Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts
21/01/2014
Aktualisasi Diri Dalam Prasasti
Sesaat Anda membaca kalimat ini, 700 post FB telah ditulis, 600 Tweet dan post Tumblr tertulis, serta 34.000 pencarian Google dilakukan. Manusia bumi menulis suatu hal dan menyimpannya dalam dunia maya dipertontonkan pada berjuta pasang mata potensial, bersama jutaan tulisan lainnya saling berebut hak baca para penguntit maya. Menulis adalah perilaku manusia untuk mengabadikan ide dan hal-hal mengenai dirinya. Baik itu luapan emosi, pemikiran dan aspirasi. Sejak kecil kita diajari untuk menulis, selain membaca dan berhitung. Namun saya sendiri kehilangan sentuhan menulis tangan, karena jemari saya lebih akrab pada tuts keyboard dibanding memeluk erat pena. Apakah menulis hanya sekedar mengkodifikasi pemikiran dalam jerat aksara ? Atau menulis adalah sebuah kebutuhan manusia ?
Dalam teori hierarki Maslow, manusia memiliki tingkatan dalam kebutuhan pribadinya. Tingkat kebutuhan ini dapat kita amati pada bentuk tulisan yang berkeliaran sepanjang mata memandang layar di dunia maya.
Dua tingkatan terbawah,tidak kita telusuri. Mulai dari tingkatan ketiga, jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan akan pertemanan. Tapi tidak berhenti disitu, orang butuh dihargai dan diakui. Maka pada tingkatan keempat harga diri, orang mulai menulis di jejaring sosial, blog, tumblr, komentar dll, untuk mendapat pengakuan dan rasa percaya diri. Kadangkala juga dalam bentuk curhat, karena di titik itu orang ingin mendapat perhatian atau membuang perasaan. Pada tingkatan kelima, aktualisasi diri, tulisan berwujud pada bentuk 'karya kreativitas'. Tidak hanya sekedar curhat dan mendapat pengakuan, tapi mengaktualisasikan diri dalam karya. Ya, itu pemetaan kebutuhan manusia menulis di masa-masa ini. Meskipun tingkat 4 dan 5, sering bolak-balik saja.
Sungguh sangat mudah sekali menulis pada zaman ini. Teringat dulu saya masih baca koran, internet belum masuk dalam kotak 'warung'. Seorang menulis di koran, menulis buku, menerbitkan kumpulan tulisan adalah sebuah kemewahan dalam aktualisasi diri. Saat mesin cetak ditemukan, koran dan buku adalah 'gadget' yang mencuri perhatian pada masanya. Manusia hanyut dalam tulisan dan keinginan menulis untuk dibaca. Tarik lagi ke belakang, saat manusia menemukan kertas, itu sangat mempermudah media tulis, tidak lagi di pelepah daun atau kulit hewan. Orang yang dapat menulis pun, dikategorikan memiliki barang mewah, karena sumber daya yang sulit didapat sebagai media tulis.
Bahkan pada era Mpu Panuluh, Mpu Prapanca dkk, menulis pada serat daun jati adalah ensiklopedia dan novel terlaris pada masanya. Terus ke belakang, Mulawarman bersaudara bahkan menulis kenangan hidupnya pada sebuah batu, yang kita sebut prasasti. Sungguh, untuk ngeksis saja zaman dahulu sulit sekali. Harus mencari batu dan digrafir di atasnya. Sedangkan pada peradaban Firaun unta mesir, aksara masih berbentuk gambar. Mereka ingin diakui dengan membuat Piramida dan diisi tulisan didalamnya. Padahal isinya mungkin cuma resep membuat balsam dan cerita romansa cleopatra cs. Leluhurnya, Homo Erectus mungkin mengawali bioskop rumahan pada gambar di goa-goa. Mereka sebenarnya menulis diary hidupnya yang gagal menangkap babi hutan purba. Menulis adalah upaya komunikasi mereka (yang terdahulu) kepada kita (yang kekinian), bahwa "Gue ada lho". Selain menyampaikan ilmu dan kabar mereka untuk kita ketahui.
Bayangkan evolusi sebuah surat cinta saja. Masa ini sebuah kata-kata romantis dapat dikirimkan melalui SMS, blog dan update status untuk dapat dibaca saat itu juga oleh pujaan hati. Tetapi dahulu, harus 'disimpan' dalam tulisan yang membawa rasa melewati waktu tempuh yang tak sebentar. Bayangkan pada masa Anaxagoras mengirim surat cinta, harus dalam sebuah codex di batu. Sebait saja, sudah 1 kg, JNE pun kemahalan buat mengantarnya. Pun waktu tempuh tak sebentar. Apalagi pada masa sebelum itu, mungkin mereka hanya menitipkan rasa pada angin malam saja. Jadi yang katanya galau, LDR, coba bayangkan penderitaan mereka yang terdahulu, Anda tidak ada apa-apanya. Sebuah tulisan sederhana yang kita temui wajar adanya saat ini, adalah rangkaian evolusi kemudahan aktualisasi diri manusia. Saat ini Anda dapat dengan mudah mengaktualisasikan diri, tak perlu mahir menulis di atas batu.
Tulisan ini pun adalah wujud kebutuhan saya pada tingkat kelima. Bukan karena aktualisasi diri, tapi karena saya kurang kerjaan saja dan terlalu banyak pikiran. Salam kelingking !
Read More
Dalam teori hierarki Maslow, manusia memiliki tingkatan dalam kebutuhan pribadinya. Tingkat kebutuhan ini dapat kita amati pada bentuk tulisan yang berkeliaran sepanjang mata memandang layar di dunia maya.
