Showing posts with label unek. Show all posts
Showing posts with label unek. Show all posts

15/03/2015

Anak Filsafat


Ooh lama tak berdiskusi dalam tulisan, mari mulai lagi. Manusia modern mengalami kesulitan hubungan dengan yang namanya waktu. Benar kata Paman Ali ibn Thalib, waktu adalah pedang. Lebih berbahaya dari ‘waktu adalah uang’nya orang-orang barat. Uang bisa kehilangan yang kita cari kalau kerja katanya, tapi pedang itu bisa membuat pincang yang lain. Dewasa ini saya mulai kehilangan waktu untuk mempertanyakan segala hal. Mungkin kalau yang kenal saya langsung, suka aneh dengan pola pikir saya, kadang-kadang menanyakan kenapa ini dan itu yang dikira tak perlu. Padahal ini mah wajar saja, mempertanyakan segala hal.

Saya belajar sifat itu dari anak kecil, dan saya mengingat lagi masa-masa saya kecil. Anak kecil itu filosof paling hebat. Mereka lebih dalam daripada Om Plato dan Galileo. Galileo menanyakan tata surya, anak kecil juga. Anak kecil bahkan mempertanyakan Tuhan. Mereka selalu menanyakan segala hal, yang kata orang dewasa mungkin buat apa dipertanyakan. Orang-orang dewasa justru terlalu banyak yang belajar filsafat, bukan berfilsafat. Saat kita mengutip tokoh-tokohnya, hapal segala ajarannya, mengerti konsepsi epistemologi, ontologi, definisi, itu belajar filsafat namanya. Saat kita mempertanyakan suatu hal, merumuskan dasar suatu hal, menjelaskan suatu hal, itu berfilsafat. Anak-anak melakukan itu semua, mereka berfilsafat.
Emang filsafat itu penting ?
Manusia dewasa terlalu gengsi untuk menanyakan hal-hal tersebut, takut terlihat bodoh. Padahal kata buku tulis kosong juga “People become fool when they stop asking questions”. Mungkin kita lupa dengan kata-kata di buku tulis itu. Kita tidak terbiasa menulis pemikiran di buku waktu sekolah. Kita terbiasa menghapalkan sesuatu, tidak ada sintesis dalam pelajarannya. Anak-anak justru sebaliknya, berpikir polos. Layaknya buku tulis tersebut yang kosong dan perlu diisi, mereka bertanya. Kita terlalu banyak melewatkan waktu tanpa berpikir, padahal Al-Quran justru menganjurkan kita berfikir, bertafakur, mencari ilmu. Kita fokus ilmu hanya di kurikulum, bangku kuliah dan sekolah. Tidak lagi percaya ilmu kehidupan.

Proses kreatif yang luar biasa bisa ditemui di anak-anak. Suatu proses kreatif mungkin dikenal fase divergen dan konvergen. Orang-orang ‘tua’ / dewasa cenderung berfikir konvergen, terpusat. Tidak ada ide-ide baru, karena sudah pernah mengalami hambatan dan teknik-teknik yang biasa dipakai memecahkan masalah. Namun anak-anak yang ‘muda’, cenderung divergen. Mereka belum mengenal banyak hal, sehingga belum ada kata ‘tetapi’ dalam kamus kreatifnya. Kadang-kadang hal tersebut yang membuat sebuah inovasi hadir. Pola pikir baru dari masalah lama yang kita geser pijakan pandangnya. Lihatlah anak-anak gambar laut warnanya pink, padahal kan biru ? Ah gak juga, justru mereka mempertanyakan konsep warna biru kita itu darimana ?

Duh, tulisan saya kok jadi kaku dan berat gini sekarang. Sudah bukan menulis untuk mendengar perasaan pemikiran lagi ini kalau begitu. Lebih baik disudahi saja, sebelum ini jadi makalah atau esai. Nanti bisa ikut konferensi kalau begitu. Salam :)
Read More

28/11/2014

Sibuk Nyantai


Problematika manusia abad ini adalah banyak yang dikerjakan, tapi waktu kurang. Hidup tak cukup 24x7, sudah perlu lapor RT kalau lebih dari itu. Sibuk katanya, sibuk bekerja, sibuk mengurus organisasi, sibuk kuliah, sibuk lain-lain. Ada orang kerja, lupa makan. Ada juga yang makan, lupa kerja. Itu saking sibuknya. Bayangkan Anda lagi sibuk-sibuknya kerja mengejar karir, lupa anak sudah gede saja. Berangkat pagi dari Bekasi ke Jakarta, pulang-pulang anak sudah mau S3.

