah, sekarang hotpants dimana-mana, apakah itu dianggap melanggar moral ? Sebab sekarang itu adalah menjadi bagian masyarakat, dan dianggap tidak merusak moral. Wong semua banyak yang gitu kok :|. Nah, kalau hukum itu kan buatan manusia. Lha, manusia itu tempatnya salah kok, mana ada hukum yang sempurna. Tapi kan bisa direvisi ? Ya, itu lebih baik lah sekiranya. Hukum itu bersifat mengikat dan keras, sedangkan norma tidak. Kalau tulisan saya yang lengkap masalah norma dan agama, disini nih. Tetapi sebagai manusia, jika saja kalian aktifkan itu punya 'hati nurani'. Anda tidak perlu hukum dan norma, karena hati nurani itu selalu berkata yang 'benar' pada manusia. Agama itu sesuai hati nurani, karena tidak ada paksaan.
Sudah sekian, sudah panjang ini. Terimakasih sudah mau baca. Jangan lupa kalau bahagia itu bagi-bagi :)
Read More
Wanita bebas memakai baju sesuai keinginan dia, dan menganggap kalau ada kasus pemerkosaan itu berarti otak lelakinya saja yang ngeres. Buktinya toh, ada saja wanita dengan pakaian lengkap dan tertutup diperkosa. Saya tidak setuju ! Kalau begitu, saya juga memiliki kebebasan untuk dapat berpikiran jernih. Naluriah lelaki, bila melihat wanita pasti tergoda. Ngaku saja lah, kalau gak tergoda diragukan kelelakiannya. Maka dengan ada wanita memakai baju seksi, akan merusak kebebasan saya berpikir jernih. Saya bebas berpikir, Anda-nya saja yang berpakaian tak senonoh, harusnya kan pakai yang senonoh. Kebebasan Anda itu memiliki batas dengan kebebasan orang lain. Hal ini yang tidak sering kita temukan dalam pemikiran manusia bumi. Bayangkan jika semua orang bebas, itu tentu saja ada banyak kecelakaan di jalan raya. Lalu lintas saja butuh aturan, tidak bebas.
Contoh selanjutnya, bila Anda saya beri kebebasan membeli barang apa saja di pusat perbelanjaan, tanpa memikirkan uang pada hitungan 30 menit. Anda akan beli apa ? Tentu Anda pusing bukan, mau memilih yang mana, apa duluan yang dibeli, harusnya apa dulu. Setelahnya Anda akan menyesal, "kalau saja saya beli itu, karena uangnya tak terbatas". Bandingkan bila Anda diberi waktu 30 menit, tapi diberi dana yang besar namun terbatas 6 juta. Angka 6 juta ini terserah saya, saya tiba-tiba ingat film 'Six Million Dollar Man'. Anda secara normal akan mengambil barang yang paling mahal dan paling dibutuhkan/diinginkan dahulu kan ? Kecuali Anda termasuk orang yang tak suka belanja. Mungkin Anda tidak akan mendapatkan barang sebanyak orang yang diberi dana tak terbatas. Tapi Anda mungkin tidak mendapat penyesalan, karena jatah uang itu mungkin akan Anda habiskan sepenuhnya. Merasa puas, tanpa penyesalan. Ternyata, kebebasan itu membawa penyesalan, bila kita membiarkan dia buas tanpa batas. Kebebasan itu malah membuat Anda tidak tenang akhirnya.
Kebebasan itu harus ada batasnya, bukan berarti jadi tidak 'bebas'. Tapi bebas untuk menentukan batas kepuasan dan toleransi bersama. Saya bisa saja bebas untuk berjalan telanjang di tengah kota, seperti kaum 'Nudist'. Tapi itu hanya menunjukkan bahwa saya bukan manusia beretika. Situ bebas makai baju apa saja, tapi saya juga bebas memiliki mata untuk melihat atau tidak melihat, atau bahkan hanya jalan tertunduk. Nah, selama ini ada aturan yang membatasi kebebasan kita, dengan cukup jelas. Hal itu agama.
Lho kenapa agama ? Kenapa tidak norma masyarakat, kebudayaan, hukum, dll ? Begini mas, kebudayaan dan norma masyarakat itu berkembang selalu, sesuai zaman. Agama sejak turunnya wahyu, ya sudah tidak ada perubahan, yang ada hanya penafsiran pada zamannya. Karena suatu hal yang tidak ada pada zaman sebelumnya. Sedangkan budaya, misal, dahulu pada eranya Churchill sama Hitler perang, hotpants itu digunakan bagi 'wanita penghibur'. Wanita-wanita memakai pakaian tertutup, korset, dll, hotpants melanggar moral. Nah, sekarang hotpants dimana-mana, apakah itu dianggap melanggar moral ? Sebab sekarang itu adalah menjadi bagian masyarakat, dan dianggap tidak merusak moral. Wong semua banyak yang gitu kok :|. Nah, kalau hukum itu kan buatan manusia. Lha, manusia itu tempatnya salah kok, mana ada hukum yang sempurna. Tapi kan bisa direvisi ? Ya, itu lebih baik lah sekiranya. Hukum itu bersifat mengikat dan keras, sedangkan norma tidak. Kalau tulisan saya yang lengkap masalah norma dan agama, disini nih. Tetapi sebagai manusia, jika saja kalian aktifkan itu punya 'hati nurani'. Anda tidak perlu hukum dan norma, karena hati nurani itu selalu berkata yang 'benar' pada manusia. Agama itu sesuai hati nurani, karena tidak ada paksaan.
Sudah sekian, sudah panjang ini. Terimakasih sudah mau baca. Jangan lupa kalau bahagia itu bagi-bagi :)
10/01/2013
Membaca Da Peci Code
Duh, sebenarnya ini novel lama, tapi saya baru baca -_-. Novel ini buku pertama, dari dua buku karya Ben Sohib yang diadaptasi menjadi film. Film '3 hati 2 Dunia 1 Cinta' yang menjadi film terbaik FFI 2009 kalau tak salah. Dibintangi Reza Rahardian, Laura Basuki dan Arumi Bachsin. Beuh, betah dah nonton film gini pemerannya mereka. Tapi saya lebih tertarik mengenai ceritanya. Cerita di film dan novel ternyata beda-beda tipis. Saya lebih dahulu menonton filmnya, baru membaca novelnya. Jadi imajinasi novel saya, terbatas pada ingatan film. Tapi memang mirip sih, cuma jadi tidak bebas berimajinasi saja. Saya akan bercerita buku pertama dulu. Judulnya memang unik, seperti novel Dan Brown, tapi isinya beda kok. Cerita disini mengenai kebudayaan memakai peci di kalangan muslim Indonesia, oleh tokoh di cerita dipertanyakan ke'wajib'annya.