Dua tingkatan terbawah,tidak kita telusuri. Mulai dari tingkatan ketiga, jejaring sosial dapat memenuhi kebutuhan akan pertemanan. Tapi tidak berhenti disitu, orang butuh dihargai dan diakui. Maka pada tingkatan keempat harga diri, orang mulai menulis di jejaring sosial, blog, tumblr, komentar dll, untuk mendapat pengakuan dan rasa percaya diri. Kadangkala juga dalam bentuk curhat, karena di titik itu orang ingin mendapat perhatian atau membuang perasaan. Pada tingkatan kelima, aktualisasi diri, tulisan berwujud pada bentuk 'karya kreativitas'. Tidak hanya sekedar curhat dan mendapat pengakuan, tapi mengaktualisasikan diri dalam karya. Ya, itu pemetaan kebutuhan manusia menulis di masa-masa ini. Meskipun tingkat 4 dan 5, sering bolak-balik saja.
Sungguh sangat mudah sekali menulis pada zaman ini. Teringat dulu saya masih baca koran, internet belum masuk dalam kotak 'warung'. Seorang menulis di koran, menulis buku, menerbitkan kumpulan tulisan adalah sebuah kemewahan dalam aktualisasi diri. Saat mesin cetak ditemukan, koran dan buku adalah 'gadget' yang mencuri perhatian pada masanya. Manusia hanyut dalam tulisan dan keinginan menulis untuk dibaca. Tarik lagi ke belakang, saat manusia menemukan kertas, itu sangat mempermudah media tulis, tidak lagi di pelepah daun atau kulit hewan. Orang yang dapat menulis pun, dikategorikan memiliki barang mewah, karena sumber daya yang sulit didapat sebagai media tulis.
Bahkan pada era Mpu Panuluh, Mpu Prapanca dkk, menulis pada serat daun jati adalah ensiklopedia dan novel terlaris pada masanya. Terus ke belakang, Mulawarman bersaudara bahkan menulis kenangan hidupnya pada sebuah batu, yang kita sebut prasasti. Sungguh, untuk ngeksis saja zaman dahulu sulit sekali. Harus mencari batu dan digrafir di atasnya. Sedangkan pada peradaban Firaun unta mesir, aksara masih berbentuk gambar. Mereka ingin diakui dengan membuat Piramida dan diisi tulisan didalamnya. Padahal isinya mungkin cuma resep membuat balsam dan cerita romansa cleopatra cs. Leluhurnya, Homo Erectus mungkin mengawali bioskop rumahan pada gambar di goa-goa. Mereka sebenarnya menulis diary hidupnya yang gagal menangkap babi hutan purba. Menulis adalah upaya komunikasi mereka (yang terdahulu) kepada kita (yang kekinian), bahwa "Gue ada lho". Selain menyampaikan ilmu dan kabar mereka untuk kita ketahui.
Bayangkan evolusi sebuah surat cinta saja. Masa ini sebuah kata-kata romantis dapat dikirimkan melalui SMS, blog dan update status untuk dapat dibaca saat itu juga oleh pujaan hati. Tetapi dahulu, harus 'disimpan' dalam tulisan yang membawa rasa melewati waktu tempuh yang tak sebentar. Bayangkan pada masa Anaxagoras mengirim surat cinta, harus dalam sebuah codex di batu. Sebait saja, sudah 1 kg, JNE pun kemahalan buat mengantarnya. Pun waktu tempuh tak sebentar. Apalagi pada masa sebelum itu, mungkin mereka hanya menitipkan rasa pada angin malam saja. Jadi yang katanya galau, LDR, coba bayangkan penderitaan mereka yang terdahulu, Anda tidak ada apa-apanya. Sebuah tulisan sederhana yang kita temui wajar adanya saat ini, adalah rangkaian evolusi kemudahan aktualisasi diri manusia. Saat ini Anda dapat dengan mudah mengaktualisasikan diri, tak perlu mahir menulis di atas batu.
Tulisan ini pun adalah wujud kebutuhan saya pada tingkat kelima. Bukan karena aktualisasi diri, tapi karena saya kurang kerjaan saja dan terlalu banyak pikiran. Salam kelingking !
20/01/2014
Sarimin di Atas Motor
Kehidupan di jalanan itu seperti hukum rimba, kasar dan tanpa aturan, ya memang begitu adanya. Meskipun sudah ada aturan dari polisi, tapi tetap saja lebih banyak yang tidak pakai aturan.
"Aturan ada untuk dilanggar" - Anonim.Saya sudah bosan dengan kondisi di jalanan dengan pengendara yang tampak tak tahu aturan dan etika jalan raya. Saya terbiasa berkendara di kota kecil, lalu kaget saat berkendara di kota besar. Lama berkendara di kota besar, sekarang saya canggung berkendara di kota kecil. Di kota besar saya hanya menggunakan gigi 3 dari 5, di kota kecil saya bisa bergigi 5. Kasihan motor saya tak merasakan raungan sempurna.