Diantara kesibukan tersebut, saya pernah memiliki pengalaman yang paling sibuk. Pengalaman sewaktu dari zaman TA yang terkulminasi dalam rentetan memori kognitif meluruh seiring waktu *(halah bahasamu nak). Lazim dijumpai pada mahasiswa semester ‘yang tak perlu disebut angkanya’, ketidakjelasan sedang mengerjakan apa. Dibilang sibuk, tapi TA tak beres. Dibilang tidak sibuk, tapi katanya lagi ngerjain TA. Sebuah anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh pihak LIPI sewaktu saya konfirmasikan melalui M*tro TV atau TV On* yang kontradiktif. Ternyata stasiun TV ini memiliki standar kebenaran fakta yang berbeda. Mungkin mahasiswa tersebut sibuk mengerjakan hal lain, tapi apa ?

Hasilnya saya simpulkan, bahwa perilaku tersebut diakibatkan fenomena ‘sibuk nyantai’. Loh, nyantai kok sibuk ? Siapa bilang nyantai itu gak ada kerjaan ? Sesungguhnya dalam fasa santai itu terdapat kesibukan luar biasa nyata. Saat Anda santai, pikiran Anda tak berhenti bergerak menerawang, melamun, memikirkan fluktuasi ekonomi serta harga minyak dunia. Semata-mata menimbang berapa kenaikan beli nasi timbel di warung Bu Tatang. Saat Anda santai, Anda bisa saja main game sambil sms-an ke doi, sambil cek Facebook, sambil dengar musik, sambil makan. Bayangkan multi tasking yang Anda lakukan, sungguh diperlukan pembagian fokus yang handal.

Santai itu waktu istirahat, tapi justru lebih ‘produktif’. Bisa melakukan banyak hal, makanya santai itu juga sibuk. Saya pernah saking sibuknya santai menamatkan kitab Mahabharata dalam sehari, tidak perlu nunggu hari minggu marathon drama di A*TV. Padahal sambil TA harusnya. Prinsip pareto 80/20 ini juga berlaku pada sibuk santai. Kesibukan utama kita yang 80% itu justru kalah manfaatnya dibanding sibuk santai yang 20%. Alokasi 20% waktu itu malah membuat eskalasi pikiran yang luar biasa. Kadang-kadang, sibuk nyantai ini juga bersamaan dengan bentroknya jadwal, bentrok sama malas. Akhirnya jadwal yang lain harus mengalah.

Saya akhirnya tidak merasa ‘sibuk nyantai’ ini buruk, justru saya jadikan prinsip hidup. Disela-sela kesibukan, masih bisa Anda bawa santai. Disela-sela santai, Anda masih bisa produktif. Banyak contoh orang yang sibuk katanya, malah dia stress. Tak perlulah hal itu bray, bawa santai saja. Badai kesibukan pasti berlalu, tinggal kapal kalian hancur karena layar yang tegang atau bertahan dengan melonggar dan tahan goncangan. Jadi kalau ditanya sekarang sibuk apa ? Jawab ‘saya sibuk nyantai’. Salam sehat !
Read More

18/01/2014

Jodohnya Pedofil


Hari ini malam minggu, bukan sabtu malam. Katanya malam-malam seperti ini banyak pemuda-pemudi melakukan perjalanan malam, berburu rindu. Bagi umur-umur yang masuk kualifikasi dalam tim U-23 ini merupakan fenomena 'gejolak darah muda'. Biasanya mereka mengekspresikan malam minggu, jalan-jalan 'bersama'. Ya, melakukan yang dalam hal konvensi umat manusia bersama disebut 'pacaran'. Pada malam minggu ini, lampu merah adalah kawan. Saat waktu-waktu biasa kita ingin secepatnya lolos dari lampu merah, malam minggu membuat kita ingin berlama-lama dalam lampu merah (bagi yang punya pacar). Maka wajar saja jalanan macet, mereka berpasangan bersama bercengkerama dibawah naungan lampu merah, untuk sekedar menghabiskan waktu lebih lama, tidak ingin lekas berakhir kebersamaan ini (edyan, aing nulis apa ini).