Sering gak sih kita mempertanyakan kenapa pakai sarung, peci, itu dianggap orang alim, dan diidentikkan itu baju islami ? Padahal mah itu bukan satu-satunya baju islami. Itu hanya produk kebudayaan saja, sama seperti surban, gamis dsb, yang ada di Arab. Rasul lahir dan hidup di Arab, pada masa yang memilliki mode pakaian tersebut. Hal tersebut terus terjaga dan menjadi kebudayaan disana. Nah, kata siapa itu baju islami satu-satunya? Abu Jahal juga pakai surban dan gamis kok. Hal-hal itulah yang pembuat ingin sampaikan di cerita novel setebal 300an halaman ini. Sarung itu dari kebudayaan Hindu, peci itu dipakai di Yahudi, Kristen dan Islam, baju koko itu baju model Cina yang diadopsi menjadi baju 'muslim'. Itu semua produk budaya yang bercampur di Indonesia dahulu kala. Baju itu tidak memiliki agama, tapi manusialah yang membuat baju itu pantas tidak mengikuti perintah agama. Jadi gak ada baju islami, semua baju yang menutup aurat dan sesuai penafsiran agama ya itu baju yang tepat. Itu baru salah satu topik yang diangkat di novel. Masih banyak lagi topik yang diangkat di novel tersebut, terkait kehidupan sosial, beragama dan berbudaya di Indonesia. Tapi satu yang menarik saya, percintaan beda agama. Beuh, ini berat mamen.
Dikisahkan di novel ini, tokoh utama 'Rosid' seorang pemuda muslim yang kritis dan berkemauan keras, memiliki kekasih 'Delia' gadis Nasrani yang berparas manis, berhati mulia dan sangat mencintai Rosid. Kalau di film, Rosid=Reza Rahardian, Delia=Laura Basuki. Ngeri-ngeri sedap lah konflik dan pesan yang diangkat disini. Komentar saya sih, namanya cinta dan jodoh ya tidak bisa ditebak. Bisa aja berbeda agama, tapi apakah sampe segitunya ? Ada sekitar 7 miliyar manusia di bumi, 240 juta di Indonesia, sekitar 130 juta perempuan di Indonesia, mendapatkan 'SATU' saja apakah sulit ? Ya memang begitulah cinta kata orang-orang, tak bisa dipaksakan dan itu tumbuh dengan sendirinya. Tumbuh dalam tanah kekaguman dan pupuk kasih sayang. Kita tidak tahu dengan siapa nanti kita akan berpagut. Bisa dijodohkan, bisa ketemu di jalan, bisa ketemu teman lama, bisa ketemu lawan lama, bisa dengan siapa saja. Balik lagi ke cerita, jadi percintaan mereka tidak disetujui orang tua mereka semua. Pada buku kedua, lebih menceritakan hal ini, sedangkan di buku pertama, sebagai pelengkap dan pemanis cerita. Tapi saya akan tuliskan disini, dialog 'epic' mengenai hal ini untuk direnungi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Panjang bray, kalau saya tulis lengkap, baca aja sendiri..haha. Ya, begitulah kira-kira isi novel tersebut. Ini nanti ada yang nganggep saya pluralisme, dll. Ah biarin aja, saya menganggap itu cerita mengenai pluralitas, bukan pluralisme. Perbedaan itu kita hormati, tapi tetap kita meyakini kebenaran absolut bagi diri kita sendiri. Justru kalau kita menganggap semua benar, itu akan merusak prinsip kehidupan diri sendiri. Saya juga tak menganjurkan berpacaran, apalagi berbeda agama. Kan sudah saya bilang, ada ratusan juta perempuan diluar sana, kenapa gak bisa dapet 'SATU' saja. Lalu, pacaran juga, bukan tujuan kan. Tujuannya adalah akhir dari itu, bisa dengan berpisah atau bersama. Kalau begitu, kenapa gak langsung bersama aja? Lebih berkomitmen kan. Tapi cerita novel ini ingin menyentuh semua orang dan menyampaikan pemikirannya, maka perlu disesuaikan dengan budaya yang ada berkembang.
Membaca novel ini, membuka pikiran mengenai persoalan yang kita pinggirkan karena tabu untuk dibicarakan. Kita terlalu pengecut untuk memikirkan hal-hal yang sudah biasa kita jalani, tak sadar itu untuk apa. Saya hanya ingin mengajak pembaca tulisan ini berpikir lagi, berani memiliki pendapat, tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Sekian lah, saya gak ingin menuliskan essay dan pendapat panjang. Biarkan kalian berpikir mengenai agama, cinta dan sosial.
Read More
Sering gak sih kita mempertanyakan kenapa pakai sarung, peci, itu dianggap orang alim, dan diidentikkan itu baju islami ? Padahal mah itu bukan satu-satunya baju islami. Itu hanya produk kebudayaan saja, sama seperti surban, gamis dsb, yang ada di Arab. Rasul lahir dan hidup di Arab, pada masa yang memilliki mode pakaian tersebut. Hal tersebut terus terjaga dan menjadi kebudayaan disana. Nah, kata siapa itu baju islami satu-satunya? Abu Jahal juga pakai surban dan gamis kok. Hal-hal itulah yang pembuat ingin sampaikan di cerita novel setebal 300an halaman ini. Sarung itu dari kebudayaan Hindu, peci itu dipakai di Yahudi, Kristen dan Islam, baju koko itu baju model Cina yang diadopsi menjadi baju 'muslim'. Itu semua produk budaya yang bercampur di Indonesia dahulu kala. Baju itu tidak memiliki agama, tapi manusialah yang membuat baju itu pantas tidak mengikuti perintah agama. Jadi gak ada baju islami, semua baju yang menutup aurat dan sesuai penafsiran agama ya itu baju yang tepat. Itu baru salah satu topik yang diangkat di novel. Masih banyak lagi topik yang diangkat di novel tersebut, terkait kehidupan sosial, beragama dan berbudaya di Indonesia. Tapi satu yang menarik saya, percintaan beda agama. Beuh, ini berat mamen.
Dikisahkan di novel ini, tokoh utama 'Rosid' seorang pemuda muslim yang kritis dan berkemauan keras, memiliki kekasih 'Delia' gadis Nasrani yang berparas manis, berhati mulia dan sangat mencintai Rosid. Kalau di film, Rosid=Reza Rahardian, Delia=Laura Basuki. Ngeri-ngeri sedap lah konflik dan pesan yang diangkat disini. Komentar saya sih, namanya cinta dan jodoh ya tidak bisa ditebak. Bisa aja berbeda agama, tapi apakah sampe segitunya ? Ada sekitar 7 miliyar manusia di bumi, 240 juta di Indonesia, sekitar 130 juta perempuan di Indonesia, mendapatkan 'SATU' saja apakah sulit ? Ya memang begitulah cinta kata orang-orang, tak bisa dipaksakan dan itu tumbuh dengan sendirinya. Tumbuh dalam tanah kekaguman dan pupuk kasih sayang. Kita tidak tahu dengan siapa nanti kita akan berpagut. Bisa dijodohkan, bisa ketemu di jalan, bisa ketemu teman lama, bisa ketemu lawan lama, bisa dengan siapa saja. Balik lagi ke cerita, jadi percintaan mereka tidak disetujui orang tua mereka semua. Pada buku kedua, lebih menceritakan hal ini, sedangkan di buku pertama, sebagai pelengkap dan pemanis cerita. Tapi saya akan tuliskan disini, dialog 'epic' mengenai hal ini untuk direnungi.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Delia menatap Rosid yang tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia menunggu beberapa saat, lalu katanya "Karena iman kita berbeda, maka kita harus mengakhiri hubungan ini. Itu kan yang kamu mau bilang, Sid?"--------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kita harus realistis, Del", jawab Rosid. Ketika mengucapkan kalimat itu, Rosid merasa seperti mengunyah pasir.