Berkendara di kota besar, semua terburu-buru waktu ditambah jumlah populasi kendaraan yang tidak menerapkan KB (Kendaraan Berencana). Khawatir macet di jalan, saling berebutan hingga tak memikirkan keselamatan. Contohnya banyak, kenapa kendaraan pribadi masuk busway ? Motor berhenti di zebra cross, motor berhenti di depan lampu merah, motor berhenti di lajur kiri langsung, motor keluar jalur naik trotoar, menerobos lampu merah, melawan arus, dan masih banyak lainnya. Ya, itu semua karena lingkungannya ? Tuntutan kehidupan jalanan ? Menurut saya tidak juga. Pernah lihat monyet di film "Jumanji" yang mengendarai motor ? Mereka juga tanpa aturan, karena mereka MONYET bukan MANUSIA yang mengerti aturan. Meskipun ada tuntutan tekanan, harusnya masih bisa beretika di jalan raya. Jadi, berhentilah berperilaku monyet dan mulai mengerti etika di jalan raya. ETIKA yang sangat sederhana, jangan berebutan dan bertindaklah sopan. Semua masalah berkendara ini karena satu hal, rebutan. Karena lampu merah, orang berebutan ingin di depan dan start duluan. Bentar lagi kayak balapan MotoGP. Karena terburu-buru, sendok kanan-kiri selap-selip tanpa lihat pengendara lain. Ada di persimpangan, saling buru-buru belok duluan, tidak memperhatikan pengendara lain, alhasil keributan dan kemacetan.
"Pengendara banyak yang tidak memakai helm, tetapi lebih banyak yang tidak memakai otak" - @ans4175Berkendara di kota kecil, semua masih lengang. Jalanan relatif bebas macet, lampu merah juga 'santai'. Tetapi ternyata hal itu bayang semu semata, tetap saja masih semrawut dalam skala individu. Kendaraan nyebrang sembarang, parkir sembarang, berhenti sembarang, kebut-kebutan sembarang. Saya sering lihat di kampung, pengguna motor ngebut tak karuan, tapi di jalan besar (bypass) malah malu dan jalan pelan, kan mengganggu kestabilan emosi umat manusia itu. Hal yang saya amati, sebenarnya tidak ada tuntutan tekanan jalanan di kota kecil. Namun karena cara berkendara dan berbudaya di jalan raya. Kembali lagi masalah etika, berhentilah menjadi MONYET atau dipanggil MONYET. Sudah mafhum (kosakata siti nurbaya) kalau pembuatan SIM itu jarang/tidak ada yang sesuai, tidak ada tes memadai. Walhasil, tidak sadar diri di jalan raya. Maka, cobalah berempati pada orang lain, jangan rebutan di jalan raya.
Salah satu cara yang menurut saya bisa digunakan untuk mengerti etika jalanan itu adalah, melakukan perjalanan antar kota jarak jauh, tidak di jalan tol. Kenapa ? Anda akan menemui tekanan berkendara yang tegas dan dalam posisi hidup-mati secara nyata. Saat dalam kondisi hidup-mati, kita akan lebih hati-hati dan peduli. Bila dalam kota, kondisinya ya biasa saja. Ayah saya melatih saya berkendara motor-mobil sewaktu pemula dengan perjalanan antar kota, katanya kalau lancar dan tidak canggung antar kota, berkendara di dalam kota lebih mudah. Tentunya dengan sudah ada bekal ketrampilan dasar berkendara dan dipandu ahli, sebelum perjalanan antar kota. Saat antar kota, Anda belajar mengambil stan/posisi saat menikung, menyalip dan berkendara normal. Antar kota bukan untuk berkendara asal cepat, tapi pandai mengatur gas dan menjaga jarak. Rem itu alat bantu untuk berhenti dan mengurangi kecepatan, tetapi untuk mengatur kecepatan yaitu dengan bermain gas(throtle). Kalau Anda masih terlalu sering bermain rem, ya Anda belum bisa mengatur kecepatan kendaraan dengan baik. Dengan perjalanan luar kota, Anda belajar etika dari para pemain lama (supir truk, bus, travel dll), mereka punya kode etik sendiri, karena bodi kendaraan yang lebih besar. Hukum rimba yang besar yang berkuasa, ya itu ada di jalan raya antar kota. Saya sering mengalami, teman yang berkendara dalam kota relatif baik, tapi di luar kota dia 'berbahaya' bagi dirinya sendiri atau orang lain. Apalagi kalau semrawut dalam kota ?
Lalu rasakanlah berkendara di berbagai kendaraan, motor, mobil, angkot, becak, bus dan lain-lain. Tempatkan diri Anda di posisi itu, dan pandang pengendara lainnya. Bila Anda pengendara motor, coba rasakan menjadi pengendara mobil dan lain-lain. Bagi pengendara mobil, motor yang menyalip dari sebelah kiri itu berbahaya. Karena 'feel' supir itu disebelah kanan, meskipun ada spion kiri, tetapi tetap saja responnya kurang cepat dan kaget kalau ada gerakan mendadak di sebelah kiri. Jadi menyaliplah dari kanan, jangan lupa sein dan klakson/lampu dim untuk aba-aba. Saat dalam angkot, rasakan angkot itu pasti mendadak berhenti ke kiri atau sembarangan dan motor menyerbu dari berbagai sisi. Jadi kalau Anda pengendara motor 'mengalah'lah dan ambil jarak aman, angkot tidak bisa diprediksi arahnya. Ohya, pintar-pintarlah membaca arah gerak kendaraan. Dia ambil stan apa, jaga jaraknya. Kalau dia yang membingungkan, ingatkan (klakson). Jadi coba tempatkan 'perasaan' Anda dalam berkendara pada pengendara lain, baca arah geraknya dan tempatkan diri kita yang sopan di jalan raya. Selama tidak ada yang mengalah, tetap terjadi rebutan di jalan raya. Jangan ingin menang sendiri.
Berkendara itu bisa karena biasa. Kalau kebiasaan berkendara buruk, tentu akan bisa berkendara dengan buruk. Salam damai, 50.000.