Sudahlah, ada hal ini yang menarik bagi saya. Pacaran itu dari umur anak SD-SMA juga sudah mewabah. Temen sekelas, temen sekolah lain, temen kenal dimana juga bisa jadi pacar. Saya gak akan bahas mengenai pacaran itu baik atau buruk, boleh atau gak dalam agama. Saya gak punya kualifikasi buat hal itu. Cuma mau bilang aja, pacaran itu tujuannya untuk putus. Putus entah berpisah atau berubah derajat status hubungan katanya. Jadi mending gak usah pacaran, biar menyingkat proses saja. Tetapi bisa saja pacaran itu 'seumur hidup'.

Saya mau bahas mengenai fenomena pacarannya hingga peningkatan statusnya ya. Coba deh ya kita simak bersama. Pacaran ini biasanya umumnya seumuran, nah terus paling ya beda-beda plus minus 3 tahun lah, karena ukurannya satu sekolahan / kampus. Tetapi mudah kita temui pasangan suami-istri berbeda usia 7-9 tahun, bahkan lebih. Mungkin bisa kita lihat contoh orang-orang tua dari kita. Mereka tidak ada masalah dengan perbedaan usia tersebut. Namun bila kita tarik konteksnya ke dalam kerangka waktu anak SMA yang pacaran. Hal ini sangat aneh..haha. Bayangkan kamu lelaki kelas 3 SMA, punya pacar berbeda 7 tahun, berarti pacarmu itu masih kelas 4 SD. Bayangkan kamu mahasiswa tahun ke-4, pacarmu berarti masih SMA kelas 1. WOW !

Jadi bagi yang sekarang sedang pacaran, bayangkan kalau jodohmu itu berbeda usia cukup jauh nanti...hehe.
Read More

01/05/2013

Ukuran Kemaluan

Sumpah, ini bukan tulisan porno, ini tulisan yang senonoh. Saya tidak sedang ingin membicarakan mengenai besarnya atau lebatnya area di antara perut dan lutut. Tapi saya sedang gelisah, berita media massa saat ini ramai oleh hal-hal yang itu-itu saja, tokoh yang itu-itu saja. Eyang Subur, twitter SBY, pendaftaran caleg, pemerkosaan, pencurian, pembunuhan dan yang paling dahsyat KORUPSI, kalau Anda membaca ini sedang hidup di era 2013an. Seakan berita ini sering menghias layar komputer, maklum layar kaca memang isinya ini semua. Nyalain TV, beritanya kalau gak pemerkosa, pencuri, orang bunuh diri, penipuan, pembunuhan, korupsi. Capek lihat dan mendengar berita itu-itu lagi, mending setel Stand Up Comedy, siaran bola saja.

Ambil contoh korupsi saja deh. Orang kok ya tega-teganya korupsi ya, enak ya ? Enggak tahu, semoga gak nyoba. Kalau enak kan keterusan katanya. Itu duit negara dan duit rakyat, kok semena-mena diambil seakan milik sendiri. Itu milik orang banyak, kok digunakan buat beli barang pribadi. Itu pasti orang yang gak punya muka. Setelah tersangka juga, masih bisa berlagak. Setelah terdakwa juga, masih bisa melempar senyum. Setelah dipidana juga, masih saja merasa jumawa. Tapi tak apa, toh dengan adanya persidangan akhirnya banyak kita melihat taubat dadakan. Ya, nampaknya meja persidangan itu lebih menyadarkan daripada pesantren kita. Yang laki, pakai peci, yang wanita pakai kerudung, di meja persidangan. Sambil memutar tasbih kalau perlu juga, untung tidak sambil bawa sajadah. Itu kalau mau sujud ke hakim, tapi kalau 'menjilat' Tuhan ya tak apa lah.