"Apa kamu pikir cinta itu nggak realistis?" tanya Delia dengan nada tinggi
"Del, aku kasihan sama kamu. Jika kita meneruskan hubungan kita, mungkin kamu harus berpisah dengan orang tuamu. Apa kamu juga gak kasihan sama mereka?"
"Dengan mengorbankan cinta kita?"
"Del, tadi pagi aku dinasehati ayahnya si Mahdi agar memutuskan hubungan ini karena alasan perbedaan kita. Tapi demi Tuhan, aku abaikan semua nasehat itu. Aku sanggup berkorban apapun demi cintam karena aku seorang lelaki. Tapi apakah kamu sanggup?"
"Apakah berkorban demi cinta itu juga berarti aku harus mengikuti apa yang kamu ikuti, meyakini apa yang kamu yakini dan membenarkan apa yang kamu benarkan?" Delia balik bertanya
"Iya, karena aku menginginkan kesempurnaan. Apa kamu pikir, Del, kesempurnaan itu bisa didapat dari perbedaan? Coba aku ingin jawabanmu yang jujur"
"Bisa aja, bukankah lelaki dan perempuan itu berbeda? Toh mereka bisa bersatu dalam cinta?"
"Del. kamu terlalu pragmatis. Kamu gak mengerti, bahwa sesungguhnya lelaki dan perempuan itu satu"
"Aku gak ngerti apa maksudmu, Sid?"
"Aku pernah mendengar Mahdi bercerita tentang Ibn 'Arabi, salah seorang filosof dari Timur. Menurut dia, ketika Tuhan menciptakan Adam dan Hawa lalu mempertemukannya, mereka berdua saling mendekati. Mendekatnya Adam kepada Hawa adalah untuk mencari bagian dari dirinya yang hilang, yaitu tulang rusuknya yang diambil untuk menciptakan Hawa. Sementara Hawa kepada Adam tidak lain hanyalah ingin kembali menuju tempat dirinya berasal. Berarti mereka berdua itu sesungguhnya satu"
"Kalau begitu, agama kita yang berbeda sesungguhnya satu, sama-sama menyembah Tuhan yang satu, sama-sama ingin mencari kesempurnaan. Lalu kenapa kita gak bisa bersatu dalam cinta?"
"Bisa, tapi masalahnya ketika kita memutuskan untuk bersatu, kita harus meleburkan perbedaan itu, dan mengorbankan salah satunya. Apakah kamu mau mengorbankan keyakinanmu demi cinta kita?"
Delia terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun setelah itu ia kembali bertanya.
"Kenapa harus mengorbankan salah satunya? Apa gak bisa kita tetap dengan keyakinan kita masing-masing?"
"Berarti kita masih menyimpan perbedaan, kapan kita bisa menuju pada kesempurnaan? Pilihannya cuma satu, Del, kamu yang mengikuti aku, atau aku yang mengikuti kamu."
"Jadi kamu tidak percaya semua agama itu baik?"
"Aku meyakini bahwa setiap agama itu baik, karena setiap agama itu menyuruh orang berbuat baik, tidak mencuri, menolong yang lemah dan sbagainya. Tapi Del, aku juga meyakini bahwa hanya satu saja yang benar, itulah aganaku, sebagaimana kamu meyakini bahwa hanya agamamulah yang benar. Itulah alasannya mengapa meskipun kita saling menghormati, tapi kita tidak saling mengikuti"
Panjang bray, kalau saya tulis lengkap, baca aja sendiri..haha. Ya, begitulah kira-kira isi novel tersebut. Ini nanti ada yang nganggep saya pluralisme, dll. Ah biarin aja, saya menganggap itu cerita mengenai pluralitas, bukan pluralisme. Perbedaan itu kita hormati, tapi tetap kita meyakini kebenaran absolut bagi diri kita sendiri. Justru kalau kita menganggap semua benar, itu akan merusak prinsip kehidupan diri sendiri. Saya juga tak menganjurkan berpacaran, apalagi berbeda agama. Kan sudah saya bilang, ada ratusan juta perempuan diluar sana, kenapa gak bisa dapet 'SATU' saja. Lalu, pacaran juga, bukan tujuan kan. Tujuannya adalah akhir dari itu, bisa dengan berpisah atau bersama. Kalau begitu, kenapa gak langsung bersama aja? Lebih berkomitmen kan. Tapi cerita novel ini ingin menyentuh semua orang dan menyampaikan pemikirannya, maka perlu disesuaikan dengan budaya yang ada berkembang.
Membaca novel ini, membuka pikiran mengenai persoalan yang kita pinggirkan karena tabu untuk dibicarakan. Kita terlalu pengecut untuk memikirkan hal-hal yang sudah biasa kita jalani, tak sadar itu untuk apa. Saya hanya ingin mengajak pembaca tulisan ini berpikir lagi, berani memiliki pendapat, tidak hanya sekedar ikut-ikutan. Sekian lah, saya gak ingin menuliskan essay dan pendapat panjang. Biarkan kalian berpikir mengenai agama, cinta dan sosial.
Free your mind, enlighten your mind
03/04/2011
Mengapa Memilih Islam ?
Mengapa Anda beragama? Sudahkah kau temukan jawabannya? Lalu mengapa kamu memilih agama tersebut? Khususnya disini renungan saya, mengapa memilih ISLAM. Pemeluk agama, agamanya, serta keberagaman agama yang manusia pilih. Islam sendiri asas dasarnya adalah Tauhid. Tauhid atau akidah tersebut adalah fundamental Islam, yang membedakan Islam dengan agama lain. Seorang muslim, pemeluk ISLAM, adalah yang berserah diri. Mereka mengakui hanya satu Tuhan, yaitu Allah SWT.Meyakini Allah mengirim Nabi Muhammad sebagai Rasul bagi umat akhir zaman dan nabi-nabi terdahulu serta rasul terdahulu bagi umat terdahulu.
Cerita terdahulu dari agama-agama samawi mengenai manusia pertama, adalah Adam. Lalu, Adam itu beragama apa? Semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) menyebutkan Adam dalam ajarannya. jadi agamanya apa? Pada Al-Qur’an, kitab suci umat ISLAM, tertulis,
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". “ (QS.2:38)
Adam disuruh untuk mencari petunjukNYA, karena dengan itu dia akan merasa tenang dan tercukupi. Jadi agamanya?he3. Dari dulu, Allah sudah menurunkan petunjukNYA, namun untuk akhir zaman ini dinamakan ISLAM. Lalu bagaimana petunjuk itu datang? Tentunya dari kita ada yang dilahirkan dari keluarga muslim, ada juga saudara kita yang masuk ISLAM setelah mengetahuinya, ada juga yang benar-benar tidak mengetahuinya. Yang sudah ‘islam’ dari lahir, pernahkah merenung mengapa terlahir islam? Yang memilih ISLAM, kenapa memilih itu? Dan yang mengetahui ISLAM, tetapi memilih selain ISLAM tentu memiliki alasannya sendiri. Dalam ISLAM ada konsep hidayah, yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Lalu apakah orang yang tidak masuk ISLAM tidak mendapat hidayah? Sesungguhnya mereka yang mengetahui ISLAM dan tidak memilihnya, sudah diberi petunjuk. Namun manusia memiliki pilihannya sendiri.