18/01/2014
Jodohnya Pedofil
Hari ini malam minggu, bukan sabtu malam. Katanya malam-malam seperti ini banyak pemuda-pemudi melakukan perjalanan malam, berburu rindu. Bagi umur-umur yang masuk kualifikasi dalam tim U-23 ini merupakan fenomena 'gejolak darah muda'. Biasanya mereka mengekspresikan malam minggu, jalan-jalan 'bersama'. Ya, melakukan yang dalam hal konvensi umat manusia bersama disebut 'pacaran'. Pada malam minggu ini, lampu merah adalah kawan. Saat waktu-waktu biasa kita ingin secepatnya lolos dari lampu merah, malam minggu membuat kita ingin berlama-lama dalam lampu merah (bagi yang punya pacar). Maka wajar saja jalanan macet, mereka berpasangan bersama bercengkerama dibawah naungan lampu merah, untuk sekedar menghabiskan waktu lebih lama, tidak ingin lekas berakhir kebersamaan ini (edyan, aing nulis apa ini).
Sudahlah, ada hal ini yang menarik bagi saya. Pacaran itu dari umur anak SD-SMA juga sudah mewabah. Temen sekelas, temen sekolah lain, temen kenal dimana juga bisa jadi pacar. Saya gak akan bahas mengenai pacaran itu baik atau buruk, boleh atau gak dalam agama. Saya gak punya kualifikasi buat hal itu. Cuma mau bilang aja, pacaran itu tujuannya untuk putus. Putus entah berpisah atau berubah derajat status hubungan katanya. Jadi mending gak usah pacaran, biar menyingkat proses saja. Tetapi bisa saja pacaran itu 'seumur hidup'.
Saya mau bahas mengenai fenomena pacarannya hingga peningkatan statusnya ya. Coba deh ya kita simak bersama. Pacaran ini biasanya umumnya seumuran, nah terus paling ya beda-beda plus minus 3 tahun lah, karena ukurannya satu sekolahan / kampus. Tetapi mudah kita temui pasangan suami-istri berbeda usia 7-9 tahun, bahkan lebih. Mungkin bisa kita lihat contoh orang-orang tua dari kita. Mereka tidak ada masalah dengan perbedaan usia tersebut. Namun bila kita tarik konteksnya ke dalam kerangka waktu anak SMA yang pacaran. Hal ini sangat aneh..haha. Bayangkan kamu lelaki kelas 3 SMA, punya pacar berbeda 7 tahun, berarti pacarmu itu masih kelas 4 SD. Bayangkan kamu mahasiswa tahun ke-4, pacarmu berarti masih SMA kelas 1. WOW !
Jadi bagi yang sekarang sedang pacaran, bayangkan kalau jodohmu itu berbeda usia cukup jauh nanti...hehe.
Orang Ketiga
Orang ketiga ? Sering kita dengar dalam perjalanan, mitos jangan berjalan dalam jumlah yang ganjil. Dalam pendakian bahkan sangat kental, segan untuk melakukan pendakian dalam jumlah ganjil. Ya, itu hanya mitos. Tetapi tidak juga, alasan kenapa jangan ganjil itu bisa masuk akal secara emosional.
Bila kita melakukan suatu hal, misal pendakian. Dengan jumlah yang ganjil, maka akan ada satu orang tanpa 'pasangan'. Biasanya orang tersebut akan kehilangan 'rekan' berbincang dan akhirnya melamun, lalu ya itu hal-hal yang tidak diinginkan dalam pendakian bila kamu kurang konsentrasi dan kesadaran bisa menjadi nyata. Jadi, setidaknya buatlah percakapan untuk satu rombongan, bukan per kelompok / pasang.
Ternyata hal ini juga berlaku dalam tiap hal yang berkelompok, jika jumlahnya ganjil. Sama, kemungkinan ada satu orang yang akan merasa 'tersisihkan'. Hal ini jarang kita sadari, saya sendiri menyadari ini dari pengalaman akhir-akhir ini. Bila 2 orang dalam kelompok ini terlalu akrab, orang ketiga ini akan merasa terpinggirkan. Kita harus peduli, dengan jumlah yang ganjil ini. Saya dalam kesempatan memimpin suatu hal, selalu mencoba mendelegasikan tugas tidak sendiri, tetapi berpasangan. Tetapi masing-masing memiliki fokus yang berbeda, namun sama lingkupnya. Saya juga tidak akan menunjukkan keakraban pada orang khusus, tetapi ya semua diperlakukan setara akrab. Tujuannya, ya agar tidak merasa disisihkan.
Cobalah kalian amati dalam hal organisasi atau lain-lain, dekati orang yang 'tersisihkan'. Mungkin perlakuan kita ini tak adil dalam hal-hal yang ganjil.
Salam satu jari !
Read More
Bila kita melakukan suatu hal, misal pendakian. Dengan jumlah yang ganjil, maka akan ada satu orang tanpa 'pasangan'. Biasanya orang tersebut akan kehilangan 'rekan' berbincang dan akhirnya melamun, lalu ya itu hal-hal yang tidak diinginkan dalam pendakian bila kamu kurang konsentrasi dan kesadaran bisa menjadi nyata. Jadi, setidaknya buatlah percakapan untuk satu rombongan, bukan per kelompok / pasang.
Dari ibnu Mas’ud Radiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Jika kamu sedang bertiga maka janganlah dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang satunya, hingga berbaur dengan banyak orang karena yang demikian itu membuatnya resah”. (Muttafaqun ‘alaih dan lafadznya milik Muslim ) - Sumber
Ternyata hal ini juga berlaku dalam tiap hal yang berkelompok, jika jumlahnya ganjil. Sama, kemungkinan ada satu orang yang akan merasa 'tersisihkan'. Hal ini jarang kita sadari, saya sendiri menyadari ini dari pengalaman akhir-akhir ini. Bila 2 orang dalam kelompok ini terlalu akrab, orang ketiga ini akan merasa terpinggirkan. Kita harus peduli, dengan jumlah yang ganjil ini. Saya dalam kesempatan memimpin suatu hal, selalu mencoba mendelegasikan tugas tidak sendiri, tetapi berpasangan. Tetapi masing-masing memiliki fokus yang berbeda, namun sama lingkupnya. Saya juga tidak akan menunjukkan keakraban pada orang khusus, tetapi ya semua diperlakukan setara akrab. Tujuannya, ya agar tidak merasa disisihkan.