Lalu pada ribut daftar cagub, cabup, cawalkot, caleg, anggota DPRD, DPR, DPD, DLL yang gak saya peduli. Mereka diantaranya ada yang sudah kena kasus, ada yang sudah tersangka. Kok masih berani-beraninya nyalonkan diri. Kita lagi, kok masih mau-maunya saja memilih mereka. Sebagian diantara mereka memang ada yang tokoh masyarakat, ada yang ditokoh-tokohkan, ada juga yang menokohkan dirinya sendiri. Kita melihat setiap hari wajah 'tokoh' penuh di jalanan, di gedung gedung. Tapi tidak hadir dalam kehidupan dan kenegaraan kita. 'Tokoh' tersebut hanya menggantung statis saja, bahkan cuma ada di baju yang dipakai kain lap. Mereka sibuk buat promosi, sedangkan disini bingung cari nasi. Mereka sibuk mencari posisi, sedangkan disini silakan bunuh diri. Saat mendapat posisi, malah mensyukuri. Padahal harusnya sedih, dia bertanggung jawab pada rakyat banyak. Mereka yang jadi 'wakil rakyat' malah bangga, padahal rakyat itu diatas mereka kan harusnya ? Ketua itu lebih tinggi dari wakil ketua kan ? Ya setidaknya mereka sudah me'wakil'kan kehidupan rakyat yang harusnya sejahtera, makan enak, tidur nyenyak, buang air besar nyaman di jamban.

Masih ada banyak sudut fenomena hidup yang bisa kita selidiki lagi, itupun kalau Anda mau. Tapi yang saya lihat, semua ini adalah fenomena imunitas akan rasa malu yang sungguh besar. Orang tidak malu lagi, mengumbar janji, berjual beli kebohongan. Tapi kok malah malu untuk meminta maaf dan mengakui kebodohan kesalahan? Menurut saya ini merupakan gejala pembesaran 'ukuran kemaluan' seseorang. Orang menjadi tidak mudah malu, karena kadar menampung malu sudah semakin besar seiring 'ukuran kemaluan'nya. Bisa jadi malah 'kemaluan' itu hilang, sehingga malu tak perlu ditampung dan disadari, cukup dibuang saja. Padahal kalau normal, dengan kadar malu yang kecil saja sudah cukup berat untuk ditanggungnya. Semoga kita dihindarkan dari sifat seperti itu. Mereka yang dengan 'ukuran kemaluan'nya harusnya sadar dan malu, bukan malah bangga. Bisa saja mungkin ada gejala gangguan saluran 'kemaluan', hingga mereka tidak dengan tegas mengakui rasa malu, karena sudah banyak mengandung kemih 'malu'.

Bandung, saat hari buruh sedunia di era kepemimpinan SBY -1 tahun lagi. Malam yang harus banyak mengerjakan tapi malah banyak bacaan.
Read More

Baik Itu Tidak Sendiri

Oke singkat saja tulisan ini, saya mencoba untuk menulis yang sedikit filsafat. Kalau mau baca, jangan bergerak ya. Kiranya orang-orang suka dengan kata 'baik'. Kalau dia disebut orang baik, maka senang sekali. Kalau kerjaan dia disebut baik, maka dia juga senang dua kali. Tetapi baik itu ternyata tidak 'baik' sepenuhnya. Baiklah akan saya coba jelaskan baik itu sebaiknya apa.

Makan nasi itu baik, memberi tenaga pada tubuh. Tapi tidak baik, bagi orang terkena gula darah. Minum air putih itu baik, tapi kalau minum langsung 2 liter juga itu tidak baik. Membantu menolong orang mengangkut barang itu baik. Tapi tidak baik, kalau yang diangkut itu barang curian. Seseorang menembak orang dari jarak 1Km, itu menandakan dia penembak yang baik, tapi tidak menjadikan dirinya orang yang 'baik'. Sesuatu hal baik itu tidak sendirinya akan menjadi kebaikan. Dia membutuhkan syarat dan prasyarat, agar menjadi 'baik'.