Dalam proses menemukan kebenaran tersebut (bagi orang yang berakal) akan tercipta banyak celah masuknya konsep ketuhanan. Teringat kisah Nabi Ibrahim? Beliau mempertanyakan kenapa menyembah patung, padahal patung tersebut tidak mampu memberikan apa-apa. Lalu beliau ‘mencari’ Tuhan, dari bintang, bulan, hingga matahari beliau kira Tuhan (Al-An’aam:74-78). Hingga akhirnya Allah memberinya petunjuk. Jadi hidayah itu ada, dalam proses pencarian kebenaran tersebut. Bisa juga kita memilih Tuhan yang lain, saat mencari kebenaran tersebut. Dalam konsep ISLAM sendiri, tidak ada paksaan dalam memilihnya, Laa ikrooha fiddiin. ISLAM tidak memaksa manusia, karena manusia berakal dan memiliki pilihan. Inilah indahnya ISLAM, benar-benar keikhlasan diri untuk memeluknya. Bagi siapa yang merasa terkekang oleh ISLAM, silakan mencari agama selain itu. Apakah ada? Penulis juga teringat kisah Malcolm X, yang menemukan jawaban atas apa yang ia perjuangkan untuk kaumnya (negro). Ia melihat ISLAM sebagai ajaran pemersatu, tidak ada perbedaan pada semua orang. Kulit putih, kulit hitam, kuning, cokelat, semuanya bersatu. Itulah keindahan yang ia lihat dari ISLAM.
Ada orang yang lahir dari keluarga ISLAM, tapi tidak dapat menikmati indahnya ISLAM. Adapula orang terlahir diluar ISLAM, tetapi mereka menemukan indahnya ISLAM. ISLAM memberikan kebebasan untuk memilih pada manusia
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(QS.18:29)
Lalu kenapa Allah tidak membuat saja semua orang memeluk Islam? Agar semua selamat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:118-119)
Allah telah tegas menjawabnya seperti itu. Dalam bahasa saya, tidak mungkin tercapai kesatuan pendapat dalam segala hal. Sekali lagi karena kita makhluk berbudi dan berakal.
Lalu kenapa di dalam ISLAM sendiri banyak perbedaan dan kelompok? Itu karena perbedaan tingkat pemahaman akal atas firman Allah. Selama akidah tetap Tauhid, kitab suci sama, dan Rasul yang sama, itulah saudara muslim. Bagi yang sudah memilih ISLAM, harus menelannya penuh. Kita dibebaskan memilih agama, tetapi tidak dibebaskan memilah ajaran agama. ISLAM adalah keseluruhan hidupmu, tidak ada sekat pada berbagai aspek. Anda bekerja, belajar, mandi, tidur, semuanya adalah ISLAM. Bahkan konsep kenegaraan pun tidak ada yang disebut demokrasi islami, republik islami. Semua itu adalah ISLAM. Demokrasi hanyalah bagian kecil dari ISLAM, demokrasi yang kita anggap (filsuf yunani), hanyalah pengejewantahan yang sempit dari makna demokrasi dalam ISLAM. Ibaratnya nasi itu adalah demokrasi, maka ISLAM adalah berasnya.
Jadi sungguh indah ISLAM. Rasakan sendiri indahnya ISLAM, raih nikmat ajarannya, sebarkan keindahannya. Jangan jadikan agama itu sebuah hal yang membatasi kasih sayang manusia. Jangan kerukunan kau korbankan atas nama agama, tetapi jangan pula kau nodai kesucian agama demi kerukunan. Hormati pilihan tiap manusia. Tuhanmu sendiri tidak memaksa orang untuk masuk ISLAM, mengapa kamu memaksakannya? Biarlah mereka temukan sendiri kebenarannya, kawan-kawan muslim hanya wajib untuk menyebarkan keindahan ISLAM ini. Inilah yang membuat penulis mantap untuk memilih ISLAM. Semoga islamku, islammu,islam kita,sesuai dengan petunjukNYA.
Read More
Cerita terdahulu dari agama-agama samawi mengenai manusia pertama, adalah Adam. Lalu, Adam itu beragama apa? Semua agama samawi (Yahudi, Nasrani, Islam) menyebutkan Adam dalam ajarannya. jadi agamanya apa? Pada Al-Qur’an, kitab suci umat ISLAM, tertulis,
“Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". “ (QS.2:38)
Adam disuruh untuk mencari petunjukNYA, karena dengan itu dia akan merasa tenang dan tercukupi. Jadi agamanya?he3. Dari dulu, Allah sudah menurunkan petunjukNYA, namun untuk akhir zaman ini dinamakan ISLAM. Lalu bagaimana petunjuk itu datang? Tentunya dari kita ada yang dilahirkan dari keluarga muslim, ada juga saudara kita yang masuk ISLAM setelah mengetahuinya, ada juga yang benar-benar tidak mengetahuinya. Yang sudah ‘islam’ dari lahir, pernahkah merenung mengapa terlahir islam? Yang memilih ISLAM, kenapa memilih itu? Dan yang mengetahui ISLAM, tetapi memilih selain ISLAM tentu memiliki alasannya sendiri. Dalam ISLAM ada konsep hidayah, yang berhak memberi hidayah adalah Allah. Lalu apakah orang yang tidak masuk ISLAM tidak mendapat hidayah? Sesungguhnya mereka yang mengetahui ISLAM dan tidak memilihnya, sudah diberi petunjuk. Namun manusia memiliki pilihannya sendiri.
Dalam proses menemukan kebenaran tersebut (bagi orang yang berakal) akan tercipta banyak celah masuknya konsep ketuhanan. Teringat kisah Nabi Ibrahim? Beliau mempertanyakan kenapa menyembah patung, padahal patung tersebut tidak mampu memberikan apa-apa. Lalu beliau ‘mencari’ Tuhan, dari bintang, bulan, hingga matahari beliau kira Tuhan (Al-An’aam:74-78). Hingga akhirnya Allah memberinya petunjuk. Jadi hidayah itu ada, dalam proses pencarian kebenaran tersebut. Bisa juga kita memilih Tuhan yang lain, saat mencari kebenaran tersebut. Dalam konsep ISLAM sendiri, tidak ada paksaan dalam memilihnya, Laa ikrooha fiddiin. ISLAM tidak memaksa manusia, karena manusia berakal dan memiliki pilihan. Inilah indahnya ISLAM, benar-benar keikhlasan diri untuk memeluknya. Bagi siapa yang merasa terkekang oleh ISLAM, silakan mencari agama selain itu. Apakah ada? Penulis juga teringat kisah Malcolm X, yang menemukan jawaban atas apa yang ia perjuangkan untuk kaumnya (negro). Ia melihat ISLAM sebagai ajaran pemersatu, tidak ada perbedaan pada semua orang. Kulit putih, kulit hitam, kuning, cokelat, semuanya bersatu. Itulah keindahan yang ia lihat dari ISLAM.