Cobalah kalian amati dalam hal organisasi atau lain-lain, dekati orang yang 'tersisihkan'. Mungkin perlakuan kita ini tak adil dalam hal-hal yang ganjil.
Salam satu jari !
01/05/2013
Ukuran Kemaluan
Sumpah, ini bukan tulisan porno, ini tulisan yang senonoh. Saya tidak sedang ingin membicarakan mengenai besarnya atau lebatnya area di antara perut dan lutut. Tapi saya sedang gelisah, berita media massa saat ini ramai oleh hal-hal yang itu-itu saja, tokoh yang itu-itu saja. Eyang Subur, twitter SBY, pendaftaran caleg, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan yang paling dahsyat KORUPSI, kalau Anda membaca ini sedang hidup di era 2013an. Seakan berita ini sering menghias layar komputer, maklum layar kaca memang isinya ini semua. Nyalain TV, beritanya kalau gak pemerkosa, pencuri, orang bunuh diri, penipuan, pembunuhan, korupsi. Capek lihat dan mendengar berita itu-itu lagi, mending setel Stand Up Comedy, siaran bola saja.
Ambil contoh korupsi saja deh. Orang kok ya tega-teganya korupsi ya, enak ya ? Enggak tahu, semoga gak nyoba. Kalau enak kan keterusan katanya. Itu duit negara dan duit rakyat, kok semena-mena diambil seakan milik sendiri. Itu milik orang banyak, kok digunakan buat beli barang pribadi. Itu pasti orang yang gak punya muka. Setelah tersangka juga, masih bisa berlagak. Setelah terdakwa juga, masih bisa melempar senyum. Setelah dipidana juga, masih saja merasa jumawa. Tapi tak apa, toh dengan adanya persidangan akhirnya banyak kita melihat taubat dadakan. Ya, nampaknya meja persidangan itu lebih menyadarkan daripada pesantren kita. Yang laki, pakai peci, yang wanita pakai kerudung, di meja persidangan. Sambil memutar tasbih kalau perlu juga, untung tidak sambil bawa sajadah. Itu kalau mau sujud ke hakim, tapi kalau 'menjilat' Tuhan ya tak apa lah.
Lalu pada ribut daftar cagub, cabup, cawalkot, caleg, anggota DPRD, DPR, DPD, DLL yang gak saya peduli. Mereka diantaranya ada yang sudah kena kasus, ada yang sudah tersangka. Kok masih berani-beraninya nyalonkan diri. Kita lagi, kok masih mau-maunya saja memilih mereka. Sebagian diantara mereka memang ada yang tokoh masyarakat, ada yang ditokoh-tokohkan, ada juga yang menokohkan dirinya sendiri. Kita melihat setiap hari wajah 'tokoh' penuh di jalanan, di gedung gedung. Tapi tidak hadir dalam kehidupan dan kenegaraan kita. 'Tokoh' tersebut hanya menggantung statis saja, bahkan cuma ada di baju yang dipakai kain lap. Mereka sibuk buat promosi, sedangkan disini bingung cari nasi. Mereka sibuk mencari posisi, sedangkan disini silakan bunuh diri. Saat mendapat posisi, malah mensyukuri. Padahal harusnya sedih, dia bertanggung jawab pada rakyat banyak. Mereka yang jadi 'wakil rakyat' malah bangga, padahal rakyat itu diatas mereka kan harusnya ? Ketua itu lebih tinggi dari wakil ketua kan ? Ya setidaknya mereka sudah me'wakil'kan kehidupan rakyat yang harusnya sejahtera, makan enak, tidur nyenyak, buang air besar nyaman di jamban.
Masih ada banyak sudut fenomena hidup yang bisa kita selidiki lagi, itupun kalau Anda mau. Tapi yang saya lihat, semua ini adalah fenomena imunitas akan rasa malu yang sungguh besar. Orang tidak malu lagi, mengumbar janji, berjual beli kebohongan. Tapi kok malah malu untuk meminta maaf dan mengakui kebodohan kesalahan? Menurut saya ini merupakan gejala pembesaran 'ukuran kemaluan' seseorang. Orang menjadi tidak mudah malu, karena kadar menampung malu sudah semakin besar seiring 'ukuran kemaluan'nya. Bisa jadi malah 'kemaluan' itu hilang, sehingga malu tak perlu ditampung dan disadari, cukup dibuang saja. Padahal kalau normal, dengan kadar malu yang kecil saja sudah cukup berat untuk ditanggungnya. Semoga kita dihindarkan dari sifat seperti itu. Mereka yang dengan 'ukuran kemaluan'nya harusnya sadar dan malu, bukan malah bangga. Bisa saja mungkin ada gejala gangguan saluran 'kemaluan', hingga mereka tidak dengan tegas mengakui rasa malu, karena sudah banyak mengandung kemih 'malu'.
Bandung, saat hari buruh sedunia di era kepemimpinan SBY -1 tahun lagi. Malam yang harus banyak mengerjakan tapi malah banyak bacaan.