Baik, sudah tahu arahnya kan. Jangan silau akan ke'baik'an atau hal-hal baik, itu mungkin saja tidak baik. Seperti umumnya orang-orang yang menunjukkan sisi baik saat pacaran dan setelahnya baru sadar orangnya tidak baik seperti yang ditunjukkan. Itulah kebaikan, itu tidak berdiri sendiri. Ada yang menemani, entah itu pamrih atau ikhlas, atau yang lainnya :) .

Kebetulan saya bisa menulis ini, bisa jadi ini bukan kebenaran. Meskipun kata dasarnya 'mirip'.
Read More

25/04/2013

Fragmentasi Sosial dan Cinta Terkuantifikasi

Waduh, judulnya ini berat. Ya berat, penat menelan filsafat pada jam hampir 11 malam lewat. Saya menulis ini dengan rasa takut akan dimarahi nanti oleh Eyang Descartes atau Om Newton. Ya, mereka tokoh ilmuwan yang mengubah dunia dan pola pandangnya, yang memajukan teknologi. Sains berkembang dan membawa kemajuan teknologi namun tidak menyentuh aspek moral, membuat teknologi hanya menjadi bahaya. Pakde Thomas Kuhn dulu sempat mengatakan bahwa ada hal paling mendasar dalam berpikir ilmiah. Berpikir ilmiah tidak serta merta berpikir sistematis, teoritis dan berdasarkan eksperimen positivis. Berpikir ilmiah itu dilandasi oleh sebuah paradigma, paradigma yang mengarahkan hasil dari proses berpikir tersebut.

Masa ini dengan gemerlap teknologi, menyimpan luka moral pada umat manusia. Paradigma Cartesian-Newtonian yang menjadi dasar adalah terlalu Sistematis dan Materialistis. Semua hal harus dapat diukur dan harus dapat dijelaskan secara 'ilmiah', secara eksak dan riil. Padahal manusia memiliki dimensi immaterial yang tak dapat diraba indera, seperti cinta dan realita spiritual. Mereka menanamkan kemajuan zaman dengan degradasi sosial yang memberi jarak antar manusia dengan alam, Tuhan dan lingkungan sosialnya. Kemajuan sains telah membawa dampak krisis dan kritik pada sudut-sudut tertentu.

Paradigma sains mengembangkan teknologi ditujukan untuk kemajuan materi dan menguasai lain-lain dengan militer. Teknologi berlomba membuat senjata untuk saling menaklukkan dan sudah kita lihat dari 2 episode perang dunia yang mungkin menjadi trilogi akhir-akhir ini. Kemajuan teknologi mempusatkan hanya pada manusia (antroposentrik) dan menempatkan alam sebagai objek. Alam yang dieksploitasi, tidak dijaga keseimbangannya, hanya berpikir materi. Lingkungan adalah lahan garapan materi duniawi. Kita kehilangan kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai manusia sosial. Teknologi memisahkan lingkaran sosial terdekat kita dan mendekatkan realita fana sosial melalui layar sekian inci. Kita tercerabut dari kesadaran nyata ke alam maya. Manusia sebagai makhluk individu kehilangan kemerdekaannya sebagai manusia multidimensional. Dimensi spiritual harus dapat dijabarkan dalam kumpulan fakta dan notasi matematika. Tuhan kita tiadakan atau tak kita akui keberadaannya, kalau kata Mas Nietzche mah Tuhan sudah mati. Lompatan rasa dan emosional dicari titik ilmiahnya untuk direkayasa. Tuhan jadi hal profan yang tidak mesti kita perjuangkan akhirnya.