Ada orang yang lahir dari keluarga ISLAM, tapi tidak dapat menikmati indahnya ISLAM. Adapula orang terlahir diluar ISLAM, tetapi mereka menemukan indahnya ISLAM. ISLAM memberikan kebebasan untuk memilih pada manusia
“Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”(QS.18:29)
Lalu kenapa Allah tidak membuat saja semua orang memeluk Islam? Agar semua selamat.
“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan: sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (QS.11:118-119)
Allah telah tegas menjawabnya seperti itu. Dalam bahasa saya, tidak mungkin tercapai kesatuan pendapat dalam segala hal. Sekali lagi karena kita makhluk berbudi dan berakal.
Lalu kenapa di dalam ISLAM sendiri banyak perbedaan dan kelompok? Itu karena perbedaan tingkat pemahaman akal atas firman Allah. Selama akidah tetap Tauhid, kitab suci sama, dan Rasul yang sama, itulah saudara muslim. Bagi yang sudah memilih ISLAM, harus menelannya penuh. Kita dibebaskan memilih agama, tetapi tidak dibebaskan memilah ajaran agama. ISLAM adalah keseluruhan hidupmu, tidak ada sekat pada berbagai aspek. Anda bekerja, belajar, mandi, tidur, semuanya adalah ISLAM. Bahkan konsep kenegaraan pun tidak ada yang disebut demokrasi islami, republik islami. Semua itu adalah ISLAM. Demokrasi hanyalah bagian kecil dari ISLAM, demokrasi yang kita anggap (filsuf yunani), hanyalah pengejewantahan yang sempit dari makna demokrasi dalam ISLAM. Ibaratnya nasi itu adalah demokrasi, maka ISLAM adalah berasnya.
Jadi sungguh indah ISLAM. Rasakan sendiri indahnya ISLAM, raih nikmat ajarannya, sebarkan keindahannya. Jangan jadikan agama itu sebuah hal yang membatasi kasih sayang manusia. Jangan kerukunan kau korbankan atas nama agama, tetapi jangan pula kau nodai kesucian agama demi kerukunan. Hormati pilihan tiap manusia. Tuhanmu sendiri tidak memaksa orang untuk masuk ISLAM, mengapa kamu memaksakannya? Biarlah mereka temukan sendiri kebenarannya, kawan-kawan muslim hanya wajib untuk menyebarkan keindahan ISLAM ini. Inilah yang membuat penulis mantap untuk memilih ISLAM. Semoga islamku, islammu,islam kita,sesuai dengan petunjukNYA.
Mengapa Beragama ?
Setelah lama tak sempat menulis, saya ‘berani’kan diri menulis lagi. Sekedar renungan untuk diri sendiri, mudah-nudahan renungan bersama. Pada suatu siang di masjid kampus, ada seorang yang mengikrarkan diri menjadi satu bagian dari Islam. Banyak orang yang turut bahagia dengan hal itu, sehingga massa berkumpul di tengah-tengah ruangan. Menjadi saksi ikrar tersebut, sungguh suasana yang hangat. Setiap orang kemudian menyalami orang tersebut dan menyambutnya sebagai saudara. Orang tersebut dengan ikhlas hati memilih Islam, diberi nasehat untuk terus belajar Islam. Belajar dari sumber utama firmanNYA, tuntunan rasulNYA, dan bertanya kepada orang yang berilmu. Disela-sela momen itu, justru membuat jiwa saya bergetar. Ada pertanyaan kembali yang mencuat, “Mengapa kita beragama? Mengapa Islam saya pilih menjadi agama saya?”. Dan banyak pikiran menerawang, efek domino dari pertanyaan itu. Setidaknya hingga saya menemukan ketenangan dari jawaban ini.
Agama dalam definisi buku istilah manusia adalah ajaran, sistem yg mengatur tatakeimanan (kepercayaan) kepadaTuhan YangMahakuasa,dan tata kaidahyg bertalian dengan pergaulan manusiadan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu. Agama adalah sebuah ajaran, yang mempercayai adanya Tuhan (Tuhan seperti apa?) serta kaidahnya atas kepercayaan tersebut pada sesama manusia dan alam. Saya simpulkan bahwa agama adalah tata cara hubungan antara makhluk dan penciptanya (CMIIW). Perlukah kita beragama? Pertanyaan ini tidak akan muncul, jika kita tidak menghayati hidup atau bahkan tidak memaknai keberjalanan hidup kita. Bagi sebagian orang, agama dipandang sebuah status saja. Sehingga jika tidak ada label tersebut, maka merasa bukan bagian umum dari kebudayaan. Tetapi, coba tanyakan hal tersebut pada orang yang memilih menjadi atheis. Padahal seorang atheis sendiri memiliki ‘agama’ sendiri, yang tidak ada dalam kamus keberagamaan umum. Maka untuk apa memilih suatu agama?
Kebutuhan kita akan agama, berawal dari kegelisahan jiwa. Berangkat dari fitrah manusia, bahwa manusia senantiasa mencari kebenaran untuk dirinya, kebaikan dan keindahan yang dapat ia rasakan. Dari kegelisahan jiwa tersebut, muncul celah informasi tentang ketuhanan untuk masuk. Bentuk Tuhan ini ia persepsikan untuk memenuhi kegelisahan tersebut, maka tak heran ada banyak ‘Tuhan’ yang kita ciptakan. Setelah manusia menemukan ‘Tuhan’ tersebut, maka segala sikap batin yang tampak dalam ‘ibadah’nya menyembah ‘Tuhan’ itu tercermin dalam kesehariaannya. Tetapi, apakah cukup menemukan ‘Tuhan’, maka itu disebut beragama?
Fungsi agama adalah menciptakan rasa aman atau sejahtera bagi pemeluknya. Dengan agama yang sedemikian banyak, setiap pemeluk agama telah memiliki ‘kebenaran’ dan rasa aman masing-masing. Interpretasi atas kebenaran tiap agama tersebut ada yang menganggap absolut dan relatif. Ada yang menganggap hanya satu agama yang paling benar. Ada yang menganggap setiap agama itu memilki kebenaran yang relatif. Sehingga timbul persepsi bahwa seluruh agama itu adalah sama, hanya ‘bentuk’nya yang berbeda. Sesungguhnya perlu diberi batasan jelas atas hal ‘kebenaran’ tersebut. Menurut penulis, setiap pemeluk agama harus meyakini bahwa yang dia yakini adalah kebenaran absolut. Sehingga ia dengan jelas memiliki identitas agamanya. Namun tidak serta merta dengan semangat menggebu menginginkan ada satu kesamaan pendapat dan orang lain memeluk agama yang sama. Manusia dengan akal budinya, berhak memilih pilihannya sendiri. Karena, kesatuan pendapat dalam segala hal tidak mungkin tercapai. Sikap absolusitas ini adalah sikap jiwa ke dalam, tidak menuntut pernyataan dari luar bagi yang tidak menyakininya. Karena dia yakin atas kebenaran tersebut dalm pribadinya.