Read More
Ambil contoh korupsi saja deh. Orang kok ya tega-teganya korupsi ya, enak ya ? Enggak tahu, semoga gak nyoba. Kalau enak kan keterusan katanya. Itu duit negara dan duit rakyat, kok semena-mena diambil seakan milik sendiri. Itu milik orang banyak, kok digunakan buat beli barang pribadi. Itu pasti orang yang gak punya muka. Setelah tersangka juga, masih bisa berlagak. Setelah terdakwa juga, masih bisa melempar senyum. Setelah dipidana juga, masih saja merasa jumawa. Tapi tak apa, toh dengan adanya persidangan akhirnya banyak kita melihat taubat dadakan. Ya, nampaknya meja persidangan itu lebih menyadarkan daripada pesantren kita. Yang laki, pakai peci, yang wanita pakai kerudung, di meja persidangan. Sambil memutar tasbih kalau perlu juga, untung tidak sambil bawa sajadah. Itu kalau mau sujud ke hakim, tapi kalau 'menjilat' Tuhan ya tak apa lah.
Lalu pada ribut daftar cagub, cabup, cawalkot, caleg, anggota DPRD, DPR, DPD, DLL yang gak saya peduli. Mereka diantaranya ada yang sudah kena kasus, ada yang sudah tersangka. Kok masih berani-beraninya nyalonkan diri. Kita lagi, kok masih mau-maunya saja memilih mereka. Sebagian diantara mereka memang ada yang tokoh masyarakat, ada yang ditokoh-tokohkan, ada juga yang menokohkan dirinya sendiri. Kita melihat setiap hari wajah 'tokoh' penuh di jalanan, di gedung gedung. Tapi tidak hadir dalam kehidupan dan kenegaraan kita. 'Tokoh' tersebut hanya menggantung statis saja, bahkan cuma ada di baju yang dipakai kain lap. Mereka sibuk buat promosi, sedangkan disini bingung cari nasi. Mereka sibuk mencari posisi, sedangkan disini silakan bunuh diri. Saat mendapat posisi, malah mensyukuri. Padahal harusnya sedih, dia bertanggung jawab pada rakyat banyak. Mereka yang jadi 'wakil rakyat' malah bangga, padahal rakyat itu diatas mereka kan harusnya ? Ketua itu lebih tinggi dari wakil ketua kan ? Ya setidaknya mereka sudah me'wakil'kan kehidupan rakyat yang harusnya sejahtera, makan enak, tidur nyenyak, buang air besar nyaman di jamban.
Masih ada banyak sudut fenomena hidup yang bisa kita selidiki lagi, itupun kalau Anda mau. Tapi yang saya lihat, semua ini adalah fenomena imunitas akan rasa malu yang sungguh besar. Orang tidak malu lagi, mengumbar janji, berjual beli kebohongan. Tapi kok malah malu untuk meminta maaf dan mengakui kebodohan kesalahan? Menurut saya ini merupakan gejala pembesaran 'ukuran kemaluan' seseorang. Orang menjadi tidak mudah malu, karena kadar menampung malu sudah semakin besar seiring 'ukuran kemaluan'nya. Bisa jadi malah 'kemaluan' itu hilang, sehingga malu tak perlu ditampung dan disadari, cukup dibuang saja. Padahal kalau normal, dengan kadar malu yang kecil saja sudah cukup berat untuk ditanggungnya. Semoga kita dihindarkan dari sifat seperti itu. Mereka yang dengan 'ukuran kemaluan'nya harusnya sadar dan malu, bukan malah bangga. Bisa saja mungkin ada gejala gangguan saluran 'kemaluan', hingga mereka tidak dengan tegas mengakui rasa malu, karena sudah banyak mengandung kemih 'malu'.
Bandung, saat hari buruh sedunia di era kepemimpinan SBY -1 tahun lagi. Malam yang harus banyak mengerjakan tapi malah banyak bacaan.
25/04/2013
Fragmentasi Sosial dan Cinta Terkuantifikasi
Waduh, judulnya ini berat. Ya berat, penat menelan filsafat pada jam hampir 11 malam lewat. Saya menulis ini dengan rasa takut akan dimarahi nanti oleh Eyang Descartes atau Om Newton. Ya, mereka tokoh ilmuwan yang mengubah dunia dan pola pandangnya, yang memajukan teknologi. Sains berkembang dan membawa kemajuan teknologi namun tidak menyentuh aspek moral, membuat teknologi hanya menjadi bahaya. Pakde Thomas Kuhn dulu sempat mengatakan bahwa ada hal paling mendasar dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah tidak serta merta berpikir sistematis, teoritis dan berdasarkan eksperimen positivis. Berpikir ilmiah itu dilandasi oleh sebuah paradigma, paradigma yang mengarahkan hasil dari proses berpikir tersebut.
Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.
Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.
Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.
Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !
Read More
Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.
Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.
Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.
Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !
"And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for" - Whitman
04/09/2009
Islam, Liberal dan Sosial
Ini hanya pemikiranku. Saya pun terbuka tentang pemikiran kalian tentang ini. Anda bebas mengomentari tulisan ini. Mudah-mudahan dapat memperkaya pengetahuan kita.
Anda tahu, ada beberapa ideologi di dunia. Ada banyak, namun setidaknya ada 3 ideologi yang berkembang besar di dunia, terutama dipakai negara-negara besar. Sosialisme-Komunisme, Liberal-Kapitalisme dan Islam. Seperti kitas ketahui bersama bahwa sosialisme dan komunisme identik sebagaimana liberal dan kapitalisme. Dari sejarah, kita perhatikan negara-negara besar yang muncul dan 'menguasai' dunia saat itu bersaing dengan ideologi mereka masing-masing. Uni sovyet cs dengan sosialis-komunis serta AS dkk dengan liberal-kapitalis. Ideologi tersebut berkembang di dunia dan berjaya. Tapi kawan tidakkah sadar bahwa Islam juga 'sempat' meraih kejayaan, bahkan kita masih bisa mengetahuinya dari sejarah yang kita baca. Kita yang hidup pada era ini, hanya dapat mengagumi serta meneladani. Kita masih berusaha mengembalikan kejayaan Islam itu, namun hasilnya belum 'tampak'. Kita masih dikurung dengan 'kebodohan' belum mampu memancarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan aplikasi nyata.