Modernisasi seharusnya tidak hanya menyangkut kecerdasan, tetapi juga kebijaksanaan. Modernisasi ekonomi hanya menyalahi fungsi uang sebagai alat tukar menjadi komoditi. Uang dijual belikan, berorientasi materi, melupakan keseimbangan aliran barang riil dan nilai sebagai alat tukar. Modernisasi dunia pertanian, malah membuat kita lupa cara mengolah tanah dengan bijak. Kimiawi dan pestisida, mencari untung cepat dan meninggalkan lahan mati kemudian hari. Saat ini kita hidup dalam fragmen-fragmen sosial yang berjauhan. Amati orang-orang yang duduk di kursi tunggu atau suatu ruangan, 3 dari 4 orang pasti akan terpaku pada layar sekian inci. Interaksi sosial berlangsung maya, nyata depan mata hanya angin lalu. Kita hidup dimana rasa dan cinta harus terkuantifikasi. Kau harus memiliki alasan transaksi sosial untuk mencintai dan dicintai. "Aku cinta kau, karena ... . Maka kau harus memberiku ... ." Cinta harus memiliki ukuran. Dia kehilangan kebebasannya sebagai entitas rasa manusia, esensi manusianya dikalahkan eksistensi materi dan kita terjebak angka.

Mari ubah pola pikir kita yang berpaku pada materi dan duniawi. Manusia memiliki dimensi immaterial dan relasi dengan alam, lingkungan sekitar. Berpikirlah secara menyeluruh (holistik), bukan terkurung diri sendiri. Masih ada waktu, mungkin bukan untuk kita. Tapi 10-20 tahun lagi, anak-anak kita mewarisi peradaban yang kita akan tinggalkan. Greeting, human !

"And medicine, law, business, engineering, these are noble pursuits and necessary to sustain life. But poetry, beauty, romance, love, these are what we stay alive for" - Whitman
Read More

23/02/2013

Paradigma dan Berdebat

Tetiba saya ini terpikirkan mengenai paradigma dan berdebat, setelah beberapa hari lalu dalam kuliah 'Filsafat Ilmu' presentasi Sistematika Sains, mengenai paradigma. Perhatian sebelumnya, tulisan ini mungkin akan sedikit berat dibanding tulisan saya yang lain. Oke, saya coba definisikan dulu apa itu paradigma. Paradigma, dalam arti bahasa inggris berarti kerangka berpikir, dalam etimologis dari Yunani para(disamping) dan deigma(model), saya tak mengerti itu apa. Paradigma dimaksud berarti, "Model teori ilmu pengetahuan atau kerangka berpikir". Jadi paradigma itu adalah hal yang menjadi acuan dalam orang berpikir mengenai sesuatu. Paradigma adalah 'kepercayaan' yang membimbing seseorang memandang suatu hal di dunianya, secara fundamental. Bila seseorang memiliki paradigma tertentu pada benda A, maka seluruh arah gerak terhadap eksplorasi dan komentar terhadap benda A itu akan sejalan dengan paradigma yang dia anut. Paradigma berbeda dengan sudut pandang menurut saya. Sudut pandang adalah mengambil posisi atas suatu tafsiran, sedangkan paradigma adalah arah pikir terhadap suatu hal.

"Suatu pandangan dunia, suatu cara pandang umum, atau suatu cara untuk menguraikan kompleksitas dunia nyata" - Patton(1975)
Thomas Kuhn, seorang tokoh yang mempelopori mengenai paradigma ilmu, berpendapat bahwa paradigma berarti keselurahan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik yang dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ilmiah tertentu. Di pihak lain paradigma menunjukkan sejenis unsur pemecahan teka-teki yang konkrit yang jika digunakan sebagai model, pola atau contoh dapat menggantikan kaidah-kaidah yang secara eksplisit sebagai atau menjadi dasar bagi pemecahan permasalahan dan teka-teki normal sains yang belum tuntas. Kuhn lebih mengarahkan pendapat mengenai paradigma dalam hal ilmu. Menurut Kuhn, ilmu pengetahuan itu berkembang secara revolusioner, tidak secara kumulatif. Hal ini lebih dikenal dengan istilah "Revolution Science" atau "Shift Paradigm". Contohnya, dahulu orang berpikir dengan mengacu pada mekanika Newton untuk segala hal dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi pada masa ini paradigma tersebut tidak cocok. Karena ternyata Mekanika Kuantum dari Einstein, lebih dapat menjelaskan mekanika yang ditemukan pada dunia modern. Sehingga pola pikir Kuantum menggeser Newtonian. Perubahan ini terjadi secara radikal, seperti orang yang memeluk 'agama' tertentu.