Hidup ini bagaikan lalu lintas manusia, butuh peraturan untuk menghindari ‘tabrakan’ sesama manusia, dengan alam, bahkan ‘kecelakaan’ individu. Lalu aturan yang bagaimana, bisa memberi hal itu?Jika aturan lalu lintas itu dibuat oleh individu tersebut sendiri, maka tidak akan timbul keteraturan. Karena manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, dan yang lebih parah adalah EGO. Dibutuhkan aturan yang maha paripurna. Darimana itu berasal? Harus dari Tuhan yang benar-benar pencipta individu tersebut. Karena Dia lah yang benar-benar mengetahui seluruh kebutuhan manusia atas dialektika dengan sekitarnya. Jadi, agama dari Tuhan itu dibutuhkan untuk mengaturnya. Tentunya bila ‘agama’ tersebut memberikan aturan hidup yang jelas bagi pemeluknya.
Masalah Tuhan ini, biarkan kalian temukan sendiri jawabannya. Kalian harus rasakan sendiri proses mencari kebenaran tersebut, kalian lihat sendiri keindahan Tuhan tersebut, dan kalian rasakan sendiri kebaikanNYA. Setelah itu, kalian harus mengikuti aturan Tuhan tersebut sepenuhnya. Karena, kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Tuhan dan agama. Tuhan tidak perlu pengabdian manusia. Karena jika ‘Tuhan’ itu Tuhan yang sebenarnya, maka tidak akan mengurangi kesempurnaanNYA kita beribadah atau tidak. Justru kemashlahatan manusia itu berasal dari Tuhan, dan kita butuh Dia.
Lalu, mengapa memilih ISLAM sebagai agama? Ada banyak jawabnya, setiap orang memiliki alasan masing-masing. Bahkan ada jawaban mengapa tidak memilih ISLAM. Nanti akan saya bahas disini.
Read More
Agama dalam definisi buku istilah manusia adalah ajaran, sistem yg mengatur tatakeimanan (kepercayaan) kepadaTuhan YangMahakuasa,dan tata kaidahyg bertalian dengan pergaulan manusiadan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu. Agama adalah sebuah ajaran, yang mempercayai adanya Tuhan (Tuhan seperti apa?) serta kaidahnya atas kepercayaan tersebut pada sesama manusia dan alam. Saya simpulkan bahwa agama adalah tata cara hubungan antara makhluk dan penciptanya (CMIIW). Perlukah kita beragama? Pertanyaan ini tidak akan muncul, jika kita tidak menghayati hidup atau bahkan tidak memaknai keberjalanan hidup kita. Bagi sebagian orang, agama dipandang sebuah status saja. Sehingga jika tidak ada label tersebut, maka merasa bukan bagian umum dari kebudayaan. Tetapi, coba tanyakan hal tersebut pada orang yang memilih menjadi atheis. Padahal seorang atheis sendiri memiliki ‘agama’ sendiri, yang tidak ada dalam kamus keberagamaan umum. Maka untuk apa memilih suatu agama?
Kebutuhan kita akan agama, berawal dari kegelisahan jiwa. Berangkat dari fitrah manusia, bahwa manusia senantiasa mencari kebenaran untuk dirinya, kebaikan dan keindahan yang dapat ia rasakan. Dari kegelisahan jiwa tersebut, muncul celah informasi tentang ketuhanan untuk masuk. Bentuk Tuhan ini ia persepsikan untuk memenuhi kegelisahan tersebut, maka tak heran ada banyak ‘Tuhan’ yang kita ciptakan. Setelah manusia menemukan ‘Tuhan’ tersebut, maka segala sikap batin yang tampak dalam ‘ibadah’nya menyembah ‘Tuhan’ itu tercermin dalam kesehariaannya. Tetapi, apakah cukup menemukan ‘Tuhan’, maka itu disebut beragama?
Fungsi agama adalah menciptakan rasa aman atau sejahtera bagi pemeluknya. Dengan agama yang sedemikian banyak, setiap pemeluk agama telah memiliki ‘kebenaran’ dan rasa aman masing-masing. Interpretasi atas kebenaran tiap agama tersebut ada yang menganggap absolut dan relatif. Ada yang menganggap hanya satu agama yang paling benar. Ada yang menganggap setiap agama itu memilki kebenaran yang relatif. Sehingga timbul persepsi bahwa seluruh agama itu adalah sama, hanya ‘bentuk’nya yang berbeda. Sesungguhnya perlu diberi batasan jelas atas hal ‘kebenaran’ tersebut. Menurut penulis, setiap pemeluk agama harus meyakini bahwa yang dia yakini adalah kebenaran absolut. Sehingga ia dengan jelas memiliki identitas agamanya. Namun tidak serta merta dengan semangat menggebu menginginkan ada satu kesamaan pendapat dan orang lain memeluk agama yang sama. Manusia dengan akal budinya, berhak memilih pilihannya sendiri. Karena, kesatuan pendapat dalam segala hal tidak mungkin tercapai. Sikap absolusitas ini adalah sikap jiwa ke dalam, tidak menuntut pernyataan dari luar bagi yang tidak menyakininya. Karena dia yakin atas kebenaran tersebut dalm pribadinya.
Hidup ini bagaikan lalu lintas manusia, butuh peraturan untuk menghindari ‘tabrakan’ sesama manusia, dengan alam, bahkan ‘kecelakaan’ individu. Lalu aturan yang bagaimana, bisa memberi hal itu?Jika aturan lalu lintas itu dibuat oleh individu tersebut sendiri, maka tidak akan timbul keteraturan. Karena manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, dan yang lebih parah adalah EGO. Dibutuhkan aturan yang maha paripurna. Darimana itu berasal? Harus dari Tuhan yang benar-benar pencipta individu tersebut. Karena Dia lah yang benar-benar mengetahui seluruh kebutuhan manusia atas dialektika dengan sekitarnya. Jadi, agama dari Tuhan itu dibutuhkan untuk mengaturnya. Tentunya bila ‘agama’ tersebut memberikan aturan hidup yang jelas bagi pemeluknya.
Masalah Tuhan ini, biarkan kalian temukan sendiri jawabannya. Kalian harus rasakan sendiri proses mencari kebenaran tersebut, kalian lihat sendiri keindahan Tuhan tersebut, dan kalian rasakan sendiri kebaikanNYA. Setelah itu, kalian harus mengikuti aturan Tuhan tersebut sepenuhnya. Karena, kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Tuhan dan agama. Tuhan tidak perlu pengabdian manusia. Karena jika ‘Tuhan’ itu Tuhan yang sebenarnya, maka tidak akan mengurangi kesempurnaanNYA kita beribadah atau tidak. Justru kemashlahatan manusia itu berasal dari Tuhan, dan kita butuh Dia.
Lalu, mengapa memilih ISLAM sebagai agama? Ada banyak jawabnya, setiap orang memiliki alasan masing-masing. Bahkan ada jawaban mengapa tidak memilih ISLAM. Nanti akan saya bahas disini.