Islam itu bukan hanya agama, saya menyebut demikian. Islam bukan hanya agama, melainkan tatanan. Islam itu "dien", coba anda cari arti kata tersebut dalam bahasa arab. Dari yang saya pahami, itu adalah tatanan. Agama merupakan keyakinan, tapi Islam lebih luas dari itu. Apakah hanya sebagai keyakinan, dan diri kita tidak berada dalam koridor tatanan. Kita hidup dalam suatu tatanan, entah apa itu tatanan yang anda tafsirkan dan ikuti. Selayaknya Muslim, kita tentunya mengikuti tatanan Islam. Hal ini yang berusaha saya sampaikan. Islam itu ideologi yang sempurna, diturunkan pada Rasulullah untuk memperbaiki ummat. Diwahyukan langsung dari Allah, bukan karangan atau pemikiran manusia. Kita yang berusaha memahami dan menginterpretasikan maksudnya di dunia real dalam koridor Islam.
Sosialisme-Komunisme serta Liberal-Kapitalis memiliki kekurangan karena keterbatasan pikiran manusia. Dapat kita lihat dari resesi global zaman ini maupun pelajaran dari sejarah. Uni Sovyet dengan ideologinya akhirnya runtuh, rapuh dari dalam. Rapuh karena perangkat-perangkat negaranya rusak dalam korup. Negara-negara liberal pun tak se'kokoh' yang kita lihat, setelah resesi global kita lihat 'retak'nya mereka. Banyak perusahaan-perusahaan yang runtuh, karena sistemnya kalut diterpa badai krisis finansial. Tapi luput dari pandangan kita, finansial syariah tetap bertahan. Anda atau saya, tidak menyadari bahwa resesi global itu tidak menghancurkan ekonomi syariah. Pernahkah kita dengar hal itu terjadi? Itu salah satu bukti 'kesempurnaan' ideologi Islam.
Islam memiliki tatanan sendiri, tapi secara implisit terdapat himpunan ideologi-ideologi yang ada diatas. Pernahkah terpikir bahwa Islam itu sosialis, liberalis dan kapitalis secara kondisional. Sebagai contoh adalah zakat, zakat itu seperti sosialis. Kenapa zakat? Kita ummat diwajibkan 'menyisihkan' sebagian dari harta kita untuk sesama yang kekurangan. Zakat juga dipusatkan dalam suatu lembaga atau amil zakat. Ummat diwajibkan 'menyetor' persentase harta mereka dan dikumpulkan terpusat. Layaknya kaum sosialis dengan slogan mereka sama rasa, sama rata. Islam juga mengajarkan ummatnya saling berbagi. Kita juga sebelum berzakat adalah mampu. Kita harus mampu dalam ekonomi baru diwajibkan zakat. Kita diberikan kebebasan untuk memperkaya diri. Sama seperti Kapitalisme, mereka juga saling memperkaya diri. Tapi Islam tetap mengingatkan kita agar peduli terhadap sesama, dan tidak saling menjatuhkan. Secara liberal, Islam sangat menghargai kebebasan dan hak asasi manusia. Islam tidak memaksakan terhadap orang lain. Islam menghargai perbedaan, hanya ummatnya saja yang berada dalam kewajiban. Dalam suatu negara, pemeluk agama lain dapat hidup secara damai dan berdampingan. Islam memandang indahnya perdamaian dan kebersamaan. Islam menghargai hak-hak individu dan tidak ada intervensi di dalamnya. Layaknya Liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan. Tapi masih dalam koridar/jalan Allah. Dapat kita lihat bahwa Islam juga mengandung ideologi-ideologi tersebut. Islam bersifat global dan menyeluruh.
Ada suatu wacana yang menarik, yang pernah saya temukan. Saat Uni Sovyet runtuh, Sayid Al-Khomaini dari Iran, pemimpin spiritual itu sempat menawarkan pilihan kepada Uni Sovyet. Beliau menawarkan untuk memakai ideologi Islam kepada sovyet, karena sosialisme juga terkandung dalam Islam. Memang bukan secara keyaakinaan tetapi tatanan kenergaraan saja. Dari hal itu, kita bisa menyadari Islam adalah sempurna. Mungkin memang kita 'lihat' seperti ketinggalan zaman. Tapi sebenarnya zaman yang ada di bawah Islam. Dengan ijtihad dan pemikiran-pemikiran kita, kita bisa interpretasikan Islam dalam struktur sosial dan kehidupan nyata. Karena dasar-dasar kehidupan sudah ditunjukkan oleh Islam. Sekarang tinggal bagaimana kita menerapkan itu dalam hidup kita.
Pemikiranku ini hanya sempit, semua kebenaran hanya dariNYA. Puji syukur kita masih bisa menikmati indahnya Islam. Kekurangan itu karena kebodohan kita yang belum mengoptimalkan potensi diri. Wallahu'alam bishawab.