Implikasi dari adanya 'paradigma' ini diantaranya suatu paradigma hanya cocok dan sesuai untuk permasalahan yang ada pada saat tertentu saja. Karena ilmu pengetahuan selalu berkembang, maka tidak ada paradigma yang sempurna dan terbebas dari kelainan-kelainan (anomali), sebagai konsekuensinya ilmu harus mengandung suatu cara untuk mendobrak keluar dari satu paradigma ke paradigma lain yang lebih baik, inilah fungsi revolusi tersebut. Ini tentu saja dalam konteks ilmu pengetahuan dunia, saya tak akan membahas paradigma ketuhanan dan agama pada bahasan ini. Nah, perubahan paradigma ini biasanya terjadi dalam perdebatan. Saya akan kemukakan bagaimana teknik per'debat'an menurut saya yang baik, dengan paradigma masing-masing.

Dalam perdebatan seringkali terjadi debat kusir, tiada akhir. Ya memang begitu, karena orang yang berdebat memiliki paradigma yang berbeda. Hal yang mubazir bila kita amati debat tersebut, karena tentu saja hasilnya adalah nihil. Orang-orang tersebut akan tetap berpikir dengan paradigma masing-masing. Hal ini yang sering saya temukan. Padahal dalam berdebat, intinya bukan untuk meyakinkan lawan debat kita. Saya tak suka berdebat secara tertutup, karena buat apa men'debat'i pemikiran orang yang sudah ajeg. Per'debat'an seharusnya dilakukan secara terbuka, karena suatu paradigma itu harus berkembang secara revolusioner, bila banyak orang yang awalnya 'menonton' akan memilih suatu paradigma. Jadi per'debat'an harus bersifat terbuka, karena sasarannya bukan lawan debat kita, tetapi penonton debat.

Ibaratnya kita 'debat' mengenai es krim. Saya suka rasa coklat, dia suka vanilla. Hal yang saya lakukan bukan memaksa dia suka rasa coklat. Tetapi menunjukkan ke penonton lain, bahwa ada es krim dengan rasa coklat dan vanilla. Silakan bebas ambil rasa apapun, tetapi rasa coklat itu begini, begitu, vanilla ini begini, begitu. Dalam debat, yang kita lakukan bukan meyakinkan orang suka vanilla dengan rasa coklat, tapi memberikan opsi dengan menjelaskan kelebihan coklat dibanding vanilla, kepada penonton. Karena buat apa berdebat dengan orang yang suka vanilla, debatlah orang yang belum memiliki 'paradigma'. Memang mereka belum memiliki paradigma ? Selama objek es krim tersebut bukan menjadi hal penting bagi mereka, mereka bisa dianggap belum memiliki paradigma. Menurut Kuhn, disebut dengan 'Pra-Science & Pra-Paradigm'. Hal ini yang jarang saya lihat dalam debat. Dalam debat selalu saja ingin mengalahkan lawan debat, padahal menurut saya bukan itu. Dalam debat, hal paling penting adalah memiliki per'setuju'an dari penonton lain mengenai tafsiran suatu hal. Paradigma menetapkan kriteria untuk memilih masalah yang dapat diasumsikan mempunyai solusi. Jadi itu hanyalah sebuah asumsi, asumsi agar menjadi 'kebenaran' perlu disetujui orang banyak.

Maka daripada itu, saya sering menghindari debat tertutup. Misal diajak diskusi debat oleh seseorang mengenai suatu hal, saya biasanya hindari. Karena percuma, kecuali bila debat secara terbuka. Karena tujuan debat saya, bukan mengubah paradigma dia. Tapi menawarkan paradigma pada 'mereka'. Hal ini baru saya sadari sebagai teknik mengubah paradigma, setelah mempelajari paradigma ilmu Kuhn. Sebelumnya saya hanya berpikir bagaimana mengambil sudut pandang dan meluaskan pandangan pada orang sekitar.

Sudah ah sekian berpendapat mengenai paradigma dan perdebatan. Saya pusing sendiri menulis seperti ini, karena impulsif. Sekian.
Read More

07/07/2010

Apakah sebatas judi legal ?