25/06/2010
Moral dan Agama
Teman-teman, perbedaan pandangan terhadap moral yang terjadi di masyarakat bukan hanya ada pada tataran wilayah ilmu, wacana, referensi maupun budaya, tetapi pada wilyah praktis. Praktis disini merupakan perilaku di masyarakat. Kita ambil contoh mudah, misalnya mode baju. Mode baju wanita muda (ABG) zaman sekarang yang kelihatan pusar maupun 'perabotan' lainnya itu coba Anda pertanyakan. Apakah mendukung moral, melanggar moral, atau rawan amoralitas? Tentu belum pernah ada penelitian mengenai hal itu, setahu saya. Sebab menurut mereka, yang bajunya 'sedikit' bahan itu merupakan bagian dari moral dikehidupannya. Sehingga dia tidak merasa melanggar moral dan dia tidak sedang merasakan merusak dirinya ataupun merusak masyarakat. Bagi dia, itu merupakan moral yang ada dalam masyarakat.
Jadi betul-betul harus ada dialog dalam tiap-tiap lingkaran masyarakat, keluarga. Sebenarnya prinsip-prinsip moral itu apa saja? Terjemahannya, aplikasinya dalam perilaku hidup bagaimana? Kalau diterjemahkan dalam hal mode, bertetangga, berkeluarga, bermasyarakat atau perilaku hidup lainnya bagaimana? Harus ada perumusan kembali secara mendasar. Sehingga kalau tidak kita lakukan hal itu, maka kita bertengkar di awang-awang. Maka kita harus merumuskan kembali moral tadi itu apa.
Jika kita ibaratkan moralitas adalah sebuah tanaman yang harus ditanam dalam pot atau tanah. Misal pot / tanah tersebut adalah kebudayaan. Kemudian jenis kebudayaan tersebut kita namakan kebudayaan timur, maka pasti ada kebudayaan barat. Sekarang kita bertanya, yang mana dari Indonesia ini kebudayaan Timur ? Dan apakah kalau Anda ke Inggris, Amerika, Rusia Anda temui kebudayaan Barat ? Cinta pada orang tua itu kebudayaan Timur atau Barat ? Cinta pacaran itu budaya Timur atau Barat ? Kadang-kadang orang Timur sangat Barat, kadang-kadang orang Barat sangat Timur. Kadang-kadang orang Barat sangat sosial, kadang orang Timur sangat individualistis. Padahal ada 'keterangan' baku kalau yang Barat itu liberal dan penuh kebebasan, sedangkan yang Timur itu sosial dan penuh gotong royong. Ternyata dalam praktiknya bisa terbalik sama sekali. Kembali kita kepada dasar ilmu moralitas yang sederhana. Apa benar moral itu bisa kita tanam dalam pot kebudayaan ? Apakah kita harus menemukan pot/tanah yang lebih permanen? Yang bisa menjaga moral itu tanpa batas waktu, batas daerah, tanpa batas zaman. Sampai zaman apapun, moral A tetaplah A. Nah, kalau kebudayaan itu tidak bisa menjaga itu, sekarang bilang A adalah baik, bulan depan A adalah buruk. Mungkinkah kita mengandalkan kebudayaan, ataukah kita harus mencari dasar-dasar lain untuk menjaga moralitas?
Lalu mengenai permisivisme dalam hal moralitas. Misalnya free sex, pencurian, kemalingan, menyontek itu permisivisme yang hilang. Gampang kita temui contohnya dalam hal bermasyarakat, kita menjunjung Hak Asasi Kemanusiaan. Tetapi dalam kenyataannya kita melumrahkan main hakim sendiri, tawuran antar kelompok, menyontek, menyuap. Padahal tidak kita sadari kita telah melanggar batas Hak Asasi Manusia yang kita sepakati dan kita buat sendiri dalam Magna Charta. Dan tidak sedikit orang yang sadar dalam hatinya tentang hal itu, bahkan pelakunya. Kita ada baiknya mulai sedikit bersedih, bahwa kita telah mencapai tingkat kekebalan negatif dalam hal moralitas.
Kembali pada pedoman realitas yang kita cari, yang abadi dan sejati, berlaku lintas zaman lintas waktu dan tidak relatif. Menurut saya itu (mohon maaf) hanya agama. Abadi itu maksudnya, mau siang/malam, mau abad 20/abad 21, mau ini kerajaan/republik, mau siapapun yang berkuasa itu berlaku tetap. Sedangkan sejati adalah sesuatu yang 'benar-benar' kebenararan (the real truth), mau diapa-apain tetap seperti itu tidak bisa diatur oleh manusia karena itu dari Tuhan. Begitulah Tuhan mengatur, biar kamu menjalani hidup ini dengan peradaban secanggih apapun kamu tidak bisa mengubahnya. Sesuatu yang berlaku lintas zaman lintas waktu, artinya itu sesuatu yang tidak terikat batasan-batasan relativitas manusia. Nah, kalau moral tidak menanam dirinya dan nilai-nilai akarnya dalam kesejatian dan keabadian serta lintas zaman lintas waktu tadi. Maka moral menjadi tidak dapat kita nilai. Oleh karena itu, kita dalam memilih sesuatu atau berperilaku sesuai moral harus memiliki pedoman yang 'agak' mendasar.
Sekian, mudah-mudahan sedikit menjadi bahan renungan.
**terinspirasi dari Catatan Kehidupan - Emha Ainun Nadjib.
Read More
Jadi betul-betul harus ada dialog dalam tiap-tiap lingkaran masyarakat, keluarga. Sebenarnya prinsip-prinsip moral itu apa saja? Terjemahannya, aplikasinya dalam perilaku hidup bagaimana? Kalau diterjemahkan dalam hal mode, bertetangga, berkeluarga, bermasyarakat atau perilaku hidup lainnya bagaimana? Harus ada perumusan kembali secara mendasar. Sehingga kalau tidak kita lakukan hal itu, maka kita bertengkar di awang-awang. Maka kita harus merumuskan kembali moral tadi itu apa.
Jika kita ibaratkan moralitas adalah sebuah tanaman yang harus ditanam dalam pot atau tanah. Misal pot / tanah tersebut adalah kebudayaan. Kemudian jenis kebudayaan tersebut kita namakan kebudayaan timur, maka pasti ada kebudayaan barat. Sekarang kita bertanya, yang mana dari Indonesia ini kebudayaan Timur ? Dan apakah kalau Anda ke Inggris, Amerika, Rusia Anda temui kebudayaan Barat ? Cinta pada orang tua itu kebudayaan Timur atau Barat ? Cinta pacaran itu budaya Timur atau Barat ? Kadang-kadang orang Timur sangat Barat, kadang-kadang orang Barat sangat Timur. Kadang-kadang orang Barat sangat sosial, kadang orang Timur sangat individualistis. Padahal ada 'keterangan' baku kalau yang Barat itu liberal dan penuh kebebasan, sedangkan yang Timur itu sosial dan penuh gotong royong. Ternyata dalam praktiknya bisa terbalik sama sekali. Kembali kita kepada dasar ilmu moralitas yang sederhana. Apa benar moral itu bisa kita tanam dalam pot kebudayaan ? Apakah kita harus menemukan pot/tanah yang lebih permanen? Yang bisa menjaga moral itu tanpa batas waktu, batas daerah, tanpa batas zaman. Sampai zaman apapun, moral A tetaplah A. Nah, kalau kebudayaan itu tidak bisa menjaga itu, sekarang bilang A adalah baik, bulan depan A adalah buruk. Mungkinkah kita mengandalkan kebudayaan, ataukah kita harus mencari dasar-dasar lain untuk menjaga moralitas?