Read More
Anda tahu, ada beberapa ideologi di dunia. Ada banyak, namun setidaknya ada 3 ideologi yang berkembang besar di dunia, terutama dipakai negara-negara besar. Sosialisme-Komunisme, Liberal-Kapitalisme dan Islam. Seperti kitas ketahui bersama bahwa sosialisme dan komunisme identik sebagaimana liberal dan kapitalisme. Dari sejarah, kita perhatikan negara-negara besar yang muncul dan 'menguasai' dunia saat itu bersaing dengan ideologi mereka masing-masing. Uni sovyet cs dengan sosialis-komunis serta AS dkk dengan liberal-kapitalis. Ideologi tersebut berkembang di dunia dan berjaya. Tapi kawan tidakkah sadar bahwa Islam juga 'sempat' meraih kejayaan, bahkan kita masih bisa mengetahuinya dari sejarah yang kita baca. Kita yang hidup pada era ini, hanya dapat mengagumi serta meneladani. Kita masih berusaha mengembalikan kejayaan Islam itu, namun hasilnya belum 'tampak'. Kita masih dikurung dengan 'kebodohan' belum mampu memancarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan dan aplikasi nyata.
Islam itu bukan hanya agama, saya menyebut demikian. Islam bukan hanya agama, melainkan tatanan. Islam itu "dien", coba anda cari arti kata tersebut dalam bahasa arab. Dari yang saya pahami, itu adalah tatanan. Agama merupakan keyakinan, tapi Islam lebih luas dari itu. Apakah hanya sebagai keyakinan, dan diri kita tidak berada dalam koridor tatanan. Kita hidup dalam suatu tatanan, entah apa itu tatanan yang anda tafsirkan dan ikuti. Selayaknya Muslim, kita tentunya mengikuti tatanan Islam. Hal ini yang berusaha saya sampaikan. Islam itu ideologi yang sempurna, diturunkan pada Rasulullah untuk memperbaiki ummat. Diwahyukan langsung dari Allah, bukan karangan atau pemikiran manusia. Kita yang berusaha memahami dan menginterpretasikan maksudnya di dunia real dalam koridor Islam.
Sosialisme-Komunisme serta Liberal-Kapitalis memiliki kekurangan karena keterbatasan pikiran manusia. Dapat kita lihat dari resesi global zaman ini maupun pelajaran dari sejarah. Uni Sovyet dengan ideologinya akhirnya runtuh, rapuh dari dalam. Rapuh karena perangkat-perangkat negaranya rusak dalam korup. Negara-negara liberal pun tak se'kokoh' yang kita lihat, setelah resesi global kita lihat 'retak'nya mereka. Banyak perusahaan-perusahaan yang runtuh, karena sistemnya kalut diterpa badai krisis finansial. Tapi luput dari pandangan kita, finansial syariah tetap bertahan. Anda atau saya, tidak menyadari bahwa resesi global itu tidak menghancurkan ekonomi syariah. Pernahkah kita dengar hal itu terjadi? Itu salah satu bukti 'kesempurnaan' ideologi Islam.
Islam memiliki tatanan sendiri, tapi secara implisit terdapat himpunan ideologi-ideologi yang ada diatas. Pernahkah terpikir bahwa Islam itu sosialis, liberalis dan kapitalis secara kondisional. Sebagai contoh adalah zakat, zakat itu seperti sosialis. Kenapa zakat? Kita ummat diwajibkan 'menyisihkan' sebagian dari harta kita untuk sesama yang kekurangan. Zakat juga dipusatkan dalam suatu lembaga atau amil zakat. Ummat diwajibkan 'menyetor' persentase harta mereka dan dikumpulkan terpusat. Layaknya kaum sosialis dengan slogan mereka sama rasa, sama rata. Islam juga mengajarkan ummatnya saling berbagi. Kita juga sebelum berzakat adalah mampu. Kita harus mampu dalam ekonomi baru diwajibkan zakat. Kita diberikan kebebasan untuk memperkaya diri. Sama seperti Kapitalisme, mereka juga saling memperkaya diri. Tapi Islam tetap mengingatkan kita agar peduli terhadap sesama, dan tidak saling menjatuhkan. Secara liberal, Islam sangat menghargai kebebasan dan hak asasi manusia. Islam tidak memaksakan terhadap orang lain. Islam menghargai perbedaan, hanya ummatnya saja yang berada dalam kewajiban. Dalam suatu negara, pemeluk agama lain dapat hidup secara damai dan berdampingan. Islam memandang indahnya perdamaian dan kebersamaan. Islam menghargai hak-hak individu dan tidak ada intervensi di dalamnya. Layaknya Liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan. Tapi masih dalam koridar/jalan Allah. Dapat kita lihat bahwa Islam juga mengandung ideologi-ideologi tersebut. Islam bersifat global dan menyeluruh.
Ada suatu wacana yang menarik, yang pernah saya temukan. Saat Uni Sovyet runtuh, Sayid Al-Khomaini dari Iran, pemimpin spiritual itu sempat menawarkan pilihan kepada Uni Sovyet. Beliau menawarkan untuk memakai ideologi Islam kepada sovyet, karena sosialisme juga terkandung dalam Islam. Memang bukan secara keyaakinaan tetapi tatanan kenergaraan saja. Dari hal itu, kita bisa menyadari Islam adalah sempurna. Mungkin memang kita 'lihat' seperti ketinggalan zaman. Tapi sebenarnya zaman yang ada di bawah Islam. Dengan ijtihad dan pemikiran-pemikiran kita, kita bisa interpretasikan Islam dalam struktur sosial dan kehidupan nyata. Karena dasar-dasar kehidupan sudah ditunjukkan oleh Islam. Sekarang tinggal bagaimana kita menerapkan itu dalam hidup kita.
Pemikiranku ini hanya sempit, semua kebenaran hanya dariNYA. Puji syukur kita masih bisa menikmati indahnya Islam. Kekurangan itu karena kebodohan kita yang belum mengoptimalkan potensi diri. Wallahu'alam bishawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)