Tulisan ini belum 'matang', hanya sekedar unek-unekku saja.

Judi mau dilegalisasi? Wah, makin asyik saja negaraku ini. Sungguh banyak sekali pemandangan per'debat'an di negeriku ini. Ada yang pro, tapi banyak juga yang kontra. Bagaimana dengan Anda? Ada yang berkata kita ini bangsa timur, kebudayaan kita tidak cocok. Kita ini memiliki undang-undang, bahkan pak polisi pun bergerilya untuk memberantas judi, kok sekarang mau dilegalisasi. Tapi ada juga yang berpendapat, bahwa itu devisa negara. Daripada di'telikung' oleh oknum-oknum, lebih baik dilegalisasi biar masuk 'kas' negara. Lebih baik diorganisir, biar lebih 'rapih'. Lalu yang strata ekonomi 'bawah' dilarang judi, hanya yang 'atas' saja. Banyak pendapat yang berkembang.

Wah rame juga ini. Bila dilihat dari undang-undang kita, kita bisa saja mengubah ini. Karena undang-undang kita memang mudah diubah. Mau judi dilegalkan, esok hari pun bisa saja free sex benar-benar dibebaskan. Bila kita lihat dari sudut devisa, berapa besar sih devisa dari judi? Pajak kita sekitar 860 triliun, dan itu belum habis. Mungkin juga sudah di'habis'i oleh yang ber'hak'. Itu semua dari rakyat, dan tidak perlu judi pun sudah lebih dari cukup harusnya. Lalu apa bisa terjaga legalisasi judi ini, tidak merembes pada komunitas umum masyarakat? Bila didekati dari sudut pandang agama, agama mana yang membolehkan berjudi? Lalu misalnya tidak perlu dilegalisasi, dana pembangunan kita juga mungkin dari hal yang haram itu. Mungkin lho..?! Memang secara realitas judi sudah marak di lingkungan kita, polisi pun gencar memberantasnya. Lalu walaupun kita berketuhanan Yang Maha Esa, berasas Pancasila. Masih ada warga negara yang beragama melakukan judi. Padahal katanya tidak ada agama yang memperbolehkan judi. Nah pusing juga kan, saya juga aneh dengan negeri saya.

Jikalau boleh saya memberi masukan, lebih baik kita kembalikan pada masing-masing individu. Tiap-tiap individu berhak untuk menjaga dirinya, atau menentukan pilihannya. Ada suatu nasihat bahwa "Jangan kasih anakmu sesuap nasi yang tidak pasti halal". Selalu perhatikanlah, apakah ada makananan atau minuman yang tidak pasti halalnya. Jangan samapai ada yang haram masuk mulutnya, lalu dicerna dan diurai menjadi zat-zat diproses dalam metabolisme. Kemudian masuk dalam darah, kemudian dia mengalir. Lalu darah itu menentukan denyut jantung, kinerja otak, seluruh kerjanya urat syaraf. Menentukan dialektikanya dengan segala getaran elektromagnetik di kepalanya. Sehingga kalau ada unsur haram dalam dirinya, maka akan membuat akumulatif mudharat dalam dirinya.

Kalau dirutin, susah banget ya menjaga sesuatu yang halal. Sama saja dengan negara ini, kita tidak bisa memastikan apa halal dana yang dipakai buat membangunnya. Kalau tak sengaja perputaran itu masuk dalam diri kita, padahal kita tidak bermaksud untuk hal itu. Maka tak sengaja pula kita me'makan' yang haram. Jadi sebagai manusia, Tuhan telah memberikan metode bagi kita semacam netralisatornya. Bagi yang Islam ya istighfar selalu mohon ampun pada Allah. Maka mungkin saja menurut saya negeri ini sulit untuk maju. Terlalu banyak hal-hal haram yang kita tidak sadar masuk dalam tubuh warga negaranya. Dan mereka pun tidak sadar untuk segera memohon ampun pada Tuhan.

Ya Allah, sungguh ruwet saya melihat fenomena ini. Semoga Kau tidak marah, karena kami masih belajar mendewasakan diri.
Read More