Lalu mengenai permisivisme dalam hal moralitas. Misalnya free sex, pencurian, kemalingan, menyontek itu permisivisme yang hilang. Gampang kita temui contohnya dalam hal bermasyarakat, kita menjunjung Hak Asasi Kemanusiaan. Tetapi dalam kenyataannya kita melumrahkan main hakim sendiri, tawuran antar kelompok, menyontek, menyuap. Padahal tidak kita sadari kita telah melanggar batas Hak Asasi Manusia yang kita sepakati dan kita buat sendiri dalam Magna Charta. Dan tidak sedikit orang yang sadar dalam hatinya tentang hal itu, bahkan pelakunya. Kita ada baiknya mulai sedikit bersedih, bahwa kita telah mencapai tingkat kekebalan negatif dalam hal moralitas.
Kembali pada pedoman realitas yang kita cari, yang abadi dan sejati, berlaku lintas zaman lintas waktu dan tidak relatif. Menurut saya itu (mohon maaf) hanya agama. Abadi itu maksudnya, mau siang/malam, mau abad 20/abad 21, mau ini kerajaan/republik, mau siapapun yang berkuasa itu berlaku tetap. Sedangkan sejati adalah sesuatu yang 'benar-benar' kebenararan (the real truth), mau diapa-apain tetap seperti itu tidak bisa diatur oleh manusia karena itu dari Tuhan. Begitulah Tuhan mengatur, biar kamu menjalani hidup ini dengan peradaban secanggih apapun kamu tidak bisa mengubahnya. Sesuatu yang berlaku lintas zaman lintas waktu, artinya itu sesuatu yang tidak terikat batasan-batasan relativitas manusia. Nah, kalau moral tidak menanam dirinya dan nilai-nilai akarnya dalam kesejatian dan keabadian serta lintas zaman lintas waktu tadi. Maka moral menjadi tidak dapat kita nilai. Oleh karena itu, kita dalam memilih sesuatu atau berperilaku sesuai moral harus memiliki pedoman yang 'agak' mendasar.
Sekian, mudah-mudahan sedikit menjadi bahan renungan.
**terinspirasi dari Catatan Kehidupan - Emha Ainun Nadjib.
10/10/2009
Candu Agama
Apakah agama hanya sebagai 'candu' bagi kita?
Umat beragama adalah 'pecandu'?
Kita umat yang beragama melakukan ibadah sebagai bukti kepatuhan kita terhadap perintah Tuhan. Ibadah adalah media kita berinteraksi dengan Tuhan kita. Seberapa seringkah kita beribadah? Semua umat beragama berusaha melakukannya sebaik mungkin. Tata cara ibadahnya pun berbeda. Umat muslim khususnya memiliki waktu ibadah sedikitnya 5 kali sehari, sholat wajib. Itu hanya salah satu bentuk ibadah dari berbagai kesempatan yang dimiliki. Tapi apakah ibadah kita itu benar? Apa maksud kita beribadah itu.
Tahukah kau tentang perilaku seorang pecandu? Ya, mungkin gampangnya kita lihat pecandu narkoba. Mereka sangat bergantung pada benda itu, seakan tanpa itu mereka tidak dapat hidup. Bila mereka sedang 'sakaw', mereka harus memperoleh benda itu. Benda itu harus ada dalam setiap hidupnya. Kita juga beribadah sebanyak mungkin dan khususnya umat muslim setiap hari. Kita sholat, berdo'a dan bersedekah setiap hari. Motif apa yang ada dibalik itu? Apakah kita hanya kecanduan ritual itu atau mengerti arti dan maksud ibadah kita. Kita melaksanakan sholat ketika kita dalam keadaan 'sempit', saat butuh sebuah 'obat'. Tetapi setelah itu kita tidak memakai 'obat' itu lagi, kita tinggalkan. Tak berbekas dalam kehidupan, hanya pengalaman 'sakit'nya saja.
Kita beribadah bagaikan 'candu', kita hanya 'kecanduan'. Tak ada yang meresap ke dalam diri. Kehidupan kita tidak tersentuh oleh nilai ibadah kita. Ibadah kita sebatas ritual, candu dalam kehidupan kita. Kita sendiri yang harus menjawabnya. Apakah agama hanya tetap menjadi ritual yang kita 'kecanduan' ? Atau ada esensi lebih. Allah telah menyempurnakan agama Islam. Islam telah menyediakan sistem yang sempurna. Semua nilai kehidupan telah diatur dalam Islam. Islam bukan hanya sebagai agama / keyakinan. Islam adalah 'ISLAM itu sendiri' kesuluruhan hidup. Marilah kita ubah ibadah kita dalam hidup agar tidak hanya sebagai candu ritual.
Read More
Umat beragama adalah 'pecandu'?
Kita umat yang beragama melakukan ibadah sebagai bukti kepatuhan kita terhadap perintah Tuhan. Ibadah adalah media kita berinteraksi dengan Tuhan kita. Seberapa seringkah kita beribadah? Semua umat beragama berusaha melakukannya sebaik mungkin. Tata cara ibadahnya pun berbeda. Umat muslim khususnya memiliki waktu ibadah sedikitnya 5 kali sehari, sholat wajib. Itu hanya salah satu bentuk ibadah dari berbagai kesempatan yang dimiliki. Tapi apakah ibadah kita itu benar? Apa maksud kita beribadah itu.
Tahukah kau tentang perilaku seorang pecandu? Ya, mungkin gampangnya kita lihat pecandu narkoba. Mereka sangat bergantung pada benda itu, seakan tanpa itu mereka tidak dapat hidup. Bila mereka sedang 'sakaw', mereka harus memperoleh benda itu. Benda itu harus ada dalam setiap hidupnya. Kita juga beribadah sebanyak mungkin dan khususnya umat muslim setiap hari. Kita sholat, berdo'a dan bersedekah setiap hari. Motif apa yang ada dibalik itu? Apakah kita hanya kecanduan ritual itu atau mengerti arti dan maksud ibadah kita. Kita melaksanakan sholat ketika kita dalam keadaan 'sempit', saat butuh sebuah 'obat'. Tetapi setelah itu kita tidak memakai 'obat' itu lagi, kita tinggalkan. Tak berbekas dalam kehidupan, hanya pengalaman 'sakit'nya saja.
Kita beribadah bagaikan 'candu', kita hanya 'kecanduan'. Tak ada yang meresap ke dalam diri. Kehidupan kita tidak tersentuh oleh nilai ibadah kita. Ibadah kita sebatas ritual, candu dalam kehidupan kita. Kita sendiri yang harus menjawabnya. Apakah agama hanya tetap menjadi ritual yang kita 'kecanduan' ? Atau ada esensi lebih. Allah telah menyempurnakan agama Islam. Islam telah menyediakan sistem yang sempurna. Semua nilai kehidupan telah diatur dalam Islam. Islam bukan hanya sebagai agama / keyakinan. Islam adalah 'ISLAM itu sendiri' kesuluruhan hidup. Marilah kita ubah ibadah kita dalam hidup agar tidak hanya sebagai candu ritual.
Subscribe to:
Posts (Atom)
